Hidayatullah.com–Mediator-mediator internasional harus melepaskan tuntutan yang meminta Hamas untuk mengakui Israel. Demikian dikatakan oleh seorang pembantu Presiden Mahmud Abbas, Rabu (04/5).
Sebagaimana dilansir Maan, Nabil Shaath kepada Radio Israel mengatakan bahwa tuntutan mediator internasional agar Hamas mengakui negara Israel adalah “tidak fair, tidak dapat dilaksanakan dan tidak masuk akal.”
Satu-satunya yang perlu diketahui oleh Kwartet (kelompok mediator perundingan Palestina-Israel) adalah bahwa Hamas “akan menjauhi aksi kekerasan … dan berminat pada perundingan damai,” kata pembantu Abbas itu.
Hamas dan faksi perjuangan Palestina lainnya di Jalur Gaza sepakat melakukan gencatan senjata tidak resmi dengan Israel, usai negara Zionis itu melancarkan serangan militer besar-besaran ke Gaza yang berakhir Januari 2009 silam.
Tidak diketahui sampai kapan gencatan senjata itu akan berlangsung.
Pernyataan Shaath itu dikemukakan menjelang penandatanganan kesepakatan antara Hamas dan Fatah untuk mengakhiri perpecahan di kalangan para pemimpin Palestina, di Kairo.
Sedangkan wakil menteri luar negeri pemerintah Palestina di Gaza, Ghazi Hamad, mengatakan bahwa kesepakatan dengan Fatah itu “dimaksudkan untuk memberesi urusan dalam negeri Palestina.”
“Kami ingin melakukan sesuatu yang baru. Kami tidak ingin menghabiskan waktu dengan melakukan perundingan terus-menerus,” tegas Hamad, saat diwawancarai Radio Israel.*