Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Lima Cara Menangkal Hoaks dan Infodemi

Bambang S
Terakhir diupdate: 6 Oktober 2021 11:25 11:25 am
Bambang S
Dipublikasikan 6 Oktober 2021 12:00
Bagikan
hoaks infodemi
Bagikan

Hidayatullah.com — Akademisi Teuku Kemal Fasya menyampaikan sebanyak 75% penduduk Indonesia selama pandemi menghabiskan sebanyak delapan jam per hari untuk berinternet. Faktanya, tahun ini saja terdapat 202 juta pengguna dibanding tahun 2019 yang mencapai 196 juta pengguna Internet. Sayangnya hal itu tak diimbangi dengan kematangan literasi digital.

Di situasi pandemi Covid-19 seperti ini, Fasya membeberkan dua penyakit berbahaya yang membanjiri ruang media digital, yakni hoaks (berita bohong) dan infodemi. Dijelaskan olehnya, Infodemi adalah bersebarnya informasi-informasi yang tidak menyehatkan.

Baik Hoaks dan Infodemi, kata Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh ini terjadi selama masa pandemi Covid-19. Informasi mengenai virus dan kesehatan secara masif membanjiri ruang digital. Dia mengatakan hal ini menyebabkan terjadinya infodemi di tengah masyarakat global, yakni kondisi di mana informasi tidak sehat tersebar luas secara bebas. Menurutnya, dua hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam memerangi persebaran informasi yang keliru dan membahayakan tersebut.

Fasya menilai tingginya tingkat penggunaan internet penduduk Indonesia, sedikit demi sedikit dapat terpapar hoaks. Sebabnya, karena preferensi perilaku pengguna internet tidak mengkonsumsi informasi dari sumber-sumber yang cukup valid. Akibatnya, masyarakat menjadi minim akan literasi digital.

“Problem penggunaan internet (yakni) situasi yang tidak seimbang atau ekuivalen. Preferensi perilaku pengguna internet sebagian besar tidak menumbuhkan kematangan dalam literasi digital,” ujar Fasya seperti dikutip Hidayatullah.com dari laman resmi MUI, Rabu (06/10/2021).

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Dalam webinar bertajuk Literasi Pandemi dan Pemulihan Ekonomi kerjasama antara Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, Fasya menyebut hoaks dan infodemi dua darurat yang harus dilawan.

Fasya kemudian mengutip ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Hujarat ayat 6. Dia menerangkan bahwa setiap informasi yang diterima tidak boleh ditelan begitu saja. Tetapi, harus di cek lebih dulu.

“Problem kita (hoaks) terdapat pada Al-Qur’an yang berbunyi: bila ada informasi yang masih diragukan maka perlu bagi kita atau kamu sekalian bertabayyun, cross-check, check and recheck. Tidak semua (informasi) ditelan bulat-bulat,”ungkapnya.

Fasya mencontohkan bahwa di dunia sekarang ada banyak teks masuk grup whatsapp. Yang sebagian besar adalah junk news atau sampah-sampah berita atau fake news.

“Bahkan kelompok terdidikpun sudah tidak bisa mengenali mana yang disebut sebagai fakta, mana yang opini,” tuturnya dalam penyampaian materi berjudul ‘Hoax dan Infodemi di Era Supra Literasi: Cara untuk Melawannya’ itu.

Fasya akhirnya menyimpulkan dengan meminjam ucapan Antonio Guterres, yang menyatakan perang terhadap wabah Covid-19 sekarang ini bersamaan dengan perang terhadap wabah informasi terkait kesehatan. “Keduanya (wabah Covid-19 dan wabah informasi) sama-sama berbahaya,” tuturnya.

Pria Jebolan UIN Sunan Kalijaga itu mengatakan perlunya membangun disiplin agar tetap awas dengan berbagai informasi yang diterima. “Perhatikan peduli sebelum kalian menyebarkan sesuatu. Karena ketika kita sebar (informasi) itu, dan yang kita sebar adalah ibadah namimah (mengadu domba), yang dalam bahasa sekarang disebut hoaks itu sama aja dosanya seperti memakan bangkai saudara kita sendiri. (Kesadaran) itu yang harus dibangun,” imbuhnya.

Fasya kemudian memberikan Lima Prinsip Menangkal Hoaks dan Infodemi. Untuk melawan masifnya persebaran hoaks dan infodemi tersebut.

Berikut lima prinsip itu:

1. Bersikap rasional, yakni jangan emosional dalam membaca dan mencerna informasi.

2. Detail, yakni periksa struktur kalimat, fakta, data yang digunakan apakah sudah benar atau justru terdapat misinformasi dan disinformasi.

3. Bersikap objektif, jangan sampai karena kesamaan atau perbedaan pandangan membuat kita menjadi subjektif dan mempercayai informasi begitu saja.

4. Mempertimbangkan konsekuensi dan risiko, harus perhatikan bahwa read before sharing, caring before sharing.

5. Interdisciplinary, belajar banyak hal-hal yang lain di luar spesial disiplin ilmu kita agar tidak tertipu dan terhindar dari hoaks.

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Cara Menangkal HoakshoaksInfodemipandemi Covid-19
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kominfo Sebut MUI Bantu Pemerintah Tekan Penyebaran Covid-19 Melalui Literasi
Tulisan selanjutnya Hadir di Vatikan, Abdul Mu’ti Bicarakan Nasib Guru dan Peran Muhammadiyah terkait Isu Lingkungan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?