Hidayatullah.com–Laporan media menyebutkan, PM Israel Benyamin Netanyahu bertemu dengan Utusan Kwartet Internasional di Timur Tengah, Tony Blair.
Radio Israel menyebutkan dialog keduanya seputar upaya untuk mencegah deklarasi Negara Palestina di hadapan sidang umum PBB pada September mendatang, juga membahas inisiatif perdamaian Prancis.
Netanyahu yakin bahwa Amerika akan menggunakan hak vetonya di dewan keamanan jika Palestina mengusulkan kepada PBB secara sepihak pengakuan deklarasi Negara Palestina.
Sebalumnya, tahun 2010, Kuartet mediator perdamaian Timur Tengah mendesak pembentukan negara Palestina dalam waktu dua tahun. Desakan itu disampaikan dalam pertemuan kuartet mediator dalam sebuah pertemuan di Moskwa, Rusia.
Pertemuan di Moskwa dihadiri Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Catherine Ashton, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov selaku tuan rumah dan utusan khusus kuartet mediator Timur Tengah Tony Blair.
Namun, sebelum ini, Amerika Serikat (AS) sudah menunjukkan ketidaksukaan atas upaya Palestina merdeka. Juru bicara Deplu AS Mark Toner pada Selasa (19/4/2011) mengatakan bahwa gagasan pengakuan Negara Palestina secara sepihak bukanlah gagasan yang baik.
“Kami terus mendesak kedua belah pihak untuk memulai pembicaraan lagi dalam perundingan langsung,” ujar Toner.
Nampaknya, Amerika ingin masalah Palestina hanya dijadikan diskusi di atas meja tanpa ada solusi riil.*