Hidayatullah.com–Presiden yang dicalonkan sebagai Presiden RI di arena Pemilu 2004 ternyata tidak cuma Megawati Soekarnoputri. Ada satu lagi, yaitu Hidayat Nurwahid (44). Dialah Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Kalau diajak berbincang tentang pencalonannya sebagai capres, Hidayat biasanya menjawab enteng saja. ?Saya ini sudah 2 kali jadi presiden. Pertama sebagai Presiden Partai Keadilan (PK), kedua sebagai Presiden PKS. Biasa-biasa saja. Ha?ha??
Beberapa minggu menjelang diselenggarakannya pemilu, nama Hidayat memang melejit sebagai capres unggulan di berbagai survei, baik yang diselenggarakan media massa maupun LSM. Misalnya dalam polling yang diselenggarakan SCTV akhir Maret 2004, suara yang memilih Hidayat mencapai 28.55% (atau sekitar 40.560 pemilih). Angka tersebut mengungguli M Amien Rais yang meraih angka 22.69% (32.232 pemilih), atau Susilo B Yudhoyono 10.53%. Sementara polling via SMS Koran Tempo edisi 5-11 Januari 2004, menempatkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Hidayat sebagai yang paling unggul dengan perolehan 45,62% suara atau 145.295 pesan SMS.
Bahkan seperti tak diduga banyak orang, perolehan sementara Pemilu 2004, menunjukkan PKS masuk kelima besar menggeser PAN dan PBB.
Bagaimana sikap Hidayat yang sesungguhnya, berkaitan dengan dukungan dari masyarakat agar dirinya maju sebagai capres? Apa pula yang akan dilakukannya kalau kelak Allah mentakdirkannya menjadi presiden?
Ba?da Subuh di rumahnya yang asri, Hidayat bercerita panjang lebar tentang itu semua kepada wartawan Majalah Hidayatullah Cholis Akbar dan Pambudi Utomo, serta kontributor Nuim Hidayat. Berikut petikannya:
Menurut beberapa survei, Anda diunggulkan sebagai calon presiden (capres). Tanggapan Anda?
Kalau menyangkut presiden, saya telah dua kali menjadi presiden. Ha? ha? Dulu menjadi Presiden Partai Keadilan (PK), sekarang Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bagi kami, menjadi presiden itu tidak amat luar biasa. Biasa-biasa saja. Apalagi yang namanya survei tidak otomatis menggambarkan opini atau fakta publik, meskipun juga tidak bisa dinafikan begitu saja.
Kami menampung aspirasi itu. Dengan catatan, target perolehan suara kami mencapai 20%. PKS tidak akan ragu mencalonkan kader sendiri. Begitulah keputusan rapat Majelis Syura belum lama ini. Siapa orangnya, terserah nanti.
Kalau Anda jadi presiden, apa langkah prioritas yang akan dilakukan?
Mudah-mudahan ini tidak berarti bahwa kita sedang berandai-andai ya. Tapi mudah-mudahan ini juga harapan saya pada siapapun yang jadi presiden.
Prioritasnya adalah menghadirkan kepercayaan publik pada kepemimpinan negara. Kalau publik tak lagi percaya, ya negara bubar, kepemimpinan tidak akan berjalan efektif. Kepercayaan itu harus disampaikan dalam ucapan dan komitmen yang diikuti oleh semua komposisi kabinet. Entah dengan cara memulai hidup hemat, sederhana, bekerja keras, menegakkan hukum, hidup yang bersih, atau bentuk lain.
Di negeri ini, saya yakin masih banyak orang seperti itu. Kalau itu bisa diwujudkan, maka akan hadirlah team work yang profesional.
Berikutnya, segeralah melakukan shock therapy (terapi kejutan) agar komitmen itu berwibawa, untuk membuat orang menjadi takut melanggar hukum dan semacamnya. Koruptor yang terbukti bersalah ya harus dihukum mati. Tapi……….
Berlanjut………..
(Baca Harapan Hidayat Nurwahid bila dia jadi Presiden dan jika PKS masuk lima besar. Baca juga komentar tokoh2 Islam bila dia dan partainya di PKS berkuasa.Hanya di Majalah Hidayatullah Edisi April 2004.
Komentar Tokoh2
Ust. HUSSEIN UMAR
(Dewan Dakwah Islam Indonesia)
"….beliau adalah salah seorang diantara tokoh Islam yang mempunyai wawasan masa depan yang cukup mewakili umat menjadi Presiden RI…".
Ust. M. JAZIR
Da?i, Yogyakarta
"…sebagian orang masih melihat kekurangengganan harakah nya pada harakah lain…"
Ismail Yusanto
Jubir Hizbut Tahrir Indonesia
…dia orang baik yang datang di tempat yang salah..".
Baca wawancara eklusif 8 halaman hanya di Majalah Hidayatullah Edisi cetak April 2004. Dan dapatkan di agen-agen terdekat.
Naba: Syeikh Ahmad Yasin, "Mati itu cuma sekali, matilah di medan jihad
Khusus: "Astaghfirullah… kita ternyata akrab dengan makanan haram!
Profil: Wijayanto, Ikon dakwah dari Yogya