WAKTU di arloji menunjukan pukul 8 pagi, Rabu, 27 September 2017 waktu Bangladesh, saat saya dan Tim Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) sedang melakukan rapat koordinasi. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masik di ponsel saya.
Pesan tersebut memang sudah beberapa hari ini saya tunggu. Pesan dari seorang mitra lokal yang jauh hari sebelumnya telah kita jalin komunikasi dan membantu dengan baik menyalurkan bantuan ke pengungsi.
Saya bahagia saat bertemu langsung dengan mereka.
Pada malam harinya, kami tim NGO Indonesia berkumpul membahas temuan dari hasil kerja Tim Advance, tim pembuka yang menyampaikan kondisi terkini di lokasi pengungsian.
Kondisi pengungsi Rohingya yang jumlahnya sangat banyak dan masih terus berdatangan, membuat situasi di lapangan menjadi sangat dinamis.
Di saat seperti ini, memang dibutuhkan strategi khusus dengan melibatkan mitra lokal, untuk membantu menyalurkan bantuan ke pengungsi yang jumlahnya tersebar di gunung-gunung dan lembah-lembah yang dijaga militer Bangladesh.
Baca: Kisah Dokter IMS di Bangladesh, Menyaksikan Kepiluan Pengungsi Rohingya
Banyak pos militer yang akan kita lewati saat menuju ke kamp pengungsi. Pemeriksaan setiap kendaraan yang lewat sudah jelas kita akan jumpai, lebih khusus mobil-mobil pengangkut, mobil penumpang, dan truk.
Banyak truk berisi bantuan untuk pengungsi Rohingya yang tertahan di pos-pos militer karena proses pemeriksaan dan perijinan yang mesti dilewati.
Di sini pemerintah dan militer bukan bermaksud menghalangi bantuan, namun lebih kepada ketertiban serta pemerataan saja. Mereka ramah dan sempat saya berfoto dengan mereka.
Dua jam waktu tempuh dengan angkutan sewaan CNG (sejenis bajaj) milik seorang warga untuk kami tiba di pos pertama. Mulai di sini tampak lahan bekas pengungsian yang sangat luas -mereka telah dipindahkan ke wilayah resmi milik pemerintah Bangladesh.
Karena kami tidak membawa barang, maka tentu perjalanan jadi lancar walau khawatir dengan cara berkendaraan orang di sini yang seolah tidak ada aturan lalu lintasnya.
Tidak jauh tampak dari sebeklah kiri ada tenda Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) Indonesia yang juga terpasang spanduk IHA. IHA memang di bawah izin dan koordinasi Kementerian Luar Negeri RI.
Baca: Ini Bantuan yang Dibutuhkan Para Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Mulai dari tempat ini telah banyak pengungsi Rohingya yang duduk di pinggir jalan, mereka mengharap belas kasih bantuan dari orang-orang yang lewat.
Banyak juga di antara mereka adalah laki laki tua, mereka berjalan dengan kaki yang penuh lumpur, seolah berjalan tanpa arah.
Sedangkan, para wanita dengan anaknya duduk di antara semak-semak mengawasi setiap kendaraan yang lewat, ‘berharap’ ada yang singgah membagikan Taka, mata uang Bangladesh. Di antara mereka ada yang sebagai pengungsi lama maupun pengungsi yang baru tiba dari Myanmar.
Kami terus melanjutkan perjalanan, dan ternyata apa yang kami jumpai selanjutnya makin membuat hati sedih.
Terlebih ketika tiba di lokasi pengungsian yang terbuat dari bambu dan plastik hitam, tenda-tenda darurat itu dibangun seadanya, memenuhi lembah hingga bukit-bukit yang terhampar sejauh mata memandang. Sungguh memprihatinkan kondisi dan penderitaan yang mereka alami. Wallahu musta’an.
Bibir ini jadi kelu, saya jadi bingung untuk memotret yang mana, kiri-kanan, depan-belakang, sama semua. Saya tak kuasa untuk menahan air mata melihat kondisi mereka.

Jumlah pengungsi yang besar membuat dampak besar tentunya kepada kondisi sosial mereka. Tim IHA telah mendapati langsung pengungsi yang meninggal di kamp-kamp tersebut. Bahkan sebelumnya, Tim medis IHA saat melakukan aksi medis di lapangan, mereka juga mendapati kondisi yang menyayat hati.
Ibu hamil melahirkan prematur, bayi lahir dengan panjang badan hanya sejengkal, harus lahir dalam kondisi yang serba memprihatinkan.
Saat berjalan menyusuri lorong-lorong kamp yang bisa membuat pusing arahnya, saya juga menemukan langsung wanita yang baru melahirkan dengan kondisi yang lemah dan perlengkapan yang kritis. Bayinya hanya ditutup dengan sarung dan bantal sebab tidak ada baju bayi yang mereka miliki.
Begitu banyak kisah tentang kondisi pengungsi etnis Muslim Rohingya yang sangat memilukan dan menyayat hati kita.
Jumlah pengungsi sekitar 700 sampai 800 ribu jiwa membuat suasana bagaikan perkemahan Pramuka dan pasar yang sangat padat pengunjung.
Setidaknya butuh waktu sepekan bahkan lebih untuk sekadar mengililingi pengungsi dari satu kamp ke kamp yang lain.* Syahruddin C Asho, Direktur LAZIS Wahdah