Hidayatullah.com –Abdul Aziz masuk Islam kala masih remaja belasan tahun. Pemuda berusia 25 tahun lulusan sekolah manajemen itu dulunya menganut agama Kristen. Tahun ini dia menunaikan ibadah haji untuk mendapatkan pencerahan.
Abdul Aziz yang berasal dari Prancis selatan itu menolak menyebutkan nama depannya dulu, saat belum memeluk Islam. Ia juga enggan bercerita banyak tentang latar belakang pribadi pada wartawan Arab News yang mewawancarainya di Mina.
Katanya, negaranya tidak terlalu terbuka pada perbedaan budaya dan agama. Agak ironis, karena Prancis adalah negara dengan jumlah Muslim terbesar di Eropa.
Saat remaja Abdul Aziz mulai bertanya-tanya tentang keyakinannya.
“Sejak remaja, saya sering berpikir seperti apa hidup setelah mati,” katanya.
“Oleh karena itu saya banyak melakukan penelitian. Saya tidak mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu dalam ajaran Kristen.”
Beruntung negaranya adalah negara kosmopolitan, ada banyak orang dengan beragam kepercayaan di sana. Sehingga ia bisa bertanya dan berdiskusi dengan teman dari berbagai agama.
“Saya bicara dengan teman-teman Yahudi, teman-teman Muslim, dan kami mendiskusikan masalah agama. Tapi tentu saja di sana ada banyak perspektif. Maka saya pun memutuskan untuk melakukan pencarian sendiri,” cerita Abdul Aziz.
Dia melahap banyak buku dan merambah dunia maya, hingga akhirnya menemukan jawaban di dalam Islam.
“Dalam Islam tidak ada kontradiksi. Semua logis.” tegasnya.
Dia menambahkan, “Dalam Kristen, saya menemukan beberapa hal yang tidak berhubungan satu sama lain. Dalam Islam saya tidak menemukan kontradiksi semacam itu.”
Pada usia 17 tahun, pemuda bersuara lembut dan ramah itu membuat keputusan besar dalam hidupnya. Menyatakan masuk Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat, disaksikan teman-temannya.
Meskipun tidak percaya dengan keputusannya, keluarga Abdul Aziz berusaha membuka pikiran mereka sebelum benar-benar dapat menerima kenyataan itu.
“Mereka mengajukan beberapa pertanyaan pada saya, karena mereka takut tentang (fundamentalis) yang berusaha mempengaruhi orang lain untuk menjadi ekstrimis.”
“Saya jelaskan pada mereka mengapa saya memilih Islam, (yaitu) karena saya takut akan kematian. Setiap malam, sebelum saya tidur, saya selalu bertanya pada diri sendiri apa yang akan terjadi di kehidupan setelah mati. Maka saya jelaskan hal itu kepada ayah, dan dia menerimanya,” kan Abdul Aziz.
Pemuda lajang itu mengatakan belum tahu bagaimana rasanya pengalaman berhaji, jika belum tuntas melaksanakan semua ritualnya.
“Ketika saya berada di Makkah, saya melakukan umrah. Saya tidak tahu kalau waktu itu kami memulainya di Makkah,” ceritanya.
“Saya kira akan melaksanakannya setelah haji, karena saya sedikit agak tegang. Saya ingin melakukan semua (rangkaian ibadah) dengan benar.”
Katanya, dia ingin mendapatkan pencerahan setelah tuntas menunaikan ibadah haji, karena telah menunaikan salah satu rukun dari 5 kewajiban menurut agamanya yang baru, yaitu Islam.[di/an/ hidayatullah.com]
Foto: Warga Muslim di Prancis turun ke jalan, membawa nama-nama ilmuwan besar Muslim yang turut menyumbang kemajuan peradaban dunia.