Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Remaja dan Masa Depan Bangsa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Februari 2020 16:35 4:35 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Februari 2020 16:35
Bagikan
Remaja mengunjungi salah stan penjualan mushaf Al-Qur'an di arena IBF 2019, JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (03/03/2019). IBF 2019 berlangsung pada Rabu (27/02/2019) hingga Ahad (03/03/2019).
Bagikan

AKHIR pekan lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara Nyore-Nyore Nyante yang digelar oleh Pemuda Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah (08/02/2020).

Tema yang diulas terbilang cukup ringan bagi kita, namun hal penting bagi kaum remaja, yakni bagaimana lepas dari galau dan hidup bahagia selamanya.

Galau memang term yang cukup ringan diucapkan, namun ini adalah ulasan yang tak pernah lepas dari kehidupan remaja itu sendiri. Wajar karena remaja era kini berhadapan dengan beragam tantangan, pada saat yang sama sumber-sumber pembelajaran yang “mendewasakan” makin sulit mereka dapatkan.

Akibatnya remaja saat ini, sebagian besar hidup dengan panduan tren, mulai dari pakaian, kebiasaan, bahkan hingga gaya hidup.

Tidak punya pacar bagi remaja bisa dianggap masalah, sedangkan tidak memiliki keahlian tidak begitu mereka risaukan. Inilah sekilas kondisi sebagian besar remaja saat ini.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Tentu saja harus ada pihak yang secara sadar dan berkelanjutan memberikan perhatian mereka, selain dari apa yang mereka peroleh secara formal dalam dunia pendiidkan (sekolah). Sebab, disadari atau tidak, masa depan umat, bangsa, dan negara ini ada di pundak mereka.

Pakar parenting Indonesia, Fauzil Adhim dalam artikel yang berjudul “Agar Remaja Tak Kehilangan Arah” menegaskan bahwa remaja adalah masa yang amat menentukan.

“Jika anak-anak kita memasuki ini dengan arah yang jelas, sikap yang baik, komitmen yang kuat dan bekal yang mencukupi, masa remaja merupakan puncak kebaikan. Mereka menjadi sosok idealis yang berkobar-kobar semangatnya, tidak mudah terpengaruh dan tidak mudah pula ikut-ikutan. Mereka menjadi pemuda alias syabab (الشَّبَابُ) yang matang dan siap menunaikan taklif (bebanan syari’at) dari agama ini.”

Artinya, jangan sampai remaja kita terabaikan, sebab resikonya sangat besar. Mereka akan kehilangan kemampuan sampai pada puncak kebaikan. Jiwanya rapuh, idealismenya hangus, dan mereka akan seperti buih di lautan, terombang-ambing keadaan.

Lantas bagaimana kita membina, mengarahkan, dan membimbing kaum remaja menjadi kekuatan terbaik bangsa dan negara?

Pertama, peran keluarga. Keluarga di era sekarang memang tidak sedikit yang berupaya menyusuri jalan-jalan kebaikan yang diteladankan oleh Nabi Muhammad. Akan tetapi juga masih banyak yang menjalani kehidupan keluarga asal saja. Asal anak sekolah cukup. Asal anak bisa keterampilan ini dan itu cukup. Tetapi bagaimana aqidah, ibadah, dan akhlak, biarkan saja berjalan seiring pergerakan waktu.

Hal ini tentu saja tidak sekadar butuh penjelasan dari orangtua namun lebih jauh adalah tindakan dan keteladanan. Di masa Nabi Muhammad para remaja mendapatkan sumber pembelajaran yang demikian (aqidah, ibadah, dan akhlak) sehingga muncul kesadaran dalam jiwa mereka cita-cita mulia, etos keilmuan, dan semangat menjadi pribadi yang bermanfaat.

Sebagai contoh, Zaid bin Tsabit dipercaya oleh Nabi untuk belajar bahasa kaum Yahudi. Karena aqidah dan ibadah yang baik, ditambah akhlak yang baik, menjadikan Zaid butuh waktu hanya 14 hari untuk menguasai bahasa Yahudi.

Fakta akan hal ini terus berlanjut sampai pada masa ulama-ulama, seperti Imam Syafi’i dan sebagainya yang sejak belia memang bagus aqidah, ibadah, dan akhlaknya, sehingga berprestasi bagi mereka hanya efek otomatis belaka, bukan tujuan yang dibangga-banggakan.

Kedua, peran organisasi kepemudaan. Organisasi kepemudaan, lebih-lebih pelajar dan kemahasiswaan harus punya konsen tinggi untuk membentengi remaja Indonesia dari pengaruh destruktif budaya global dan perilaku kontraproduktif dari beragam kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.

Jika tidak, maka secara sosial, remaja kita kehilangan figur, dan mereka akan menjalani hidup sebagaimana yang mereka sukai baik dari tontonan maupun kenyataan remaja pada umumnya. Akibatnya jangankan mau berprestasi, disiplin dalam hal yang mereka butuhkan pun akan sangat mereka jauhi.

Di sini organisasi kepemudaan harus mulai memikirkan konsep, rencana kerja, dan inovasi untuk menggaet remaja tertarik dan gembira dalam menempa diri menjadi pribadi yang siap memikul tanggung jawab masa depan bangsa dan negara.

Ketiga, peran pemerintah. Peran yang tak kalah strategis adalah pemerintah itu sendiiri. Karena bagaimanapun kebijakan pemerintah akan menjadi pemantik dan pemacu perubahan keadaan remaja saat ini.

Penting dipahami bahwa ketika pemerintah abai terhadap kondisi remaja maka hal itu akan berdampak buruk terhadap pembagunan secara utuh dan menyeluruh di masa mendatang. Dan, hal ini kemungkinannya akan jauh dari kebijakan pemerintah, ketika sadar dan komitmen dengan ungkapan Presiden Soekarno bahwa 10 pemuda bisa mengguncang dunia.

Kebijakan seperti apa yang harus dikeluarkan oleh pemerintah agar remaja kita siap memikul masa depan bangsa?

Pertama, kebijakan yang mendorong setiap pemerintah daerah tingkat dua di seluruh Indonesia mewajibkan remaja gemar belajar. Kedua, mendorong dunia pers untuk menerbitkan rubrik-rubrik edukatif yang merangsang kaum muda terbuka wawasannya dan mau berprestasi. Ketiga, mewajibkan sekolah untuk memasukkan nilai-nilai akhlak dalam kurikulum, sehingga penilaian pendidikan tak sebatas kognisi tetapi juga akhlak, syukur bisa sampai pada tahap aqidah dan ibadah.

Jika hal ini bisa segera disadari dan menjadi headline berbagai pihak, insya Allah dalam tempo 3 hingga 5 tahun mendatang, wajah remaja Indonesia akan berubah menjadi lebih baik dan itu pertanda masa depan Indonesia akan semakin cerah. Dan, langkah ini strategis dan mendesak jika mengigat tidak lama lagi Indonesia akan memasuki era puncak bonus demografi.*

Imam | Aktivis Pemuda

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:generasi IslamPemudapemuda HidayatullahremajaZaid bin Tsabit
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengenang 101 Tahun Wafatnya Sultan Abdul Hamid II
Tulisan selanjutnya DPR: Mestinya Ada Stok 133.000 Ton Bawang Putih, Kok Harganya Naik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?