MAHASISWA maupun ulama yang buta jama’ dijumpai di Al Azhar. Para penuntut ilmu yang menyandang tunantra ikut dalam proses belajar mengajar di mudarraj (sebutan untuk kelas yang memiliki kursi bertingkat seperti tribun) bersama para penuntut ilmu lainnya. Demikian juga ulama tunanetra dijumpai juga mengajar di universitas Islam tertua itu. Biasanya, dosen penyandang tuna netra meminta asisten untuk membaca kitab, kemudian sang dosen pun menjelaskannya dan menjabarkannya.
Karena perhatian Al Azhar dengan para penyandang tunanetra, maka mereka yang memiliki kebutuhan khusus ini bisa sejajar dengan mereka yang normal. Muncullah figur-figur berprestasi dari mereka yang menuntut ilmu di Al Azhar meski dalam kondisi tunanetra, bahkan sampai menjabat sebagai syeikh Al Azhar, semisal Syeikh Al Quwaisini. Al Quwaisini yang mana dicatat dalam Kanz Al Jauhar fi Tarikh Al Azhar hafal hadits yang ia dengar. Demikian juga figur agung seperti Syeikh Yusuf Ad Dijwi, ulama tunanetra yang memiliki banyak karya, salah satunya adalah sanggahan terhadap kitab Al Islam wa Ushul Al Hukmi.
Cukup banyak penyandang tunanetra yang memperoleh pendidikan di Al Azhar. Tercatat bahwa jumlah jumlah pelajar tunanatra dalam Ma’had Qira’at pada tahun 1949 sebanyak 25 orang, sedangkan jumlah pelajar normal sebanyak 176 sedangkan. Jumlah pelajar di Ma’had Al Azhar pada tahun 1947 yang menyandang tunanetra sebanyak 571 orang.
Menurut literatur asing, Al Azhar adalah lembaga pendidikan pertama yang memberikan perhatian kepada mereka penyandang tunanetra sajak tahun 970 Masehi. Jika demikian, apa yang dilakukan pihak Al Azhar lebih awal daripada upaya tokoh pendidikan Inggris Louis Braille yang lahir pada tahun 1809. Dinisbatkan kepada tokoh tersebut huruf timbul untuk penyandang tunanatra, dimana ia mendirikan sekolah bagi penyandang tunanetra dengan nama “sekolah cahaya”.
Sedangkan dalam peradaban Eropa kuno sendiri, masyarakat memperlakukan para penyandang tunanetra seperti mereka yang menderita sakit ingatan atau gila. Masyarakat waktu itu melaknat para orang-orang yang berkebutuhan khusus dan menuduh mereka telah karasukan setan, hingga Plato pun mengeluarkan orang-orang itu dari kotanya.
Sebelum Louis Braille, ulama Islam sebenarnya telah lebih dahulu menggunakan huruf timbul untuk membantu para menyandang tunanetra. Salah satu diantara mereka adalah Imam Zain Ad Dien Al Amidi yang wafat tahun 712 H, disamping penyandang tunanetra, Al Amidi telah memiliki perhatian terhadap mereka yang senasib dengannya, dimana ia berhasil menemukan huruf timbul. Bahkan jauh sebelumnya, Ibnu Hazm Al Andalusi (456 H) mencatat dalam At Taqrib li Had Al Mantiq, bahwa gurunya Ibnu Abd Al Warits menyampaikan bahwa ia memiliki saudara yang lahir dalam keadaan buta, namun ayahnya berupaya untuk mengajari Al Qur`an dengan menulis huruf timbul dari lilin, hingga akhirnya anak itu pun mampu untuk membaca.
Al Azhar sendiri mewarisi peradaban Islam sebelumnya dalam perhatiannya terhadap para penyandang tunanetra sejak berdirinya, hingga saat ini. Dan dengan kemajuan teknologi, pada tahun 2015, Al Azhar telah memiliki pusat penginderaan di Kuliyyah Ushuluddin, yang memiliki 12 alat untuk membantu para penyandang tunanetra untuk membaca buku-buku, baik berbahasa Arab maupun Inggris tanpa bantuan dari pihak lain.*
Tulisan ini merupakan saduran dari Al Azhar wa Al Makfufin, oleh Prof. Dr. Ibrahim Al Hudhud, Majalah Al Azhar, vol. 8, th. 90.