Hidayatullah.com– Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof Yunahar Ilyas mengungkapkan, peristiwa pembongkaran makam di Bone Balango, Gorontalo karena hanya perbedaan pilihan politik, sangat menyedihkan.
Semestinya, kata dia, saling menghormati saja terhadap pilihan politik yang berbeda. “Apalagi bersaudara,” ujarnya kepada hidayatullah.com pada Selasa (15/01/2019).
Luka peristiwa ini, kata dia, akan berlangsung lama, karena sampai memindahkan kuburan.
“Seharusnya tokoh masyarakat bersama Pemda setempat bisa mencegahnya,” tegasnya.
“Alasan syar’i memindahkan kuburan sangat lemah. Bahkan tercela,” tambahnya.
Baca: PBNU: Pemindahan Jenazah karena Perbedaan Politik Mengoyak Kemanusiaan
Ia berharap mudah-mudahan tidak terulang peristiwa seperti ini dimana pun.
Sebelumnya diberitakan, pembongkaran dua makam itu terjadi hanya karena perbedaan dukungan politik pada keluarganya dalam Pileg 2019.
Akibatnya, dua kuburan di Desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada Sabtu pagi, 12 Januari 2019, dipindahkan lokasinya.
Baca: Muhammadiyah Sayangkan Pembongkaran Makam karena Perbedaan Politik
Menurut perwakilan keluarga yang kuburannya dibongkar, Abdul Salam Pomontolo, pemilik tanah Awano sudah memperingatkan soal pembongkaran makam. Pembongkaran akan dilakukan bila tak mau mendukung ipar pemilik tanah menjadi caleg DPRD, kutip Viva.* Andi