Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Spirit Adam, Motivasi Hidupku Meraih Akherat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juli 2021 22:36 10:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juli 2021 22:36
Bagikan
Ilustrasi: Santri PP Sidogiri
Bagikan

Hidayatullah.com | SAYA memiliki seorang teman yang bernama Adam. Dia merupakan salah satu teman  paling dekat.

Suatu hari ketika kami duduk bersama setelah shalat dzuhur di masjid bagian tiang belakang. Tidak seperti biasanya, saat itu saya melihat dia seperti sedang sedih dan merenung.

Saya memberanikan untuk menghampirinya dan menanyakan kenapa dia seperti itu. Dia pun menjawab dengan nada yang sedih,  katanya teringat dengan dengan almarhum sang ayah, sambil menatapku dengan mata yang berkaca kaca.

Sejenak, ia menceritakan pengalamannya kepadaku. 3 tahun yang lalu, tepatnya pada saat usianya menginjak 15 tahun, dia harus menerima kenyataan bahwa sang ayah telah dipanggil oleh Allah swt.

Kehilangan sesosok ayah yang begitu perhatian dan tegas, baginya  merupakan suatu hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Hal itulah yang membuatnya terpukul dan sedih karena, hingga hari ini.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Selain karena kehilangan sosok yang perhatian dan tegas padanya, Adam juga merasakan penyesalan yang amat besar karena semasa ayahnya masih hidup. Adam mengaku, kala itu,  ia termasuk anak yang nakal di sekolah dan susah dinasihati.

Namun sang ayah, dikenal berperangai sabar dan selalu menyayanginya. Bahkan tidak pernah lelah untuk menasihatinya.

Sepeninggal sang ayah, Adam berubah 180 derajat. Ia mengaku sempat mengalami stres dan syok berat akibat meninggalnya ayahnya tersebut. Bahkan Adam bilang kondisinya, sampai pernah tidak mau makan selama 3 hari berturut-turut, berdiam diri dikamar, dan tidak mau berkomunikasi dengan siapapun.

Syukurnya Ia masih memliki seorang ibu yang sabar seperti ayahnya. Sang ibu adalah sosok yang selalu memberikan perhatian dan pengertian kepadanya.

Bahkan ibunya tidak pernah lelah untuk selalu mendukung dan menyemangatinya. Sosok pengganti ayahnya itu tak lupa menghibur kesedihan Adam dan berusaha membuatnya ikhlas menerima kenyataan yang telah menjadi takdir Allah swt.

“Doakan saja yang terbaik untuk ayahmu, ya Adam. Semoga ayah bisa tenang di akhirat, berdoalah agar kita semua ibu, kamu, kakak, serta adikmu bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama ayah di Surga-Nya,” demikian salah satu pesan ibunya yang sangat mendalam.

Pesan sang ibu membuat Adam sadar dan berhenti melakukan  hal-hal yang di luar batas kewajaran, sebagaimana yang dia lakukan sebelumnya.  Lambat laun, Adam mulai mengerti, bahkan dia telah pulih dari depresi dan yang dialaminya.

Pihak keluarganyapun begitu bersyukur karena Ia tidak sampai benar-benar menutup diri ke semua orang dan mulai menjalani hidupnya seperti sedia kala. Satu pesan ibunya, agar berharap bisa berkumpul bersama di Surga, membuatanya termovitasi dalam hidup.

Dengan niat yang kuat, Adam akhirnya mutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren. Sebelumnya, ia  sekolah formal di SMP negeri di kota kecil.

Keputusannya ini didukung sang ibu dan membuatnya semakin yakin untuk masuk ke pondok pesantren.

Dunia Baru yang menjanjikan

Hidup di dunia baru, di pondok pesantren,  membuat Adam sedikit terkejut. Tidak pernah terbayangkan olehnya  menjadi santri, yang ternyata dinilai tidak mudah.

Sebelumnya dia mengira menjadi santri itu hanya sekolah dan belajar pendidikan Islam saja. Rupanya jauh di atas itu, ada  banyak sekali kegiatan rutin yang harus diikutinya.

Pada awalnya hal tersebut sangat sulit baginya. Bayangkan saja, seorang anak yang disekolahnya dulu merupakan anak yang nakal, susah bangun pagi sehingga sering terlambat masuk sekolah, sering tidak mengerjakan tugas, sekarang harus bangun pukul 02.30 pagi untuk melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) hingga pukul 04.00. Belum lagi dilanjut dengan shalat Subuh di jam 04.50 dan disambung lagi dengan tadarus Al-Qur’an hingga pukul 06.00 pagi.

Tidak berhenti sampai di situ, para santri harus segera bersiap-siap untuk sekolah hingga pukul 11.00, setelah itu persiapan shalat Dzuhur dan istirahat makan siang.  Lalu pada jam 15.30 shalat Ashar, dan setelahnya melakukan olahraga bersama, setelah itu mandi dan persiapan shalat Maghrib, dilanjut dengan tadarus Al-Qur’an lagi hingga masuk shalat Isya’. Semua kegiatan baru berakhir di pukul 22.00 malam.

Begitulah kehidupan baru di pobdok pesantren yang harus dilakukan oleh para santri termasuk Adam.  Tidak terasa sudah 3 tahun Adam melakukannya. Jika Adam merasa lelah menghafal Al-Qur’an, atau lelah belajar, dia selalu mengingat alasan kenapa dia ingin menjadi santri, maka dia harus siap menerima segala macam kegiatan dan segala macam peraturan yang ada di pesantren.

Dan benar saja, sekarang Adam sudah terbiasa dengan kehidupan pesantren yang dia jalani. Dia bahkan mengaku sangat bahagia menikmati masa-masa dia menjadi santri, banyak hal yang telah Adam dapatkan dan pelajari selama ini, salah satunya belajar menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, yang tentu saja hal itu diharapkan dapat memberikan peluang besar untuknya agar bisa membawa keluarganya untuk berkumpul bersama di Surga-Nya kelak.

Saya mendengar semua kisahnya dengan sangat merinding dan tersentuh. Saya terinspirasi oleh keikhlasan hatinya saat melepas kepergian sang Ayah, kegigihanya yang kuat untuk menjadi santri dan pantang menyerah dalam menghafal Al-Qur’an,  dan mempelajari Islam.

Semangatnya ini pula yang mendorong saya untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren. Dari Adam saya belajar bahwa bukan hanya saya saja yang kerap kali merasa lelah, tapi setiap orang juga pernah merasakannya lelahnya mencari ilmu.

Tapi bagaimanapun, pilihanya hanya dua. Memilih untuk menyerah atau tetap bertahan dan terus berusaha untuk meraih apa yang selama ini menjadi tujuan kita.

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,

Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,

Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya,” demikian nasehat Imam As Syafi’Ii yang membuat saya terus bersamangat.*/Dien Haq Abdillah Mahakam,  mahasiswa takhasus STAI L-Hakim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kisah inspiratifPondok Pesantrensantri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sertifikat vaksin Pemerintah:  Sertifikat Vaksin Covid-19 Belum Digunakan jadi Persyaratan Administrasi Apapun
Tulisan selanjutnya PBB: 53% Pengungsi Yaman adalah Anak-anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?