Hidayatullah.com– Ketua Bidang Ekonomi, Industri, Teknologi, Lingkungan Hidup (Ekuinteklh) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PSK), Memed Sosiawan menilai, kebijakan mengutamakan pembangunan infrastruktur akan melemahkan ekonomi Indonesia.
Memed menjelaskan, kebijakan pemerintah yang cenderung menomorsatukan infrastruktur juga perlahan namun pasti akan mengubah mata pencaharian rakyat.
“Jadi kita antisipasi dengan adanya jalan tol maka ini akan banyak jadi migrasi. Para petani pindah jadi buruh, buruh kemudian menjadi pekerja lepas, dan kemudian pindah ke kota. Jadi Indonesia lemah,” tegasnya saat memaparkan materi “Tadabbur dan Prediksi Ekonomi Keuangan dan Industri Pasca Terbentuknya Kabinet Indonesia Maju” di Forum Majelis Reboan DPP Hidayatullah di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Rabu (13/11/2019).
Ia memaparkan, kondisi kian memburuk kalau memerhatikan sektor pertambangan. Kenapa?
“(Karena) tambang kan kita kelola barang mentah, dikeruk, dijual, lama-lama habis. Kalau habis bagaimana kira-kira, itu pertanyaan kita terhadap masa depan anak cucu kita,” tegasnya.
Selain itu, Mehmen menilai, resesi yang sedang membayangi ekonomi global juga membayangi ekonomi Indonesia.
Resesi ini, jelasnya, karena adanya perang dagang yang sebenarnya merupakan lanjutan daripada perang mata uang yang diawali dengan perang minyak.
Baca: Gerindra: Efek Infrastruktur Rp 400 T Belum Maksimal, Malah Dirugikan
Ia menilai, Indonesia kian serius menghadapi masalah ekonomi saat melihat transformasi struktur ekonomi Indonesia yang bisa dikatakan cenderung melemah.
“Sejak Indonesia merdeka sampai tahun 1985 sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang tertinggi terhadap PDB dibandingkan dengan sektor lainnya. Dan, pemberi kontribusi yang kedua adalah sektor pertambangan. Namun sejak 1995 kontribusi yang tinggi dari sektor pertanian dan sektor pertambangan mulai digantikan oleh sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan hotel dan restoran,” paparnya.
Meskipun, lanjutnya, sampai tahun 2010 kontribusi sektor industri dan pengolahan terus meningkat sejak tahun 1985, namun terlihat bahwa kontribusi sektori industri dan pengolahan cenderung menurun terus dan penurunan kontribusinya diisi oleh kontribusi sektor keuangan dan sektor jasa.*/Imam Nawawi