SEPERTI Kampoeng Ramadhan, kali ini kesibukan pengurus Masjid Jogokariyan kembali meningkat drastis. Segenap SDM yang ada dilibatkan, termasuk jamaah sekitar masjid. Tapi saat ini bukan sedang bulan Ramadhan.
Mereka tengah sibuk melayani para tamu dari berbagai daerah yang tengah berkumpul di Yogyakarta. Awalnya, para tamu tersebut menggelar acara di Masjid Gedhe Kauman. Namun kemudian, acara mendadak dipindahkan ke Masjid Jogokariyan.
Ya! Acara tersebut adalah Muslim United kedua. Perpindahan tempat acara yang digelar Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) Yogyakarta ini disambut gembira oleh pengurus Masjid Jogokariyan dan para jamaahnya.
Sabtu (12/10/2019) pagi itu, mereka pun bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatunya.
“Sekarang ada waktu lebih kurang 5 sampai 6 jam pengurus takmir Jogokariyan mempersiapkan infastruktur yang terkait Muslim United,” ujar Ahmad Luthfi Efendi, Pengurus Takmir Masjid Jogokariyan.
Baca: Kisah Peserta Muslim United dari Malaysia dan Harapannya untuk Generasi Muda
Muslim United ke-2 yang mendadak bergeser tempat acaranya itu digelar dari Jumat (11/10/2019) hingga Ahad (13/10/2019). Sempat digelar hari pertama dan kedua di Masjid Gedhe Kauman. Sabtu (12/10/2019) sore pukul 15.00 WIB sesuai jadwal, acara sudah dipindahkan ke Masjid Jogokariyan.
“Sabtu pagi memang ada kabar jika acara (Muslim United) ini akan dipindah panitia. Tapi awalnya ingin dipindah ke UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Yogyakarta. Tapi tidak tahu kenapa tidak jadi,” cerita Krishna Yuniar, Humas Takmir Masjid Jogokariyan kepada hidayatullah.com, Ahad (13/10/2019).
Mulanya, acara yang mendatangkan puluhan ustadz dan tokoh nasional ini berjalan dengan baik di Masjid Gedhe Kauman. Hari pertama acara ini berjalan lancar, bahkan antusias peserta memenuhi ruang utama masjid, halaman, dan sebagian alun-alun utara.
Hanya saja, Sultan Yogyakarta yang memiliki otoritas tempat itu tidak menginzinkan dan meminta kegiatan di Masjid Gedhe Kauman itu dihentikan. Demi kebaikan panitia pun memutuskan memindahkan arena Muslim United.
Bukan perkara mudah bagi panitia untuk memindahkan peserta dan semua peralatan acara, jumlah panitianya saja lebih dari 1.000 jumlahnya. Memindahkan arena Muslim United butuh waktu dan energi yang besar. Apalagi dalam waktu singkat.
“Kita kemarin jam 10.30 WIB itu disuruh kumpul oleh Mas Fanny. Semua takmir dan elemen Masjid Jogokariyan diminta untuk berkumpul,” kata Krishna yang juga Koordinator Media Takmir Masjid Jogokariyan ini.
Setelah semua takmir dan elemen masyarakat Jogokariyan berkumpul, lalu diberitahu lah bahwa Masjid Jogokariyan akan dijadikan sebagai tempat Muslim United.
Maka takmir langsung mengumumkan kepada seluruh warga untuk meminta berpartisipasi dan memberi izin, karena sepanjang jalan akan dipakai untuk kegiatan ini.
Takmir dan warga Jogokariyan semangat berpartisipasi melayani tamu-tamunya. Karena ruang masjid tak cukup menampung seluruh peserta, maka sepanjang jalan Jogokariyan disulap jadi majelis peserta Muslim United.
“Kita juga minta toilet warga bisa disediakan sebagai toilet dan tempat wudhu peserta yang banyak ini,” tambah Krishna.
Selain itu, warga Jogokariyan juga diminta untuk melayani peserta Muslim United.
“Alhamdulillah kita juga bisa memberikan nasi bungkus kepada peserta. Bahkan kami buka rekening partisipasi, banyak infaq masuk untuk menyiapkan kegiatan ini,” kata Krishna.
Baca: FUI Yogyakarta: Muslim United Bentuk Kepedulian Anak-anak Muda
Menurut Krishna, awalnya peserta Muslim United memang bukan jamaah Masjid Jogokariyan. Tapi karena dilaksanakan di Masjid Jogokariyan, maka mereka menjadi jamaah Masjid Jogokariyan. Prinsip Masjid Jogokariyan adalah maksimal pada pelayanan kepada jamaah.
“Karena masjid kita ini kan melayani jamaah. Apalagi banyak peserta dari luar kota maka kita harus melayani mereka termasuk makan. Dari awal bagi kami. Kami ingin memberi pelayanan yang bagus bagi jamaah Masjid Jogokariyan,” tambahnya lagi.
Selain itu, Masjid Jogokariyan juga ingin membangun citra Muslim United yang baik. Walaupun arena acara besar ini dimintah pindah, acara ini tetap bisa berjalan lancar dan peserta tetap bisa nyaman mengikuti acara ini.
Pengurus Masjid Jogokariyan mengaku sudah terbiasa mengadakan Kampoeng Ramadhan, yang melibatkan panitia dan hadirin yang jumlahnya besar. Dari situlah sebagai modal berharga masjid itu menjadi arena Muslim United bertema “Sedulur Saklawase” ini.
“Bagi kami, Masjid Jogokariyan adalah rumah bagi semua,” ujar Krishna memberi tahu tentang semangat Masjid Jogokariyan.
Salah seorang peserta Muslim United, Ahmad Arif, asal Jepara mengaku merasa nyaman di Masjid Jogokariyan.
“Saya dapat makan di sini. Sebenarnya kalau lapar bisa cari (makan) di sekitar sini. Berhubung banyak pembagian nasi, saya ambil,” ujar Arif.
Ahmad Arif mengaku bukan pertama kalinya ke Masjid Jogokariyan. “Saya sudah dua kali ke sini. Dapat makan terus,” katanya.
Ustadz Abdul Somad (UAS) berharap acara Muslim United ini bukan hanya slogan tapi merupakan komunitas untuk menjaga persatuan.
“Mudahan jamaah kita ini tetap solid dan kuat. Seimbang antara solid dan shalat. Jangan shalatnya hebat tapi tidak solid. Jangan pula terlalu solid tapi tidak shalat,” nasihat UAS dalam tabligh akbar Muslim United ke-2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu malam (12/10/2019).* Rofi Munawwar