Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Dekan Ushuluddin UIN Sunan Ampel: “Namanya Anak-anak belum Dewasa”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 September 2014 12:05 12:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 September 2014 11:35
Bagikan
Bagikan

TIDAK ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba kegiatan Orientasi Studi Cinta Akademik dan Almamater (OSCAAR) mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran  UIN Sunan Ampel mendadak menjadi perbincangan masyarakat sosial media.

Yang membuat heboh antara lain, adalah tema kegiatan “Tuhan Membusuk” [Konstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan].

Tak urung, kecaman datang dari mana-mana. Sebagian menilai penyebutan istilah-istilah buruk para mahasiswa UINSA karena gagalnya pengajaran pendidikan berakhlak dan berkarakter. Sebagian menilai karena kurikulum lembaga itu yang sejak lama diajarkan paham liberal dan meyakini semua agama adalah benar.  Koordinator Forum Silaturrahim Pejuang Ahlus Sunnah wal Jamaah Garis Lurus, KH Lutfi Bashori bahkan mengirim surat ke Polda Jawa Timur guna menindaklanjuti kasus yang menurutnya dinilai meresahkan.

Benarkah demikian? Hidayatullah.com berkesempatan mewawancarai Dr. Muhid, M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Inilah petikannya;

Bagaimana ceritanya kasus ini terjadi?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Soal OSCAAR itu, jangan panjenengan (Anda), saya sendiri juga kaget. Karena memang hal itu sebelumnya tidak dikonsultasikan dengan pimpinan.

Saya sempat memanggil anak-anak panitia untuk menjelaskan soal penulisan banner “Tuhan Membusuk”

Apa Hasilnya?

Akhirnya saya mendapatkan kesimpulan ada kesalahan antara maksud yang diinginkan (para panitia) dengan redaksi yang dituliskan dalam sepanduk.

Awalnya, saya sendiri mengira, jangan-jangan yang dimaksud antara tulisan dalam sepanduk (Tuhan Membusuk, red) sama dengan persepsi mereka. Apa yang persepsikan panitia  tidak sama dengan redaksi (tulisan dalam spanduk, red).

Itu kesimpulan bapak?

Itu pengakuan anak-anak. Dan akhirnya setelah dipanggil pimpinan, anak-anak akhirnya menerima dan meminta maaf pada pimpinan. Jadi itu kronologis banner yang ramai dibahas di jejaring sosial.

Sebenarnya tema aslinya apa?

Mereka mengangkat tema itu karena berangkat dari sebuah realitas keberagamaan masyarakat Indonesia yang belakangan kian memperihatinkan.

Kalau tema awalnya sangat bagus. “Konstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan”. Masalahnya, tulisan besar di atanya (Tuhan Membusuk) yang jadi masalah.

Bahkan pagi sebelum saya menghadiri pembukaan OSCAAR di lapangan,  saya sudah memanggil panitia. Saya saat itu sudah menyimpulkan, bahwa antara yang dimaksud oleh panitia berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang selain mereka. Itu yang saya sampaikan pada mereka. Bahwa apa yang kalian maksud itu bagus tapi ekspresi bahasa tulis justru kebalikannya.

UIN_Sunan Ampel Oscar3a
Gaya seorang mahasiswa senior dalam kegiatan Orientasi Studi Cinta Akademik dan Almamater (OSCAAR) mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran UIN Sunan Ampel [Foto: ISTIMEWA]

Apa tindakan Anda waktu itu?

Akhirnya kita minta spanduk diturunkan. Hari Kamis sore spanduk diturunkan dan kita mencoba mengganti tema. Bahkan Sabtu pagi, atas kesadaran sendiri, anak-anak (Panitia OSCAAR) membuat acara teatrical dan atas kesahalannya, spanduk itu dibakar.

Apa alasannya membakar?

Akhirnya anak-anak bisa sadar, bahwa apa yang mereka pahami belum tentu sama dengan apa yang dipikirkan publik.

Maksudnya?

Pikiran anak-anak kan begini… maklum namanya pikiran anak muda. Mereka itu memandang bahwa itu seperti kuliah di kelas dan bisa terjadi diskusi yang nanti akan menemukan titik temu pemahaman. Tapi justru itu yang tidak dipahami anak-anak. Bahwa sebenarnya ruang terbuka akan membuka sebuah tulisan bisa dibaca siapapun, termasuk media massa.

Dasar pikiran anak-anak yang belum panjang, itu belum bisa disadari. Bahwa kita ini tinggal dan hidup bukan di tengah hutan, seolah-olah tidak berdampingan dengan masyarakat. Jadi kita kita ini bagian dari sistem kehidupan di mana antara satu sistem dengan sistem lain tak dapat dipisahkan. Itu yang belum dipahami anak-anak.

Padahal mestinya itu adalah forum debatable yang mestinya harus didiskusikan di kelas, tetapi mereka belum bisa menangkap lebih jauh ekses yang dilakukannya.

Misalnya begini, jangan semata-mata ini disebut kajian akademik. Kalaupun terus melakukan dakwah (terkait theologi atau ke-ushuluddin-an) maka sebaiknya harus menggunakan cara yang baik. Sesuatu (maksud) yang baik itu harus dilakukan dengan cara yang baik dan situasi yang baik pula.

Apa yang Anda katakan pada panitia?

Saya katakan, jangan pernah menggunakan asumsi semua orang itu sama dengan pikiran Anda (panitia OSCAAR, red). Itu yang saya katakan. Namanya anak-anak belum dewasa, seolah apa yang mereka pikirkan tidak mengganggu orang lain.  Seolah-olah ini kuliah di kelas di mana jika di ruang kelas ada suasana diskusi dan penyelesaian. Jika ada orang tidak sependapat bisa membantah dan pada akhir diskusi ada titik temu.

Apa kesimpulan bapak atas kasus ini?

Kesimpulan saya, momen-momen dan cara-cara yang digunakan para mahasiswa itu belum cukup arif.

Ada sebagian pendapat, peristiwa ini akibat dari buah Fakultas Ushuluddin di UIN atau IAIN yang mengajarkan paham liberal dan kebebasan, paham semua agama sama?

Sebenarnya tidaklah sejauh itu. Kita mengkaji agama itu basic-nya tetap Islam. Kita mempelajari agama orang lain itu juga atas dasar agama kita (Islam, red). Jadi bukan berarti kita menyetarakan dengan agama lain sama dengan agama kita.

Karena dengan ajaran agama kita pun, kita diajarkan bagaimana kita bertetangga dengan orang beragama lain. Bagaimana kita hidup di tengah-tengah masyarakat. Jadi kita bisa membedakan di mana sesuatu harus dibedakan. Antara Islam dan non-Islam ya harus tetap dibedakan. Hal-hal yang bersifat universal, ada di semua agama, itu tetap kita perlakukan sebagai sesuatu yang universal.  Sehingga posisi kita jelas.

Kalaupun kita ada kajian agama-agama lain, itu berangkatnya dari Islam.

Tapi aksi mahasiswa itu mencemaskan banyak orang?

Ya saya faham. Tetapi sedih jika ini disebut penistaan agama.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IAINperguruan tinggi islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wahai Ayah, Bermainlah Bersama Anak-Anakmu
Tulisan selanjutnya Protes Anti-Pemerintah Memburuk Parlemen Pakistan akan Rapat Darurat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Berita
28 Mei 2026 19:41
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?