Hari ini, 26 tahun lalu, bandara kebanggaan rakyat Palestina dan Gaza ini dihancurkan penjajah Israel, saat ini telah menjadi puing dan menjadi tempat sampah rumah tangga
Hidayatullah.com | DIREKTUR Umum Palestine Airlines Zeyad al-Bada mempunyai kenangan manis dengan Bandara Internasional Gaza. Saat itu pukul 07.00 tanggal 2 Juni 1996, ketika al-Bada menerima panggilan telepon mengejutkan dari mantan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat.
Al-Bada, yang saat itu berusia 39 tahun dan pilot pribadi Arafat, akan menjadi orang pertama yang mendarat di Bandara Internasional Gaza yang baru saja dibangun. “Tidak ada peta udara, tidak ada radar, bandara Gaza bahkan tidak dikenali secara global,” kata al-Bada dikutip Al Jazeera.
Sebagaimana Al-Bada, hari itu menjadi kenangan tersendiri bagi Mohammad el-Baz, yang meliput acara tersebut secara langsung untuk Palestine TV. “Peresmian bandara bukanlah perkembangan normal bagi rakyat Palestina dan kepemimpinan yang diwakili oleh Yasser Arafat,” kutip WAFA.
Yasser Arafat memprakarsai proyek Bandara Internasional Gaza pada 1994. Wilayah selatan Rafah yang berdekatan dengan perbatasan Mesir dipilih sebagai lokasi pembangunan.
Usama el-Khoudary adalah insinyur subkontraktor Palestina yang memenangkan tender untuk membangun landasan pacu dan apron bandara tempat pesawat diparkir. Dia memberi penawaran rendah yang tidal membuatnya untung.
“Usama tidak peduli dengan harga penawaran, dia ingin menjadi bagian dari Bandara Internasional Gaza, dia ingin menjadi bagian dari sejarah ini,” kata istri el-Khoudary, Marwa el-Khoudary.
Marwa mengatakan suaminya berusia 30 tahun saat memenangkan tender. “Saya ingat matanya berbinar pada hari dia diumumkan sebagai pemenang tender,” ucapnya.

Untuk meminimalkan biaya, el-Khoudary memutuskan membangun landasan pacu dalam 45 hari atau setengah dari waktu yang diharapkan. Proyek pembangunan dimulai pada 1996 dengan sekitar 150 pekerja dan hanya empat kendaraan. Mereka bekerja melekatkan 3.000 hingga 3.500 ton aspal per hari.
Proyek ini dibangun dengan dana dari Jepang, Mesir, Arab Saudi , Spanyol, dan Jerman. Itu dirancang oleh arsitek Maroko dan insinyur yang didanai oleh Raja Maroko Hassan II.
Bandara Internasional Gaza, juga disebut Bandara Yasser Arafat, memiliki satu landasan pacu dengan panjang 3080 meter dan lebar 60 meter. Pembangunan bandara dimulai pada Januari 1996 ketika Arafat meletakkan batu fondasi untuk bandara.
Bandara yang rampung satu tahun sebelum pembukaannya ini sudah diantisipasi sebagai jendela Gaza menuju dunia. Karena menyadari posisi strategisnya, Mesir, Jepang, Arab Saudi, Spanyol, Jerman, dan negara Uni Eropa lainnya turut berkontribusi membangun bandara ini.
Para arsitek Maroko pun turun tangan merancang mozaik yang ada pada dinding bandara. Bandara ini dibangun di atas tanah seluas 2.350 dunum dan memiliki aula terminal seluas 4000 meter persegi yang dapat menampung 750.000 pelancong per tahun.
Bandara ini juga memiliki menara kontrol dan banyak fasilitas lainnya, layaknya bandara lain di dunia. Bangunan bandara dirancang sesuai arsitektur Islam Arab dengan kubah seperti di Kota Tua Baitul Maqdis (Yerusalem).
Baz mengatakan sebuah pesawat Mesir pertama mendarat di Bandara Internasional Gaza yang membawa delegasi resmi dan kalangan artis. Pesawat lain tiba dari Maroko, Aljazair, Yordania dan Eropa setelahnya.
Menurut Baz, pesawat Palestina pertama yang mendarat di bandara itu diterima dengan penuh kegembiraan dan sorak-sorai ketika pilot dan stafnya keluar dari pesawat. Mereka digendong warga sambal bernyanyi dan menari.

Saat diresmikan, banyak warga Gaza yang belum pernah melihat pesawat dari dekat, sangat gembira, berkumpul di gerbangnya dalam jumlah ribuan untuk menyaksikan Palestine Airlines mendarat. “Ini mungkin terlihat seperti bandara kecil bagi Anda, tetapi bagi kami, ini lebih besar dari John F. Kennedy,” kata Nabil Shurafa, seorang agen perjalanan di Kota Gaza kepada The New York Times saat itu.
“Saya harap Tuhan memberi saya hadiah ini, untuk naik ke langit seperti burung, dengan sayap Palestina,” kata Mafa Barbakh, seorang wanita tua kepada surat kabar itu. “Hei, kami punya paspor Palestina sekarang. Saya bisa bepergian dengan paspor Palestina saya di pesawat Palestina. Ini Palestina!”
Selain melihatnya sebagai sebuah harapan masa depan, warga Palestina menggantungkan harapan mereka pada bandara menjadi jalur kehidupan ekonomi yang kritis: meningkatkan ekspor, mendatangkan perdagangan, dan bahkan turis.
Dihancurkan penjajah
Usai diresmikan, Bandara Internasional Gaza, menjadi gerbang utama dunia luar hingga 2001 ketika penjajah Israel mengebomnya, sebagai alasan membalas tewasnya 4 tentara zionis. Daily Mail menyatakan, bom penjajah Israel menghancurkan menara bandara.
Al-Bada mengaku telah menerbangkan 55 perjalanan ke berbagai tujuan masuk dan keluar dari Bandara Internasional Gaza setelah peresmiannya pada tanggal 24 November tahun 1998, sebagai bagian dari Kesepakatan Oslo 1993. Kesepakatan itu memberikan Palestina hak untuk membangunnya di Gaza, tetapi memberi Israel kendali penuh atas wilayah udara tersebut.
Pada tanggal 7 Oktober 2000, Israel menutup kegiatan penerbanangan, menyusul meningkatnya perlawanan rakyat palestina kepada Israel. Hanya tiga tahun setelah beroperasi.

Bandara kembali dihancurkan pasukan zionis-Israel selama Intifadah Kedua. Jet F16 buatan Amerika Serikat (AS) ikut menghancurkan pusat radar dan sistem kamera keamanan bandara. Tragedi yang terjadi pada 2001 itu hanya tiga tahun setelah penduduk setempat merayakan harapannya.
Saat ini, pemandangan di bekas bandara hanya tempat puluhan kambing merumput. Kita hanya akan melihat tumpukan sampah di dekat kubah kuning keemasan, satu-satunya yang tersisa dari bandara.
Berbagai usaha pembangunan kembali bandara sudah dilakukan. Selain membangun kembali simbol kedaulatan, kehadiran bandara akan banyak membantu kepentingan bangsa Palestina, tentu saja termasuk kepentingan ekonomi.
Selama bertahun-tahun, kepemimpinan Otoritas Palestina terus mendorong pembukaan kembali bandara, menekankan kerugian ekonomi dari penutupannya. Tetapi para pejabat penjajah Israel selalu menghalanginya, beralasan masalah keamanan dan sebagainya.
Di antara kekhawatiran lain penjajah adalah, pembangunan bandara akan memberi memberikan keuntungan bagi diplomat, pesohor dan yang pasti akan memberi kontribusi penting ekonomi bangsa Palestina.
Baru-baru ini Otoritas Palestina (OP) kembali mengajukan agar rakyat Palestina harus memiliki bandara sendiri. Namun keinginan itu ditolak penjajah, dimana Israel mengatakan warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki akan ditawari penerbangan khusus dari Ramon, dekat kota resor Laut Merah Eilat, ke tujuan di Turki.
“Jika penjajah ingin meringankan Palestina, biarkan mereka membuka Bandara Yerusalem,” kata Perdana Menteri Otoritas Palestina Mohammad Shtayyeh, mengacu pada bandara Qalandia yang sekarang tidak digunakan di bagian utara Tepi Barat yang diduduki.
Baz berharap bandara akan dibangun kembali. “Ini adalah perasaan yang berbeda ketika Anda bepergian dari bandara sendiri dan kembali ke rumah melalui bandara milik sendiri. Saya berharap mimpi ini akan menjadi kenyataan lagi,” katanya.
Sebagaimana juga harapan Al-Bada, akan Kembali terbang ke berbagai belahan dunia, melalui Gaza. “Saya percaya saya akan terbang lagi dari Gaza ke dunia.”* (dari berbagai sumber)