Hidayatullah.com | HAMZAH Akbar, 49 tahun, bersimbah keringat di kebun. Cangkulnya sudah berkali-kali mengoyak tanah. Meski matahari cukup menyengat, ia tetap semangat.
Satu per satu ditanamnya bibit-bibit singkong. “Kurang 100 batang,” ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Pusat Balikpapan ini.
Dia bukan seorang petani. Tapi, bersama para ustadz dan santri, mereka semangat bertani. “Pokoknya kita penuhi (bibit) semua lahan ini,” ujarnya kepada seorang pengasuh santri, Ramadhan lalu.
Pondok Pesantren (Ponpes) Ummul Quro di Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur ini sedang memperkuat ketahanan pangannya. Lahan-lahan produktif ponpes di bawah naungan YPPH Pusat Balikpapan ini terus diperluas.
Semua penghuni Ponpes –kecuali uzur– terjun langsung jadi “petani” meski sedang berpuasa. Wabah virus corona yang berdampak pada kegiatan dakwah jadi pemecut tersendiri.
“Pandemi Covid-19 hanya momentum. Asalnya, santri dan warga Hidayatullah sejak dulu akrab dengan alam. Bahkan dalam sejarah, pesantren ini pada era 1980-an pernah sampai mensuplai sayur-sayuran ke pasar-pasar umum di luar pesantren hingga ke kota Balikpapan,” ujar Hamzah dikutip Majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2020 lalu.
Di awal berdirinya ponpes berusia 47 tahun ini, santri dan warga mengandalkan cangkul, parang, dan alat tradisional lain saat berkebun.
Geliat itulah yang dilanjutkan dan dikembangkan. Di era modern, ponpes yang punya danau-danau buatan ini mempertahankan kegiatan agraria. Apalagi kini dibantu alat berat, mulai dari pembuatan akses jalan, irigasi, kanal, dan lainnya. “(Kampus) potensial untuk jadi destinasi agrowisata.”
Klop, sebab didukung banyak instrumen. “Ada kepercayaan, ada pemodal, ada praktisi ekonomi, petani, tukang, guru, dan semuanya bergabung dalam satu komunitas,” ujarnya.
Warga menanam berbagai jenis pangan: singkong, ubi jalar, jagung, kacang tanah, kacang panjang, jahe, serai, pisang, nanas, rambutan, mangga, rambai, kelapa, kecapi, dan lain-lain. Ponpes juga punya hutan berisi ribuan pohon gaharu.
Ponpes menggarap tiga lokasi lahan berbeda, luasnya bisa sampai 10 hektare (ha). Total lokasi tanah pesantren saat ini sebanyak 138 ha.
Lahan dibagi jadi tiga peruntukan. Pertama, lahan halaqah (kelompok warga). Kedua, lahan yang bisa dikelola atas nama institusi khususnya pendidikan. Para guru atau dosen bisa barengan santri mengembangkan apa saja terkait pertanian dan pangan.
Ketiga, lahan untuk memfasilitasi warga secara pribadi atau keluarga yang punya kemampuan bertani. Luasnya sampai 50×50 meter persegi atau ¼ ha.
Hasil kebun, katanya, minimal bisa menyuplai kebutuhan ribuan santri. Ada dapur umum yang setiap hari membutuhkan sayur dan yang lainnya. Buah-buahan jadi asupan vitamin. “Santri sehat dengan imun terjaga.”
Hamzah mengatakan, satu paket ketahanan pangan, ponpes juga mengelola dan sedang mengembangkan Pasar Madani. Dikerjakan warga yang dipilih khusus. April lalu, dijalankan pelayanan delivery (pengiriman) barang secara online. Pelanggan cukup ketik pesanan lewat gawai di rumah, petugas siap mengantar.
Bisa dikata, perekonomian terkait pangan digenjot dari hilir dan hulu. “Semuanya diupayakan hanya berputar di tengah warga saja. Kebutuhan sayur-sayuran pasar akan ditanggung oleh kebun-kebun warga sendiri nanti,” ujarnya.
Digenjot pula peternakan puluhan domba dan ayam potong untuk kebutuhan daging dan protein hewani. Di sektor perikanan, ada ikan gabus, nila, mujair, dan lain-lain.
Sisi lain, berkebun dirasa bernilai refreshing tapi tetap produktif. Juga menjadi sarana menjaga kesehatan. “Dengan mencangkul badan keringat dan jadi sehat. Aliran darah lancar.”
Konsep yang dikembangkan pun berbasis halaqah. Setiap anggotanya berperan aktif, mulai menanam, merawat, hingga menjaga kebun masing-masing. Mereka urunan dalam pengadaan pupuk, bibit, dan sebagainya.
Koordinasi rutin dilakukan baik ketemu langsung di masjid atau via grup WhatsApp. Ada absensi saat kerja bakti setiap Ahad. “Harus serius menangani lahan halaqah,” Murabbi Halaqah 20, Abdul Ghofar memotivasi anggotanya, April lalu.
Jika bicara pandemi, ini hikmahnya juga. Warga yang rata-rata dai semakin memanfaatkan potensi lahan yang memang sangat luas. Selain itu, santri pun harus mengerti dan akrab dengan alam.
Lebih jauh, para santri didorong jadi pelopor di tengah umat. “Jadi penyuluh agama, ceramah, khutbah, dan mengajar al-Qur’an di masjid-masjid, dan jadi penyuluh pertanian dan peternakan sekaligus,” ujar Hamzah.
Ponpes optimistis, upaya ketahanan pangan itu menginspirasi dan bermanfaat besar termasuk bagi masyarakat umum. Sehingga, ada wabah atau tidak, bercocok tanam harus jalan terus.
“Besok mau kiamat saja, kita masih disuruh menanam,” ia mengutip pesan dari hadits Nabi tentang fadilah menanam. Tentunya, dakwah tetap digenjot pula.
Hikmah Pandemi
“Virus” positif berkebun itu menular kepada para pemuda yang lagi merintis Ponpes Aqshol Madinah di Blukus, Teritip, Balikpapan, dekat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Ketua Yayasan Ittihaadi Mardhatillah (YIM) Fathun Qarib –yang membawahi ponpes itu– menjelaskan, dari total luas lahan ponpes sekitar 5,5 ha, yang ditanami pangan sekitar 4 ha.
Singkong paling banyak ditanam. “Selebihnya ada jagung dan beberapa jenis sayuran serta buah buahan,” ujarnya secara terpisah.
Menanam, selain untuk ketahanan pangan, juga memaksimalkan lahan. Para pemuda membangun ponpes di sela-sela aktivitas mereka berdakwah, mengajar, bekerja lepas, dan lain-lain.
Kampus lainnya juga terjangkit semangat membangun dan meningkatkan ketahanan pangan. Seperti di Depok, Jawa Barat. Sejak 2018 lalu digarap Kebun Gizi Hidroponik Pesantren Hidayatullah Depok bekerja sama dengan Laznas BMH dan mitranya. Saat ada pandemi, ponpes memproduktifkan lahan kosong.
Geliat berkebun di ponpes lain pun demikian. Mulai dari Papua, Sulawesi, hingga Aceh. Begitu pula banyak lembaga dan ormas Islam lain.
Pegiat ketahanan pangan, Muhaimin Iqbal, mengapresiasi suburnya upaya berbagai lembaga keislaman dalam ketahanan pangan.
Founder Al Haya School of Life ini menilai, memang sudah seharusnya umat bergerak. Ia mensyukuri betul fenomena itu. “Alhamdulillah, itu hikmahnya (pandemi),” ujarnya dalam wawancara terpisah April lalu.
Direktur Gerai Dinar ini mendukung gerakan ketahanan pangan umat terus dipermantap. “Akan baik secara ekonomi juga,” ujarnya.*
- Kisah selengkapnya di Majalah Suara Hidayatullah Juni 2020