Sambungan dari tulisan pertama
Bekal Kuitansi
Salah satu senjata liputan adalah kartu pers. Bagaimana jika itu tak ada? Ternyata justru sukses.
Tahun 1995, Akbar Muzakki, kepala produksi, masih jadi reporter. Dia diperintah oleh Hamim Thohari, pemimpin redaksi, untuk investigasi ke Timor Timur (Timtim), yang saat itu masih menjadi Daerah Operasi Militer (DOM).
Akbar terbang ke Kupang. Lalu jalan darat naik bus menembus Timtim. Ustadz Abdullah Azam dari Pesantren Hidayatullah Kupang sempat melarang. Berbahaya. Tapi ia penasaran ingin menikmati pemeriksaan di pos-pos militer. “Bisa jadi bahan tulisan,” pikirnya.
Setiap masuk pos militer, semua penumpang digeledah. Alhamdulillah lolos. Mungkin karena wajah brewoknya mirip warga setempat. Satu lagi, identitasnya sebagai wartawan tak ketahuan. Akbar memang tak membawa identitas pers. Justru inilah yang membuatnya aman.
Satu-satunya tanda pengenal yang dibawa adalah lembaran kuitansi. Yaitu surat tagihan dari Bagian Keuangan agar disampaikan ke agen. Jika berhasil menagih, uangnya bisa dijadikan ongkos perjalanan.
Obsesi selanjutnya, Akbar ingin menerobos markas pemberontak Fretelin. Seorang sahabat mempertemukannya dengan seorang anggota Fretelin di sebuah gereja. Mereka kemudian naik sepeda motor menuju padang ilalang sudut desa. Selanjutnya ganti mobil menuju sebuah rumah. Lanjut ganti mobil menuju sebuah gereja. Ganti mobil lagi menuju semak belukar. Lagi-lagi ganti mobil menuju sebuah rumah besar nan asri.
Pintu dibuka. Di ruang tamu telah tersedia minuman dan buah-buahan. Datanglah Mário Viegas Carrascalão, mantan gubernur Timtim, yang waktu itu jadi buron. Dia dikawal para klandestein dan pasukan Fretelin bersenjata.
“Saya yakin kamu bukan intel. Apa keperluanmu?” katanya sambil berjabat tangan.
Akbar kemudian mewawancarainya. Suasana santai dan diselingi canda tawa. Lalu Akbar pamit. Seorang berbadan kurus mendampingi keluar rumah. Katanya, “Silakan jalan lurus hingga ketemu jalan besar. Jangan tengak-tengok ke belakang agar tidak ditembak!”
Ternyata, hanya jalan sekitar 5 menit sudah sampai jalan protokol Dili. Wah, tadi diputar-putar setengah hari rupanya untuk menghilangkan jejak!
Salah satu godaan bagi wartawan adalah “imbalan” yang berseliweran. Ini antara lain pernah dialami oleh Ahmad Damanik, redaktur, ketika membongkar makanan haram.
Ia memburu seorang bos warung bakmi terkenal yang disinyalir mengandung bahan haram. Mungkin karena bisnisnya terancam, si bos menyerahkan segepok uang dalam bungkusan koran. Untuk transport katanya. “Bungkusan itu cukup tebal. Mungkin isinya jutaan,” kenangnya.
Ahmad menolak. “Maaf Pak, biaya operasional dan gaji dari kantor saya sudah cukup,” kisahnya sambil tertawa, mengingat gajinya yang sebenarnya saat itu tak seberapa.
Ditinggal Narasumber
Bambang Subagyo, redaktur utama, juga punya pengalaman tak terlupa di Yogyakarta (2004). Ia memburu M Amien Rais yang maju jadi calon presiden. Begitu sulitnya karena narasumber amat sibuk.
Berjam-jam Bambang nyanggong Amien di rumahnya. Banyak tamu sehingga harus antri menunggu. Terkantuk-kantuk pula karena baru saja menempuh perjalanan panjang dari Surabaya. Mendadak perutnya terasa mulas. Bambang bergegas mencari toilet.
Plong, perutnya lega. Begitu kembali ke rumah itu, eh… Amien sudah terbang ke Jakarta. Masya Allah!* Pambudi Utomo (Diringkas dari Laporan Khusus “Ada Cerita di Balik Berita” majalah Suara Hidayatulah edisi Mei 2016/Rajab 1437)