Hidayatullah.com- Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada awal-awal tahun 2020 lalu, banyak rumah ibadah khususnya masjid yang terpaksa ditutup bahkan ada yang sempat nyaris tidak menjalankan aktivitas berjamaah sama sekali.
Lain halnya dengan Masjid Jogokariyan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sejak wabah global corona itu masuk ke Tanah Air, masjid yang terletak di Kampung Jogokariyan, Jalan Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta, ini tidak ditutup.
“Di awal pandemi kita sudah buat maklumat bahwa Masjid Jogokariyan tidak akan ditutup, maka kita memberikan bantuan kepada masyarakat,” ujar Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan, Ustadz Muhammad Jazir, dalam webinar “Muharram Kebangkitan Ekonomi Umat dari Masjid dan Pesantren” (30/08/2021).
Menurut Ustadz Jazir, selama masa sulit di tengah pandemi saat ini, Masjid Jogokariyan banyak menginisiasi berbagai program ketahanan masyarakat.
Program itu terbagi ke dalam bantuan pangan, kesehatan, dan perekonomian. Dalam bantuan pangan, misalnya, Masjid Jogokariyan menyalurkan hampir seribu paket sembako kepada warga terdampak.
Masjid Jogokariyan, sebutnya, juga menyediakan bantuan oksigen untuk pasien yang melakukan isolasi mandiri (isoman). Bantuan oksigen juga diperuntukkan bagi unit gawat darurat rumah sakit di Yogyakarta yang mengalami krisis ketersediaan oksigen dan kelangkaan tabung gas.
Begitu pula, saat fasilitas kesehatan milik pemerintah semakin sibuk dan dinilai tertatih-tatih menangani pasien Covid-19, Masjid Jogokariyan turun tangan dengan menyediakan rumah isolasi bagi warga yang rumahnya tidak layak sebagai tempat isoman.
“Jadi di masa pandemi justru peran masjid sangat diperlukan, maka tidak mungkin masjid ditutup,” ujarnya.
Jazir juga menyebutkan, Masjid Jogokariyan juga memberikan bantuan uang tunai mulai dari Rp 500 ribu per jiwa kepada masyarakat yang melakukan isoman di rumah isolasi masjid maupun di rumah masing-masing. Masjid tersebut juga mencukupi kebutuhan makan pasien sehari tiga kali dengan menu bergizi, termasuk vitamin dan obat-obatannya.
Terkait itu, memang, selain sebagai tempat ibadah mahdlah, masjid seharusnya menjadi tempat pelarian dari berbagai problematika kehidupan. Sebagaimana fungsi masjid di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang membawa keberkahan dan menjadi langkah awal dalam kemerdekaan umat.
Hal ini disampaikan Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan dalam kegiatan webinar yang sama. “Di masa pandemi Covid-19 saat ini, dampak perubahan di berbagai sektor sulit dirasakan oleh masyarakat, khususnya sektor perekonomian dan kesehatan yang cukup terpukul akan kejadian ini,” ujar Helmi secara virtual pada kegiatan yang dihelat Langit7.id tersebut.
Baca juga: Masjid ar-Riyadh, “Taman Surga” di Puncak Gunung Tembak
Sehingga, tambah Helmi, solusi untuk kembali mendapatkan kebaikan yaitu dengan kembali memakmurkan masjid. Allah janjikan siapa yang memakmurkan masjid, maka negara itu pun akan dimakmurkan oleh Allah. “Kalau Allah sudah cinta kepada suatu negara, tidak mungkin akan ada bencana,” kata Wali Kota dalam acara yang juga dihadiri CEO Langit7.id, Muhamad Ali itu.
Ali menyampaikan, peran masjid tidak hanya menjadi sarana atau tempat beribadah, melainkan pusat pendidikan, pembinaan, dan peradaban umat Islam. Masjid selain menjalankan fungsi sebagai pusat data umat Islam berbasis jamaah, juga menjadi role model akuntabilitas pengelolaan keuangan, pusat informasi umat, dan menjadi wadah untuk membangun perekonomian umat, memakmurkan, dan menyejahterakan rakyat.
“Demikian halnya dengan pesantren sebagai pusat dakwah dan syiar Islam untuk mewujudkan konsep Islam wasathiyah (Islam moderat), dan menjadi wadah untuk membangun kecerdasan akal serta menjernihkan dan mencerdaskan qalbu (hati) bagi generasi bangsa ini. Di pesantren juga menjadi ladang usaha untuk membina dan memulai pengembangan entrepreneurship berbasis keumatan,” ujarnya sebagaimana dirilis.
Ali menyebutkan hasil survei Kementerian Agama RI, pandemi Covid-19 melahirkan religiositas (ketaatan beragama) masyarakat Indonesia sebesar 81 persen. Sebanyak 97 persen responden mengaku agama membantu menghadapi pandemi dan dampaknya. Hasil survei ini menunjukkan pentingnya penyebaran agama sebagai sumber inspirasi, solusi, dan edukasi bagi masyarakat Indonesia.*