Hidayatullah.com—Sebuah operasi yang jarang terjadi dilakukan pasukan keamanan Otoritas Palestina (OP) untuk menangkap seorang anggota kelompok Hamas telah memicu bentrokan di kota Nablus, Tepi Barat hari ini, kata beberapa sumber.
Ada laporan bahwa seorang pengamat, Firas Yaish, 53, tewas oleh peluru nyasar tetapi kementerian kesehatan Palestina belum mengkonfirmasi kematian itu. Sebuah pernyataan di Twitter, diyakini dari sepupu Firas, Kawther menyatakan bahwa dia berduka atas kematian korban.
Bentrokan berlanjut sepanjang pagi, dengan ratusan pemuda melemparkan batu ke kendaraan lapis baja OP dan tembakan terdengar di pusat kota Nablus, lapor kantor berita AFP. Hamas yang dikenal dari kubu islamis, telah lama dijadikan musuh bagi gerakan Fatah yang sekuler, yang menguasai Otoritas Palestina (OP).
Hamas mengutuk penangkapan Musaab Shtayyeh, 30, dan menyebutnya sebagai ‘penculikan, kejahatan negara dan noda’ pada citra OP. Hamas menuntut agar Musaab dan yang ditangkap lainnya, Ameed Tbaileh, segera dibebaskan dan mengkritik OP atas kerjasama keamanan dengan pihak Zionis-Israel.
“OP memposisikan dirinya sebagai umpan eksklusif penjajahan (Israel) di hadapan rakyat palestina,” kata pernyataan Hamas.
Sebuah pernyataan dari pasukan keamanan mengkonfirmasi kematian Firas Yaish dan mengatakan mereka “menunggu laporan medis,” tentang keadaan pembunuhannya. Dia tewas “di tempat di mana tidak ada personel keamanan,” kata juru bicara pasukan Talal Dweikat dalam sebuah pernyataan.
Meskipun pasukan militer Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas telah mempertahankan hubungan keamanan dengan ‘Israel’, yang telah menduduki Tepi Barat sejak 1967, serangan OP yang menargetkan anggota Hamas jarang terjadi.
Kelompok Fatah yang sekuler dan Hamas telah melakukan berbagai upaya islah dan perdamaian dalam beberapa tahun terakhir, tetapi hubungan antara keduanya masih ada ketegangan. Hamas yang telah meraih hati rakyat Palestina secara demokratis dalam Pemilu tahun 2007 ditolak AS dan ‘Israel’.
Amerika Serikat, sekutu dekat Israel, akhirnya memilih gerakah Fatah dan mengendalikan Tepi Barat, sementara Hamas yang lebih disukai rakyat Palestina akhirnya menguasai Jalur Gaza, yang akhirnya harus menerima konsekwensi blokade darat, udara dan laut yang diberlakukan penjajah oleh ‘Israel’ yang telah berlangsung hamper 25 tahun.*