SEKITAR 700 penuntut ilmu dari berbagai negeri Muslim berkumpul di Madyafah Syeikh Ali Jum’ah yang berada di belakang komplek Unversitas Al Azhar As Syarif Kairo. Para penuntut ilmu berjubel di majelis ilmu tersebut, hingga meluber di luar. Kali ini ada yang istimewa dari majelis ilmu yang digelar, dimana Syeikh Usamah Said Mansi, ulama madzhab Maliki dari Makkah datang untuk menyampaikan periwayatan Asy Syifa fi Al Huquq Al Musthafa. Dimana di akhir majelis, ulama dari kalangan ahlul bait ini memberikan ijazah periwayatan kitab tersebut yang bersambung sanadnya dengan Qadhi Iyadh Al Maliki selaku penulis kitab kepada para hadirin.
Jika demikian suasana di majelis itu, tidak jauh dari Madhyafah Syeikh Ali Jum’ah, Madhyafay Syeikh Ismail Shadiq Al Adawi pun tengah menggelar periwayatan hadits. Setelah periwayatan Al Muwaththa Imam Malik riwayat Yahya bin Yahya yang diikuti oleh 700 penuntut ilmu yang juga oleh Syeikh Usamah Said Al Mansi digelar pula periwayatan Imam Al Bukhari oleh Dr. Musthafa An Nadwi, yang berlanjut kepada Shahih Muslim.
Sedangkan majelis Sahah Syeikh Said Dah yang juga tidak jauh dari Al Azhar telah digelar pula periwayatan matan Al Baiquniyah, melalui jalan Az Zurqani, pensyarah nadzam ilmu hadits tersebut.
Di sekitar Al Azhar sendiri di samping 3 majelis ilmu di atas, masih ada beberapa lagi majelis seperti Dar Al Furqan, Sahah Indonesia, Masjid Ahmad Dardir dan Masjid Al Kurdi yang memiliki perhatian dalam periwayatan ilmu hadits. Di majelis-majelis tersebut, jika digelar pembacaan kitab-kitab hadits selalu dengan sanad bersambung kepada penulis kitab.
Demikianlah iklim keilmuan hadits di masa ini di sekitar Al Azhar. Meski demikian, bukan berarti di luar lingkungan Al Azhar sulit didapati mejelis tersebut, karena para ulama juga membuka majelis-majelis ilmu di tempat lain. Di wilayah jabal Muqaththam, Dr. Yusri Jabr, ulama hadits Al Azhar juga membuka majelis hadits. Di masjid bersejarah yang dibangun oleh sultan Dhahir Baibars pun, Dr. Hisyam Kamil membuka majelis hadits, yang mana saat ini sedang berlangsung periwayatan Sunan Abi Dawud. Di wilayah Hay Sabi’ ulama hadits Mesir Dr. Rif’at Fauzi Abdul Muthalib memiliki mejalis hadits di masjid beliau, dimana dibacarakan secara rutin setiap shubuh Riyadh Ash Shalihin. Sedangkan di wilayah Hay Ashir Dr. Mahmud Said Mamduh ulama hadits Mesir periwayatan Sunan Abi Dawud hingga bab zakat, sedangkan Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim sudah selesai disampaikan.
Periwayatan hadits Al Azhar Peristiwa Fenomenal
Jika di sekitar Al Azhar kondisinya demikian, tentu Al Azhar sendiri sebagai “pusat pusaran” majelis-majelis ilmu di sekitarnya memiliki perhatian besar dengan periwayatan hadits. Sampai kini di Al Azhar majelis-majelis hadits, baik kitab-kitab induk seperti kutub as sittah maupun turunan masih berlangsung.
Momen periwayatan hadits merupakan di Al Azhar sendiri merupakan peristiwa fenomenal yang direkam dengan baik dan diabadikan dengan tulisan. Yang terakhir adalah pembacaan hadits Al Arbain An Nawawiyah serta Arfu At Tarif karya Hafidz Al Jazari di hadapan tiga ulama besar Mesir, Syeikh Abdul Baits Al Kittani, Prof. Dr. Ahmad Mi’bad Abdul Karim, serta Syeikh Mi’wad Iwadh Ibrahim yang kini berumur lebih dari 100 tahun yang dihadiri oleh sekitar 7000 penuntut ilmu yang digelar pada Rabi’ Al Awal 1437 H.
Selanjutnya, periwayatan yang fenomenal di masjid Al Azhar adalah periwayatan Al Maurid Al Hani karya Al Hafidz Al Iraqi pada 12 Rabiul Awal 1433 H, yang dihadiri oleh ribuan penuntut ilmu serta 6 ulama besar dari Al Azhar.
Sebelumnya, periwayatan Ash Shahihain, Sunan Abi Dawud, Sunan At Tirmidzi dan Al Muwaththa oleh Syeikh Ali Jum’ah juga merupakan peristiwa fenomenal, dimana semasa periwayatan, sejak pagi hingga dhuhur penuntut ilmu memenuhi masjid Al Azhar yang berlangsung selama 5 tahun. Syeikh Ali Jum’ah sendiri mencatat peristiwa tersebut yang dimuat Koran Al Ahram 1/10/2005.
Periwayatan hadits yang juga dicatat oleh sejarah adalah periwayatan Shahih Al Bukhari oleh Syeikh Yusuf Ad Dijwi yang dicatat oleh Syeikh Abu Hasan Zain Al Faruqi dalam Maqamat Khair, juga Syeikh Ahmad Al Harawi dalam Rihlah Al Hajj wa Ash Shiyahah serta Syeikh Abdu Wasi’ Al Yamani dalam Ad Dur Al Farid Al Jami’ li Mufariqat Al Asanid, dimana disebutkan bahwa yang hadir di waktu itu lebih dari 1000 penuntut ilmu.
Tentu, jika Al Azhar memiliki perhatian besar terhadap ilmu hadits riwayah, ilmu dirayah juga diperdalam juga ilmu-ilmu lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Ahmad Ad Damanhuri dalam Al Lathaif An Nuriyah, bahwa beliau belajar di Al Azhar sekitar 30 disiplin ilmu.
Jika demikian kondisi Al Azhar, maka tidak heran jika bersambungnya sanad ilmu merupakan ciri khas penuntut ilmu di Al Azhar sebagaimana dinyatakan oleh Syeikh Usamah Al Azhari dalam Al Ihya Al Kabir.*