Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Usulan BNPT Awasi Masjid Tiru Thailand, dimana Masjid Diawasi Tentara

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 11 Juli 2018 08:27 8:27 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 10 Juli 2018 22:00
Bagikan
Peneliti senior INSISTS Dr Henri Shalahuddin.
Bagikan

Hidayatullah.com– Pernyataan Ketua DPR RI yang mengutip hasil penelitian Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bahwa 41 dari 100 masjid di lingkungan pemerintahan baik di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lembaga negara, maupun kementerian terindikasi telah disusupi paham radikal, sebenarnya bukanlah berita baru yang menghebohkan.

Demikian penjelasan Peneliti Senior INSISTS Dr Henri Shalahuddin MIRKH menyikapi pernyataan Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang mengutip hasil penelitian tersebut dirilis baru-baru ini.

Dr Henri menjelaskan, jauh sebelumnya, pada Mei 2003, jurnal Relief (vol. 1. no. 2), juga telah meneliti (baca: memata-matai) khutbah Jumat di sepuluh masjid.

“Kesimpulan (penelitian)nya, bahwa di masjid-masjid itu para khatib selalu mengajarkan hanya Islam agama yang benar. Mereka tidak mau meyakini agama lain juga memiliki kebenaran yang sama. Di kover belakang jurnal ini juga terpampang pernyataan yang provokatif: “…Kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan”,” ungkap Henri kepada hidayatullah.com Jakarta saat dimintai tanggapannya, Selasa (10/07/2018).

Baca juga: Soal “Masjid Terpapar Radikalisme”, Dr Henri: Tak Semua Penelitian Menjelaskan Fakta

Meskipun kata dia tidak dinafikan adanya pemahaman radikal di kalangan sebagian umat Islam, namun sangat disayangkan jika tuduhan radikalisme hanya diarahkan pada masjid dan mengabaikan tempat peribadatan lainnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Ini merupakan langkah kemunduran bagi kehidupan sebuah bangsa yang berketuhanan,” imbuhnya.

Apalagi, lanjut Henri, sebagai solusinya Ketua DPR Bamsoet meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), BUMN, lembaga negara, dan seluruh kementerian di Indonesia untuk meningkatkan pengawasan di dalam rumah ibadah di lingkungannya dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Bhinneka Tunggal Ika.

“Usulan agar BNPT mengawasi tempat ibadah (dalam hal ini masjid) oleh Ketua DPR ini mirip yang terjadi di Thailand, dimana beberapa masjid diawasi tentara, dan jika ini diterapkan di Indonesia tentunya sangat disayangkan.

Karena di samping mendorong kebangkitan rezim represif terhadap umat Islam, hal ini juga akan memicu kesalahpahaman bahwa masjid adalah sarang tumbuhnya terorisme, anti nasionalisme, dan anti kebinekaan,” ungkapnya.

Padahal, jelas Henri, fakta sejarahnya sejak dulu orang Islam cinta keutuhan NKRI. Ini terbukti dari mosi integral NKRI yang diusulkan oleh tokoh yang tumbuh besar dari masjid pada 3 April 1950.

“Nasionalisme dan kebinekaan tidak bisa dimaknai sebagai netral agama, apalagi menjauhi agama. Bahkan bagi yang phobia Islam, menuduh kemunduran Indonesia dan maraknya korupsi disebabkan karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Padahal sama-sama diketahui bahwa ajaran Islam hampir tidak pernah dilibatkan dalam pembuatan kebijakan publik dan pencegahan korupsi,” jelasnya.

Ia mengatakan, umat Islam dan simbol-simbol keislaman sudah terlalu sering dijadikan komoditas politik, apalagi tahun ini adalah tahun politik. Suara umat seakan-akan tidak boleh terkonsentrasi pada satu kekuatan politik. Strategi dengan menggunakan stigmatisasi radikal sudah sejak lama dipraktikkan oleh penjajah Belanda. Menurut Alwi Shahab, lanjutnya, Belanda selalu menyebut kelompok yang melakukan perlawanan terhadap penjajah sebagai radikal dan Islam fundamentalis.

Tentunya perilaku penguasa Belanda sangat tidak layak dipertahankan bagi siapa pun yang memimpin negeri ini. Apalagi tanpa menjelaskan lebih lanjut maksud dari terminologi “radikal” dan “radikalisme”, serta penyematannya pada masjid. “Intinya, tidak semua penelitian adalah kegiatan ilmiah yang menjelaskan fakta di lapangan. Tapi sering juga dilakukan untuk memilih fakta yang didasari oleh ideologi yang tidak ilmiah.”

“Akhirul kalam, kita sepakat bahwa radikalisme yang menafikan keberadaan umat beragama lain perlu dihentikan, tapi jangan gara-gara radikalisme, peran dan gerak agama dibatasi, diawasi dan di-bully. Jangan karena kaki Mbappe terkilir patah, lalu sepakbola dilarang di negeri ini. Apa kata dunia?!” pungkasnya.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bambang SoesatyoBamsoetBhinneka Tunggal IkaBNPTHenri ShalahuddinINSISTSislamIslam dan NKRIIslam di IndonesiaIslam di Thailandjurnal ReliefkementerianKetua DPR RIkhatibLembaga P3MLembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakatmasjidmasjid BUMNmasjid di Thailandmasjid pemerintahmosi integral M NatsirMUINKRIPeneliti Senior INSISTSpenelitianpengawasan masjidradikalradikalismethailand
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Soal “Masjid Terpapar Radikalisme”, Dr Henri: Tak Semua Penelitian Menjelaskan Fakta
Tulisan selanjutnya Industri Farmasi, Kosmetik, Jamu Didorong Manfaatkan Bahan Baku Alam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?