“USTADZ, kira-kira jam berapa mulai boleh datang ke masjid?”
Pagi-pagi seorang pria bertanya kepada pengurus masjid. Di tempat ibadah ini akan digelar kegiatan besar. Beratus-ratus orang hadirinnya. Satu orang pembicaranya. Banyak yang menantikannya.
Kegiatan tersebut adalah Jumatan. Biasanya, tidak ada ketentuan jam berapa masjid dibuka untuk menggelar shalat Jumat. Datang ke masjid lebih cepat tentu lebih baik, begitu agama mengajarkan.
Biasanya pula, tak ada jamaah yang bertanya jam berapa masjid mulai dibuka. Tinggal datang saja.
Namun kali ini, munculnya pertanyaan jamaah Masjid Baitul Karim tersebut bisa dimaklumi. Pasalnya, Jumat, 5 Juni 2020 itu adalah hari pertama masjid yang belum lama diresmikan Wakil Presiden ini akan menggelar shalat dan khutbah Jumat di masa pandemi Covid-19.
Sebelumnya, masjid yang terletak di Jl Cipinang Cempedak 1, Polonia, Jakarta Timur ini, turut menutup pintu bagi publik. Begitu pula kebanyakan masjid lainnya di DKI Jakarta, selama Gubernur Anies Baswedan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai Jumat, 10 April 2020 lalu.
Otomatis, selama 8 pekan, masjid yang peletakan batu pertamanya dilakukan Gubernur Anies pada awal 2018 lalu ini sepi dari aktivitas Jumatan dan shalat fardhu lima waktu sebagaimana biasanya.
Selama itu pula, para jamaah masjid, yang kebanyakan masyarakat sekitar Cipinang Cempedak, Kebon Nanas, Otista Raya, bahkan ada yang tinggal hingga berkilo-kilometer dari Masjid Baitul Karim, memendam rindu dengan masjid beruangan cukup besar dan full AC tersebut.
Sampai beberapa waktu kemudian. Mulailah terdengar wacana pemerintah pusat akan menerapkan kehidupan normal baru (new normal), di antaranya dengan membuka masjid-masjid. Saat itulah, tampak sebagian jamaah Masjid Baitul Karim sudah menggebu-gebu ingin melepas rindu “berasyik-khusyuk” ibadah di masjid.
“Ane siap cuci tangan, (pakai) masker, disemprot (disinfektan). Sampai masjid (harus) mandi juga boleh,” ujar salah seorang jamaah di grup WA jamaah masjid tersebut, 29 Mei 2020, agak bergurau tapi serius, menyebutkan sejumlah protokol kesehatan pencegahan Covid-19.
Masker “Ekstrem”
“Jam 11-an InsyaaAllah udah sangat bisa.”
Salah seorang pengurus Masjid Baitul Karim menginformasikan di grup WA, Jumat (05/06/2020) pagi. Ini jawaban atas pertanyaan jamaah mengenai jam berapa mereka bisa masuk masjid hari perdana itu.
Maka berbondong-bondonglah jamaah dari berbagai penjuru menuju masjid. Tak cuma Baitul Karim, berbagai masjid lainnya di Jakarta hari itu menjadi daya tarik massa.
Pantauan hidayatullah.com beberapa saat menjelang waktu shalat siang itu, ramai-ramai orang berpakaian shalat hilir mudik di jalan. Baik jalan raya maupun jalan kecil dan gang-gang sempit. Pemandangan yang baru terlihat lagi setelah berbulan-bulan dirindukan.
Menariknya, dimana-mana para jamaah kali ini pada melengkapi diri dengan masker-masker masing-masing. Penggunaan masker merupakan salah satu langkah pencegahan penyebaran virus corona.
Begitulah protokol yang diterapkan di banyak masjid, termasuk Baitul Karim.
“Alhamdulillah, InsyaAllah Masjid Baitul Karim Hari ini akan kembali menyelenggarakan shalat Jumat.
Sesuai arahan MUI ada beberapa ketentuan yang harus kita perhatikan bersama untuk menjalankan protokol kesehatan,” pengumuman dari DKM Baitul Karim, Jumat itu.
Protokol tersebut di antaranya: Berwudhu dari tempat tinggal masing-masing; Memakai masker; Membawa sajadah dan Al-Qur’an sendiri; Menjaga kebersihan dan menjaga jarak.
“Dan sesudah shalat, jamaah tidak tinggal di dalam masjid,” tambahnya, seraya berdoa agar Allah Subhanahu Wata’ala memberikan perlindungan kepada kita semua.
Protokol kesehatan itu menjadi kebiasaan baru yang mesti dijalankan setiap jamaah secara ketat. Memang dirasa agak merepotkan bagi yang belum terbiasa. Namun, semangat menunaikan shalat berjamaah mengalahkan kerepotan itu.
Lihat saja di Baitul Karim. Para jamaah, mulai anak-anak hingga orang tua lanjut usia, tampak semringah menuju masjid. Semangat mereka terlihat menggebu-gebu, disambut pintu masjid yang akhirnya kali ini dibuka lebar-lebar setelah puluhan hari lebih banyak ditutup rapat.
Setelah melewati gerbang, para jamaah mesti melewati pemeriksaan suhu tubuh. Sejumlah petugas bersiaga dengan thermo gun di tangan masing-masing. Ada Suhardi Sukiman, Ketua Umum Syabab (Pemuda) Hidayatullah periode 2016-2019. Juga Deden Sugianto, pengurus PosDai DKI Jakarta. Keduanya ditemani petugas keamanan masjid. Mereka berjibaku memeriksa suhu tubuh satu per satu orang yang masuk kompleks masjid. Mereka bekerja sebagai sukarelawan.
Sebelum masuk ke ruang shalat, tersedia beberapa botol hand sanitizer untuk jamaah membersihkan tangan. Jamaah tampak memanfaatkan layanan gratis yang dipersembahkan Islamic Medical Service (IMS) bersinergi dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) ini.
Di ruang shalat, pengurus masjid telah memasang batas-batas shaf shalat dengan isolasi, sebagai jarak jamaah. Saat ruang utama shalat sudah cukup kapasitasnya, petugas mengarahkan jamaah menempati selasar masjid di utara dan selatan.
Karpet masjid pun telah digulung dan disimpan. Lantai yang “pelontos” apa adanya telah dibersihkan.
Untuk pertama kalinya, suasana baru pun terhampar di masjid. Selain peci dan baju shalat, kali ini setiap jamaah memakai atribut tambahan. Masker mereka bermacam-macam motif, bentuk, dan warnanya. Ada masker khusus medis yang banyak dijual di apotek, ada masker kain dengan tali diikat ke belakang kepala, ada pula masker kain dengan lubang telinga tanpa tali pengikat.
Uniknya, pantauan hidayatullah.com, ada seorang jamaah yang maskernya cukup ekstrem. Jamaah ini menutup hampir seluruh tengkoraknya dengan sorban putih cukup tebal, melilit dari kepala, menutupi hampir seluruh wajah, sampai ke leher dan dada. Mirip Muslimah bercadar. Untungnya ruangan masjid cukup dingin, kalau tidak, dijamin ia bakal kepanasan.
Jumat itu, suasana sakral berlangsung selama ibadah berjamaah. Khatib menyampaikan pesan agar umat memetik hikmah dari wajah global.
Pekan berikutnya terjadi peningkatan jamaah Jumat. Buktinya, pada Jumat kemarin, 19 Juni 2020, pihak takmir Masjid Baitul Karim memperluas tempat untuk shalat. Tadinya cuma di lantai satu, kali ini sampai ke lantai dua. Maklum, kapasitas masjid dikurangi sesuai peraturan pemerintah.
Memang, berbagai aturan dalam protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah, disambut dengan sigap para jamaah. Setidaknya yang terlihat di situ.
Namun demikian pada kenyataannya di banyak masjid, protokol pencegahan Covid-19 itu tak sepenuhnya berjalan dengan baik. Hal ini dirasa memang tak mudah, apalagi di kawasan padat penduduk.
Sebagaimana pantauan hidayatullah.com di sebuah masjid jami, tak begitu jauh dari Stasiun Citayam, Kota Depok, Jawa Barat. Pada Jumat (19/06/2020), masjid tampak dipenuhi beratus-ratus jamaah sampai ke lantai dua. Alih-alih jaga jarak antar jamaah, yang terjadi malah kepadatan. Sampai-sampai tangga masjid pun terpakai untuk shalat. Begitu pula, hanya sebagian yang terlihat mengenakan masker. Daerah sini memang kawasan padat permukiman.
Pada masjid lain, wilayah Kalimulya, Depok, sebuah masjid hingga saat ini tetap menerapkan jaga jarak antar jamaah, ditandai dengan simbol silang di sebagian keramik pada lantai masjid yang digulung karpetnya. Pada hari Jumat, dilakukan pengecekan suhu tubuh jamaah tapi tidak rutin pada hari-hari lain. Di sini pun, jamaah tidak diwajibkan bermasker meski sebagian jamaah tetap mengenakannya.
Memang tak mudah menerapkan semua protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang diberlakukan pemerintah tersebut pada era normal baru saat ini.
“Kalau tidak dibantu, kerepotan saya (mengecek suhu tubuh dan memeriksa masker setiap jamaah setiap shalat),” ujar Zul, seorang penjaga sebuah masjid di DKI Jakarta kepada hidayatullah.com beberapa hari lalu.
Dilema memang. Pada satu sisi semangat umat Islam beribadah di masjid tak bisa dibendung lagi. Pada sisi lain, kasus Covid-19 juga belum menunjukkan tanda akan segera berakhir.
Sementara, penerapan protokol kesehatan itu membutuhkan sumber daya manusia, finansial, dan energi yang tidak sedikit. Satu unit thermo gun saja harganya sudah menguras celengan masjid yang saat pandemi justru minim pemasukan. “Sampai jutaan rupiah (per unit thermo gun),” ujar salah seorang relawan masjid di Jakarta. Pemerintah pun diharapkan memberikan solusi atas problem ini.
“Semangat solat berjamaah berimbang dengan semangat mengatasi wabah. Di mesjid selalu jaga jarak, pakai masker, dan sering cuci tangan pakai sabun. Covid19.go.id,” bunyi pesan singkat (SMS) yang diterima awak hidayatullah.com dari Gugus Tugas pada Sabtu (13/06/2020) lalu.* Muh. Abdus Syakur