Tulisan sebelumnya
TIDAK mudah membina orang-orang yang terbiasa liar. Maka agar mereka betah duduk mengikuti pengajian, butuh berbagai kiat. Misalnya dengan memberi kuis. Itulah yang dilakukan Thoyyibah.
Dengan jurus-jurus seperti itu, perlahan-lahan makin banyak yang datang ke pengajian. Tidak hanya para penghuni Linponsos, melainkan juga masyarakat sekitar. Seperti disaksikan Suara Hidayatullah, sore itu yang hadir tak kurang dari 40 orang.
“Biasanya lebih banyak lagi. Karena pas hujan, sehingga warga kampung sekitar sini tak datang,” kata Suci.
Dengan pendekatan seperti itu, hubungan Thoyyibah dengan mereka sudah seperti anak dengan ibunya. Mungkin, lantaran merasa dekat itu, mereka kadang ada yang berani meminta uang. “Kalau lagi pas membawa uang ya saya kasih,” kata Thoyyibah yang kata Suci selama membina di Liponsos tak pernah di bayar.
“Baru tahun ini kita usulkan ada transpot,” Suci menambahkan.
Walau begitu, itu tak mengurangi dedikasi istri dari Sudarman, pensiunan petugas pemadam kebakaran di Surabaya ini. Menurut Suci, sangat jarang ustadzah lulusan sebuah pesantren di Gresik ini mangkir dari jadwal yang telah ditentukan. Bahkan sekarang dia menambah jadwal pertemuan. Dari seminggu sekali menjadi dua kali.
“Khusus Sabtu untuk mengajar baca al-Qur`an,” kata Suci.
Ada yang membuat terharu Thoyyibah. Usai memberi pengajian, tiba-tiba ada salah seorang di antara mereka merajuk sambil tidur dipangkuannya. “Dia minta saya bilang ke pimpinan Liponsos agar dia dipulangkan kepada keluarganya,” kata Thoyyibah.
Dia, kata Thoyyibah, ternyata punya kelainan jiwa. Dia baru saja membunuh ibunya, sikalipun itu dia lakukan tanpa sadar. Setelah di masukkan ke rumah sakit, dan keluarganya tak mau mengambil, akhirnya dikirim ke Liponsos.
Di samping orang-orang sakit jiwa, pasien lain ( begitu Suci menyebut para penguhuni Linponsos) adalah gelandangan dan pengemis (gepeng), dan juga lansia (lanjut usia) yang tak punya keluarga atau keluarganya tak mau mengambil. Mereka berasal dari Surabaya dan wilayah sekitarnya. Menurut Suci, sekarang ada sekitar 700 orang yang ditampung lembaga milik Dinas Sosial Kodya Surabaya itu.
“Daya tampungnya sebenarnya cuma sekitar 300 orang.”
Di Linponsos mereka dibina dengan diberi latihan berbagai ketrampilan, misalnya menjahit. Juga tak kalah penting adalah pemibinaan mental. Pembinaan yang dilakukan Thoyyibah adalah bagian dari pembinaan mental itu. Yang dibina Thoyyibah khusus pasien perempuan, sedangkan pasien laki-laki ada pembinanya sendiri.
Menurut Suci, ada perubahan antara sebelum dan sesudah mengikuti pengajian.
“Mereka menjadi lebih tertib dan tidak liar,” katanya.
Bila sudah baik, mereka dikembalikan kepada keluarga atau dikirim ke pelbagai yayasan sosial yang bersedia menampung. Anehnya, tak semua keluarga pedulu kepada mereka. Bahkan, kata Suci, ada juga keluarga tak bersedia menerima kembali. Yang repot itu kalau pasien sudah tak ingat lagi rumahnya dimana.
“Pernah kita mengantar pulang, tapi di tengah jalan balik lagi, karena pasien tak ingat lagi jalan ke rumahnya,” Suci menambahkan. Kalau sudah begitu, biasanya pasien itu bakal menjadi penghuni tetap Linponsos hingga ajal menjemput. */Bambang S/Suara Hidayatullah