Hidayatullah.com — Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun mengatakan bahwa suasana takut untuk mengkritik karena dirasa terancam dipolisikan memang benar adanya. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi di Mata Najwa dengan tema Kritik Tanpa Intrik, Rabu (17/02/2021) malam.
“Kalau saya lihat suasana takut mengkritik dipolisikan, dilaporkan memang ada terasa. Ketika kita mengambil posisi untuk kritis terhadap kekuasaan,”kata Refly seperti dikutip Hidayatullah.com dari kanal Youtube Mata Najwa, Kamis (18/02/2021).
Lebih lanjut, Refly membantah anggapan yang menyebut dirinya tidak pernah dilaporkan ke aparat meski sering kali mengkritik kinerja Pemerintahan.
“Saya dibilang Pak Mahfud MD kritik terus, tapi tidak diapa-apain. Siapa bilang? Kan saya sudah dilaporkan juga,”ujarnya.
Menurut Refly Harun, pelaporan itu kerap terjadi disebabkan oleh dua hal. Salah satu diantaranya adalah pasal-pasal karet yang ada di UU ITE. Ia menjelaskan, penafsiran pasal karet bisa bermacam-macam dan pelaporannya bisa terbolak-balik.
“Pangkalnya ada dua. Pertama di UU ITE yang terlalu ngaret, bisa ditafiskan macam-macam. Kita gak bisa bedakan mana itu penghinaan, ujaran kebencian, kritik. Begitu orang mengadu dengan penghinaan, ditandem dengan ujaran kebencian. Padahal itu ancaman hukuman berbeda,” jelas Refly.
Adapun penyebab kedua terang Refly terkait subjek penegak hukum yang memungkinkan munculnya anasir lain. “Kedua (pangkalnya) adalah objek atau subjek penegak hukum. Di sini bisa muncul anasir lain, kalau sponsor misal lebih cepat,”bebernya.
Selain itu, Refly turut menyinggung beberapa kasus yang pernah sudah terjadi, Misalnya Haikal Hassan yang dilaporkan karena mimpi dan polemik almarhum Ustadz Maaher.
“Ada orang bermimpi, kalau Babe Haikal Hassan ditersangkakan mungkin kita akan menjadi negara paling aneh di dunia,” tukasnya.
“Ustadz Maaher meninggal di tahanan, kasusnya tidak berat amat. Ulama (yang disinggung) tidak mengadukan, yang mengadukan orang lain yang tidak ada kaitan apa-apa. Tidak hanya diproses, ditahan, akhirnya meninggal,” sambung Refly memaparkan.
Diakhir, Refly menyampaikan perihal suasana takut mengkritik menurutnya, hal itu secara tidak langsung sudah dikonfirmasi oleh Presiden Jokowi.
“Nuansa itu memang terasa dan ini dikonfirmasi sendiri oleh Jokowi yang bertanya kalau memunculkan ketidakadilan ya kami revisi. Artinya itu terjadi dan direvisi,” tandas Refly.*