“Di antara kalian, saya adalah termasuk orang yang paling bersyukur,” ujar pemuda itu mulai memaparkan pidatonya, di tengah-tengah jama’ah usai sholat Maghrib.
Ia kemudian melanjutkan pidatonya dan para jamaah mendengarkan dengan penuh seksama.
Berawal dari Beasiswa
Ia memulai kisah perjalanan hidupnya di tahun 2006. Baginya, itu adalah tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh Aris, demikian nama pemuda tadi.
Selain pada tahun ini dia dinyatakan lulus Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Pertama (SMP), pada tahun ini pula, dia nyaris menggadaikan imannya pada seorang pendeta.
Kisah bermula ketika keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Sayang, minat mulianya terbentur tembok tebal, karena kedua orangtuanya, secara finansial termasuk golongan kurang mampu.
Melihat keseriusan si-buah hati yang ingin terus belajar, Umar, sang-ayah tidak tinggal diam. Dia mencari berbagai cara, untuk mesukseskan misi putranya agar tetap sekolah.
Untungnya, tidak lama kemudian si-bapak teringat sahabatnya, yang berada di daerah seberang, Tarakan, Kalimantan Timur (Kaltim). Mereka sendiri berdomsili di Bulungan, Kaltim.
Untuk menuju daerah tersebut, dibutuhkan waktu ± 3/4 jam penyeberangan, dengan menggunakan kapal laut.
Gaung bersambut, si-sahabat –yang beragama Nasrani- dengan lapang dada menerima tawaran tersebut. Bahkan, mereka sendiri mengajukan diri untuk datang sendiri ke rumah, guna menjemput Aris. Namun naasnya, di balik itu semua, ternyata terpendam missi terselubung, yang tidak pernah disangka oleh Aris sekeluarga sebelumnya.
Sekolah Kristen
Setibanya di tempat kediaman pak Yohanes –sebut saja begitu nama bapak yang memberi Aris beasiswa- Aris mulai membaca gelagat-gelagat yang kurang baik dari pihak tuan rumah. Berawal dari pilihan sekolah yang mereka ajukan, yang notabene adalah sekolah Kristen. Alasan mereka, ujian masuknya tidak serumit sekolah-sekolah lain, pada umumnya. Padahal, kesepakatan awal dengan orangtuanya, Aris akan disekolahkan di SMA Negeri.
“Saat itu saya sempat heran. Soalnya, sepengetahuan saya, di hadapan orangtua, mereka berjanji hendak memasukkan saya di sekolah negeri,” terang Aris.
Karena belajar di sekolah Kristen, jadilah Aris satu-satunya murid yang beragama Islam di sekolahan tersebut. Tetap saja dia wajib ‘menyantap’ seluruh ‘hidangan’ yang disediakan pihak sekolah, termasuk pelajaran agama Kristen. Sebaliknya, pelajaran agama Islam tidak pernah dia dapatkan.
Di rumah, Aris pun mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman. Dia diminta melakukan pekerjaan-pekerjan rumah tangga, terkadang, hingga larut malam. Bentakkan-bentakkan pun kerap diterima, manakala hasil kinerjanya dipandang kurang memuaskan.
“Makanya jangan malas !. memang ini yang diajarkan orangtuamu !”, jelas Aris menirukan nada bentakan mereka.
Tidak itu saja beban yang harus diterima putra ketiga dari empat bersaudara ini. Dia juga mengalami hinaan dalam hal agama. “Mereka bilang, buat apa kamu capek-capek sujud, rukuk setiap hari. Coba masuk Kristen, enak, gak capek-capek,” rayu mereka.
Dan tak jarang pula, dia dihalang-halangi untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, seperti sholat dan puasa.
Dan yang paling menyiksanya, setiap hari Minggu, dia diwajibkan untuk ikut serta ke Gereja. “Kalau menolak, saya akan dimarahi, dan dibentak-bentak oleh mereka sekeluarga”, jelasnya dengan nada agak terbat-bata.
Karena tidak kuat terhadap perlakuan mereka, terhitung selama tinggal di sana, ± tiga bulan, Aris dua kali berusaha kabur, namun selalu gagal.
“Pernah saya bermalam di pelabuhan, karena frustrasi, tidak kuat dengan perilaku mereka, yang menurut saya, sangat merendahkan harga diri saya,” lanjut laki-laki yang bertubuh gembur ini.
Dan pada bulan puasa tahun yang sama (2006), lajang kelahiran 21 silam ini, dengan sekuat keberanian meminta diri untuk pulang, dengan alasan ingin menunaikan ibadah puasa dengan keluarga.
Awalnya mereka menolak, bahkan mengancam akan mengusir Aris, dan tidak akan menerimanya lagi, serta menghentikan biasiswa, yang saat itu dia terima.
Sekalipun demikian, pengidola Umar bin Khathab a.s ini, tidak mengubris ancaman mereka. Dia bulatkan tekat untuk kembali ke kampung halaman. “Bagaimana mungkin saya bertahan, pada hari pertama puasa saja, saya sudah dilarang puasa, dengan alasan yang diada-adakan,” terangnya.
Setibanya di rumah, Aris langsung menceritakan kisah getirnya pada Umar dan Idang, keduaorang tuanya, selama bermukim di rumah Yohanes sekeluarga.
Mendengar pengakuan Aris, keduanya bak tersambar petir di siang bolong. Mereka marah besar, “Untung saja, emosi bapak-ibu masih terkontrol, sehingga masih mampu mengendalikan diri, dan tidak sampai menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan,” paparnya.
Selanjutnya, Aris lebih memilih sekolah di kampung halamannya, dan bertempat tinggal di salah satu pondok pesantren, hingga dia lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).
Untuk mengetaskan misinya menjadi da’i, yang akan menerangi kegelapan ummat, terutama masyarakat sekitar tempat tinggalnya, kini dia melanjutkan studinya di salah satu Sekolah Tinggi Islam di Surabaya.
“Mudah-mudahan apa yang pernah kualami ini, tidak terjadi pada kaum muslimin lainnya,” ujarnya. */Robinsah, sebagaimana diceritakan Aris/hidayatullah.com