Hidayatullah.com–Desa Awarta, Palestina, hingga kini masih berada dalam kepungan militer Israel. Warga setempat melaporkan, tentara Israel secara berkala melakukan penggeledahan dari pintu ke pintu rumah penduduk. Rumah penduduk berulang kali digeledah, sedikitnya tiga kali.
Para saksi berkata, tentara terlihat berpencar di puncak-puncak bukit di sekeliling desa, sementara kendaraan mereka mondar-mandir di jalananan.
Maan melaporkan (15/3), makanan yang dikirim pemerintah daerah Nablus untuk warga Awarta belum dibagikan ke seluruh penduduk, yang menurut Pusat Biro Statistik Palestina berjumlah lebih dari 5.000 jiwa.
Wartawan Belanda Lydia de Leew yang melakukan perjalanan bersama petugas medis dari Union of Health Care Committees kepada Maan mengatakan, mereka sedang menunggu izin masuk ke desa, setelah mendengar kabar seekor anjing pelacak Israel menyerang seorang bocah Palestina.
Dilaporkan pula terjadi bentrokan antara warga Palestina dengan pemukim Yahudi di kota Huwwara sebelah utara Tepi Barat , yang berjarak sekitar 4 km barat daya Awarta. Tidak ada laporan tentang korban jatuh dalam kejadian itu.
Awarta ditutup dan dikepung pasukan Israel sejak tentara mulai melakukan pencarian pelaku pembunuhan 5 anggota keluarga Fogel yang tinggal di pemukiman Yahudi terdekat, Itamar. Menurut laporan pihak Israel, mereka ditikam di tempat tidur pada Jumat malam pekan lalu.
Atas kejadian tersebut Israel langsung menuding warga Palestina sebagai pelakunya dan menyebutnya sebagai “serangan teroris”.
Para pejabat Palestina mengatakan, dua petugas keamanan di desa Awarta telah ditangkap dan ditahan Israel. Namun pihak Israel tidak mau membeberkan informasi apapun mengenai hal itu.
Warga setempat mengatakan, situasi di Awarta semakin memburuk, karena daerah itu terus dikepung tentara Israel.
Muhammad Raja Awwad bercerita kepada Maan pada hari Selasa siang (15/3), tentara Zionis yang menggeledah rumahnya merusak perabot rumah tangga sehingga menimbulkkan kerugian ribuan shekel.
“Istri dan anak-anak saya dipaksa masuk ke sebuah ruangan, lalu mereka membawa masuk anjing-anjing,” kata Awwad.*