Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“Semua Lembaran Hidup as-Syahid adalah Kenangan yang Tak Terlupakan”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juli 2004 09:05 9:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juli 2004 09:05
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Ada kesabaran dan keteguhan menakjubkan di balik tutur katanya. Nada bicaranya menunjukkan kekokohan dan ketegaran jiwa, kata-katanya menyiratkan kehalusan batin. Lebih penting dari itu, ketawadhuannya begitu kentara dari cara ia bicara, berdialog dan menjawab pertanyaan.

Ketika kami katakan kepadanya, “Di belakang lelaki agung pasti ada wanita mulia,” ia segera menyang-gahnya,”Tidak, demi Allah, jika wanita itu ada di balik kesuksesan dr. Rantisi hingga ia meraih syahadah, maka tak lain dia adalah ibunya-Allahuyarhamuha- yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan sebaik-baik pendidikan. Beliaulah yang menanam makna kemuliaan dan ketinggian harga diri di jiwa As-Syahid.” Berikut ini wawancara kami dengan Ummu Muhammad, panggilan akrab Nyonya Rosya.

Bisa diceritakan, bagaimana awal mula perkenalan Anda dengan as-Syahid?

Waktu itu saya lulus SMU dan belum bersinggungan dengan pergerakan Islam (harakah Islamiyah), meski saya tergolong gadis yang cukup istiqamah, dalam artian saya belum pernah berpacaran layaknya muda-mudi lainnya. Saya sebenarnya berobsesi untuk meneruskan studi ke perguruan tinggi, tapi ayah tidak mengizinkan karena meneruskan keperguruaan tinggi berarti saya harus pergi ke Mesir.

Ketika Abu Muhammad (Abdul Aziz ar-Rantisi) datang melamar, saya lihat beliau memiliki kriteria-kriteria pria yang diidamkan oleh semua gadis. Dan saya saksikan sendiri, belum pernah semasa hidup kami, beliau menyakiti saya baik dengan perkataan atau tingkah laku, meski beliau terus berinteraksi dengan banyak orang.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Bagaimana dengan cobaan yang dihadapi as-Syahid?

Secara mental saya cukup siap ketika beliau beberapa kali dipenjara, baik di masa intifadhah kesatu atau intifadhah kedua. Tentu saja pada awalnya memang saya rasakan berat, tapi yang kemudian menjadikan saya tsabat (teguh) adalah keyakinan saya bahwa Allah-lah yang telah menakdirkan demikian dan Dialah yang menjamin keberlangsungan hidup kami, baik dengan kebe-radaannya di tengah-tengah kami atau pun tidak.

Jalan yang ditempuh as-Syahid sepanjang hayatnya, tidak kurang dari tiga puluh tahun, adalah berjihad, hanya semata-mata mengharap ridha Allah. Dan itu adalah jalan yang benar dan inilah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang tiada tandingnya.

Ini memang bukan jalan yang dihiasi dengan bunga-bunga indah menawan, bahkan sebaliknya penuh dengan berbagai rintangan dan menuntut pengorbanan, namun cita-cita dan tujuan yang diidamkan membuat manusia mudah untuk melewati semua kepahitan itu. Dan ini adalah Sunnatullah dalam berdakwah sejak zaman nabi Adam hingga kita sekarang ini.

Bagaimana dr. Rantisi mendidik anak-anaknya?

Beliau tidak terus-menerus larut dalam kesibukannya yang super padat itu. Kadang-kadang kalau rumah sedang penuh dengan para wartawan, dalam kondisi seperti itu, ketika ia hendak mengambil sesuatu dari kamar dan melihat anak-anak atau ibu mertua atau salah seorang putrinya, spontan ia menebar senyumnya lalu menanyakan keadaan mereka. Perhatiaannya terhadap hal-hal sepele di sekitarnya punya saham besar dalam membentuk kepribadian saya agar juga peka dan peduli terhadap orang-orang di sekitar.

Beliau juga sangat gemar bersilaturahmi meski hanya dengan menelpon, di samping juga sangat menyayangi anak-anak, terutama cucu-cucunya yang sudah berjumlah 14 orang, seperti kepada Ahmad (21 tahun) yang juga cedera bersamanya dalam usaha pembunu-hannya satu tahun yang lalu, sangat dia cintai. Anak kami, Ahmad, ini pun bertekad untuk mengikuti jejak ayahnya.

Bagaimana as-Syahid memerankan multi perannya sebagai bapak, suami, kakek dan mujahid?

As-Syahid adalah sosok pribadi Islam yang paripurna yang tercermin dalam firman-Nya,”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56).

Beliau selalu berupaya mencontoh Rasulullah SAW dalam berperilaku, bersosial, hidup berkeluarga dan dalam berjihad. Dan semua ini beliau anggap sebagai ibadah. Ia senantiasa berbuat baik kepada ibunya, juga dalam bergaul dengan istri, saudara-saudarinya, memuliakan putri-putrinya, bermain dengan cucu-cucunya. Ia bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir serta musuh-musuhnya. Tetapi ia tetap tawadhu dengan siapa saja yang berinteraksi dengannya.

Kejadian apakah yang membuat Anda tidak bisa melupakannya?

Semua lembaran hidup as-Syahid adalah kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Di antara semua itu ada satu kasus yang benar-benar tak akan pernah saya lupakan selamanya. Ini saya hadi-ahkan untuk Anda para suami. Suatu ketika saya menata dan membersihkan rumah, secara tak sengaja saya menyenggol kaca televisi hingga layarnya pecah dan sama sekali rusak. Saya panik dan bingung, karena setelah suami dibebaskan dari penjara, kondisi ekonomi kami tidak memungkinkan untuk membeli televisi baru.

Ketika Abu Muhammad mendata-ngiku, dia menanyakan apa yang menyebabkan aku tampak bingung. (Setelah mengetahui sebabnya), sambil tersenyum beliau menghi-burku, “Semua hal pasti ada batas waktunya…Qaddarallah maa syaa’a fa’al (jika Allah telah mentakdirkan pasti akan terjadi).”

Apa yang Anda rasakan ketika menerima berita mati syahidnya dr. Rantisi?

Seperti lazimnya perasaan setiap istri kehilangan suami. Akan tetapi saya tidak kehilangan kendali diri, saya tidak kehilangan iman dan ketsi-qahan saya kepada Allah. Ini adalah karunia dari-Nya. Setelah beberapa menit dari kepergiannya dari rumah, saya mendengar ledakan bom, hati saya mengatakan, pasti suami saya yang kena sasarannya.

Untuk mendapat kepastian segera saya mendengarkan radio Shautul Aqsa. Waktu itu sedang adzan Isya. Selepas adzan langsung diberitakan pengeboman mobil as-Syahid serta syahidnya pengawal beliau saat itu juga. Adapun beliau sendiri sedang mendapat perawatan darurat. Saya tak henti-henti bertahmid kepada Allah, lalu berwudhu dan shalat Isya serta berdo’a agar Allah memberikan ketsabatan kepadaku dan kepada anak-anak kami, karena Dialah yang menjanjikan kepada hamba-Nya, jika mereka berdo’a pasti akan dikabulkan-Nya.

Apa yang diwasiatkan beliau kepada Anda sebelum kepergiannya?

Sepanjang hayatnya –selama tiga puluh tahun-ia habiskan untuk berjihad, merealisasikan manhaj Allah dalam semua sisi kehidupannya; dalam bermuamalah, berakhlak, berjihad, beribadah, bersosial, berpolitik, berinteraksi dengan yang lain. Ini adalah wasiat paling besar dan di jalan inilah kami akan terus melaju.

Apakah As Syahid pernah meng-ungkapkan perasaannya telah dekat kepada kematiannya? Beliau belum pernah mengung-kapkannya kepada kami. Tapi setiap detik, setiap jam, setiap hari beliau memang sudah bersiap-siap untuk itu. Ini tentu saja karena beliau beruswah kepada Rasulullah Sha-lallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

Apa kalimat terakhir yang beliau katakan? Dan bagaimana kondisi jiwanya ketika itu?

Beliau sangat gembira sekali dan kondisi spiritualnya, sebagaimana juga biasanya, sangat prima. Kalimat terakhir yang ia katakan kepada kami, “Semoga Engkau masukkan kami ke surga-Mu, wahai Allah, inilah puncak harapanku”

Apa cita-cita tertinggi as-Syahid?

Cita-cita tertingginya adalah agar Allah mengaruniainya kesyahidan. Tidak lebih dari itu.

Semua syuhada memiliki kara-mah. Kira-kira apa karamah as-Syahid?

Darah yang terus mengalir hingga dua puluh empat jam dari kesyahi-dannya. Tercium wangi kesturi dari seluruh anggota tubuhnya. Ketegaran dan keteguhan batin yang saya dan anak-anak saya rasakan dan senyum manis yang terpancar dari gigi serinya, saya rasa itu adalah merupa-kan karamah beliau.

Apa pesan Anda kepada wanita-wanita Palestina yang menunggu giliran ditinggal mati syahid oleh suami, bapak dan anak mereka ?

Saudari tercinta, peran seorang wanita tidak saja bermula dari sekarang. Akan tetapi peran kalian sejalan dengan peran kaum lelaki, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung-jawaban terhadap apa yang dipim-pinnya…seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya…” Saya telah persembahkan kepada Anda sekalian prototipe yang sangat memukau dalam setiap sisi kehidu-pan. Sekarang giliran Anda sekalian.

Setelah suami dan anak Anda syahid maka giliran Andalah menyem-purnakan peran Anda (dengan berjihad) dalam kehidupan Anda sekalian. Semoga Allah memberikan keteguhan hati, mengayomi dan memberikan taufik kepada Saudari. Semoga Ia mengarahkan jalan yang Saudari tempuh dan menyatukan Saudari bersama orang-orang yang Saudari kasihi di surga-Nya kelak. *

(Heri Efendi/Hidayatullah, diterjemahkan dari koran Afaq Arabia, 13 Mei 2004)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Radio Dakta: Sukses Siarkan Islam
Tulisan selanjutnya Rosya: “Semua Lembaran Hidup as-Syahid adalah Kenangan yang Tak Terlupakan”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?