Hidayatullah.com–“Saya selalu dianggap sebagai pemimpin, kepalanya,” kata John Freitas, pria brewok berusia 55 tahun, sebagaimana dikutip dalam sebuah laporan The New York Times mengenai tunawisma di Amerika (30/7).
“Saya adalah orang yang dimintai pendapat, tentang ‘Di mana saya harus mendirikan tenda?’,” katanya menceritakan peranannya sebagai “kepala suku” sebuah komunitas tunawisma.
Sekitar 80 orang tinggal di perkampungan tuawisma yang beralamat di Camp Runamuck, bawah jembatan, tepi sungai Providence, kota Providence, Rhode Island, Amerika Serikat.
Freitas dulunya adalah seorang pengawas di sebuah pabrik Setelah bekerja bertahun-tahun nasib membawanya ke bawah jembatan itu.
Nasib yang sama menimpa pacarnya, Barbara Kalil. Wanita berusia 50 tahun itu dulunya bekerja sebagai perawat yang merawat pasien di rumah. Akibat PHK dan masalah kesehatan, ia harus rela pindah dari sebuah apartemen ke sebuah ruangan motel. Tapi sayang, keadaan tidak membaik, ia justru kemudian harus tinggal di penampungan dan kemudian di bawah jembatan.
Berhasil membangun tempat tinggal di bawah jembatan, di pinggir kali, bukan berarti hidup pasangan luar nikah itu tenang. Beberapa kali petugas berwenang mampir, untuk menyampaikan pesan–tentu saja secara baik-baik dan manis, tapi tegas–bahwa mereka semuanya harus segera angkat kaki dari tempat itu.
“American Dream” sepertinya semakin menjauh dari mimpi-mimpi rakyat Amerika. Bagaimana tidak, pemerintah negara yang katanya adidaya dan pemimpin dunia itu, sepertinya lebih senang memanjakan segelintir orang kaya dan menembaki orang-orang tidak berdosa di luar negeri, daripada mengurusi rakyatnya yang sengsara.
Raquel Rolnik, seorang investigator khusus PBB, yang dulu pernah dilarang mengunjungi AS oleh pemerintahan George W. Bush, menuduh pemerintah Amerika “menutup-nutupi” masalah tunawisma yang semakin parah, sementara negara mengucurkan milyaran dollar hanya untuk menyelamatkan beberapa buah bank dan perusahaan besar.
Pelapor khusus PBB untuk hak atas perumahan yang layak itu baru saja menyelesaikan kunjungannya ke tujuh kota di Amerika Serikat. Wanita tersebut mengatakan, adalah sangat memalukan sebuah negara sekaya AS tidak mengucurkan dana untuk mengangkat warga negaranya yang tuna wisma dan hidup di bawah standar, berdesak-desakan di dalam rumah yang melebihi daya tampung.
“Bagi sebagian orang, krisis perumahan di AS tidak kelihatan,” kata Rolnik.
“Saya mengetahui dari kunjungan ini, bahwa perumahan yang terjangkau dan kemiskinan merupakan hal yang belum dianggap masalah. Bahkan ketika kita bicara tentang krisis keuangan dan langkah pemerintah untuk memulihkan ekonomi, tidak ada bantuan seperti itu (kucuran dana) untuk para tunawisma.”
Ia menambahkan, “Menurut saya, yang paling menderita dalam situasi sekarang ini adalah mereka yang sangat miskin, penduduk yang berpenghasilan rendah. Hambatannya adalah, ketidakadilan terhadap mereka dan tentu saja terhadap orang Amerika keturunan Afrika, Latin dan komunitas immigran, serta terhadap penduduk asli Amerika (Indian).”
Rolnik berkeliling ke Chicago, New York, Washington dan Los Angeles. Ia juga mengunjungi Wilkes-Barre, sebuah kota kecil di Pennsylvania, di mana tahun ini ada lelang yang menawarkan 598 properti hasil sitaan karena terlilit kredit atau hutang bank. Selain itu ia juga mengunjungi tempat suaka orang Indian.
Pemerintah tidak menyebutkan secara jelas berapa jumlah tunawisma yang ada di AS. Namun, organisasi-organisasi pemerhati masalah itu mengatakan, jumlahnya lebih dari 3 juta orang dalam satu kurun waktu di tahun lalu. Kelompok tuna wisma yang paling cepat peningkatan jumlahnya adalah keluarga yang memiliki anak, yang kebanyakan adalah orangtua tunggal.
Setiap malam di Los Angeles, setidaknya 17.000 orangtua bersama anak-anaknya menggelandang. Sebagian menemukan tempat untuk berteduh, tapi banyak pria dan wanita lajang yang terpaksa tidur di pinggir jalan.
Los Angeles yang dijuluki ibukota tunawisma Amerika, mengalami kenaikan pesat jumlah rumah yang disita bank, yaitu sebanyak 18 kali lipat. Pengusiran atas pemilik rumah atau penyewa rumah meningkat sebanyak 10 kali lipat. Tahun lalu saja di LA sebanyak 62.000 orang dipaksa keluar dari rumahnya.
Uang tunjangan kesejahteraan tidak mencukupi untuk membayar sewa, belum lagi untuk membeli makanan dan keperluan lainnya. Setiap orang yang mendapatkan tunjangan di Los Angeles menerima USD 221 setiap bulannya. Jumlah itu tidak pernah berubah selama satu dekade. Sementara harga sewa satu ruangan sekitar dua kali lipatnya.
Gelandangan
Jika melihat laporan pada Juli lalu yang dibuat oleh US National Law Center on Homelessness & Poverty dan US National Coalition for the Homeless, diperkirakan ada 311.000 penyewa di seluruh AS yang ditendang keluar dari tempat tinggalnya.
Dari sejumlah tempat memprihatinkan yang dikunjungi Rolnik, yang paling parah adalah tempat suaka bagi suku Indian di Pine Ridge, South Dakota.
“Anda akan melihat ketidakberdayaan yang sangat, keputusasaan, keadaan yang sangat buruk. Saya tidak menemukan, di tempat yang sudah saya kunjungi, yang lebih parah daripada kondisi perumahan di Pine Ridge. Penuh sesaknya tidak ada tandingan.”
“Mereka tidak terlihat, (karena) mereka diisolasi, mereka berada di tempat yang jauh. Mereka seperti hilang begitu saja,” kata Rolnik.
Ironisnya, menurut National Low Income Housing Coalition dalam laporannya tahun 2005, sebelum “krisis besar” tahun 2007, dukungan pemerintah federal (pusat) untuk perumahan bagi penduduk berpenghasilan rendah menurun sebesar 49% dari tahun 1980 hingga 2003. Kurang lebih 200.000 unit rumah sewaan untuk masyarakat umum dihancurkan setiap tahunnya. Padahal rumah sewaan itu merupakan harapan yang paling masuk akal bagi rakyat miskin untuk mendapatkan tempat tinggal.
Pada saat yang sama mereka harus antri dalam daftar tunggu untuk mendapatkan rumah tersebut, yang berarti sebelum itu mereka harus tinggal di tempat-tempat penampungan atau tempat lain yang lebih tidak layak.
Dalam laporan Konferensi Walikota AS tahun 2005, dari hasil survey di 24 kota, rata-rata mereka harus menggelandang terlebih dahulu selama 7 bulan sebelum akhirnya mendapat rumah sewa yang murah. Dan jumlah mereka pun dari tahun ke tahun terus bertambah.
Maka tidak keliru jika Rolnik mengatakan, hal yang paling memalukan adalah bahwa AS memiliki sumberdaya untuk menyediakan rumah yang layak bagi warganya.
“Di AS, sangat mungkin menyediakan rumah layak untuk semua orang. Anda memiliki banyak uang, banyak dollar tersedia. Anda memiliki banyak tenaga ahli. Keadaannya sangat memungkinkan untuk memberikan rumah sebagai bagian dari hak asasi manusia,” katanya.
Rolnik telah memberikan laporan lisan kepada departemen luar negeri AS, yang mendapat waktu satu bulan untuk memberikan tanggapan atas hasil observasinya. Ia akan menyerahkan laporan tertulis kepada Dewan HAM PBB awal tahun depan.[di,berbagai sumber/hidayatullah.com]