Hidayatullah.com—Khaled Nabhan, kakek Palestina yang berduka yang mengucapkan selamat tinggal kepada cucunya Reem dengan ungkapan “Ruh al Ruh”, telah syahid oleh serangan udara Israel, kutip TRT World.
Nabhan, yang dikenal sebagai “Sheikh Abu Diaa”, sempat viral di seluruh penjuru dunia setelah videonya menggendong sang cucu yang syahid bernama Reem beberapa bulan lalu.
Saat itu Ia memeluk tubuh Reem, sambal mengucapkan kalimat, “Ini adalah ruh dari ruh.”
Itulah kata-kata Khaled Nabhan saat mengucapkan selamat tinggal yang menyayat hati kepada cucunya yang berusia 3 tahun, yang syahid bersama saudara laki-lakinya yang berusia 5 tahun, Tarek, dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza selatan pada 22 November 2023.
Momen yang memilukan itu, yang terekam dalam foto dan video, memperkenalkan dunia kepada seorang pria yang kesedihan dan cintanya menjadi simbol penderitaan yang dialami oleh warga Palestina.
Pada hari Senin, 16 Desember 2024, tembakan artileri penjajah Israel menghantam kamp yang sama tempat Khaled pernah berkabung atas cucu-cucunya.
Kematiannya menandai akhir tragis dari kehidupan yang, selama setahun terakhir, telah menyentuh hati di seluruh dunia dengan ketangguhan dan kemanusiaannya.
Perpisahan seorang kakek
Dunia pertama kali bertemu Khaled melalui gambar-gambar dirinya yang sedang menggendong tubuh Reem yang tak bernyawa, dengan lembut menyeka puing-puing dari wajahnya, membelai rambutnya, dan mencium keningnya.
Suaranya bergetar saat memanggilnya “Ruh al Ruh” (jiwa dari jiwaku).
Momen itu begitu mentah dan tanpa filter, kesedihan seorang kakek yang murni dan tak tertahankan atas seorang anak yang telah membawa cahaya dalam hidupnya.
“Ketika saya mengucapkan kata-kata itu, itu keluar tanpa disadari,” Khaled kemudian berbagi dengan TRT dalam sebuah wawancara.
Ia menceritakan bagaimana ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang direkam, begitu tenggelam dalam kesedihannya.
Video Khaled dan Reem, yang sedang bermain dengan gembira sesaat sebelum kematiannya, beredar luas, menyentuh jutaan orang.
Di TikTok, Instagram, dan platform sosial lainnya, orang-orang bereaksi dengan air mata dan solidaritas, berbagi cerita kesedihan mereka sendiri dan memposting pesan dukungan.
Namun, respons Khaled terhadap tragedi itu tidak berhenti pada duka cita.
Warisan ketahanan
Apa yang ditinggalkan Nabhan untuk dunia ini adalah simbol ketahanan bangsa Palestina.
Dalam minggu-minggu setelah kematian Reem dan Tarek, Khaled menyalurkan kesedihannya ke dalam tindakan. Ia sering terlihat membantu keluarga yang terluka di rumah sakit dekat rumahnya, menawarkan kenyamanan dan bantuan.
Ia meluncurkan inisiatif kemanusiaan, Reem: Soul of the Soul, yang didedikasikan untuk membawa kebahagiaan bagi anak-anak Gaza dengan mendistribusikan mainan dan hadiah.
Bersama ibu Reem, upaya Khaled meliputi berbagi video tentang pekerjaan mereka, memulangkan anak-anak terlantar, dan mengadvokasi hak-hak mereka.
Melalui akun Instagram-nya, yang diikuti hampir satu juta pengikut, Khaled mendokumentasikan kehidupan di Gaza selama perang yang sedang berlangsung.
Unggahannya mengungkap kekejaman, kehancuran, dan korban jiwa akibat konflik, memberikan dunia pandangan sekilas tentang kehidupan yang terkepung.
Meskipun kehilangan begitu banyak, Khaled tetap menjadi simbol ketahanan. Setelah gencatan senjata singkat pada November 2023, ia kembali ke rumahnya yang hancur, menghidupkan kembali kenangan tentang cucu-cucunya.
Ia menanggung kehilangan mereka dengan bermartabat, bertekad untuk membuat hidup mereka yang singkat menjadi bermakna melalui pekerjaannya.
Sekarang, pada hari ke-437, genosia Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 44.976 warga Palestina dan melukai 106.759 orang.*