Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Menghindar Berjabat Tangan, Malah Dapat Apresiasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 April 2016 09:53 9:53 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 April 2016 08:30
Bagikan
Bagikan

 

Wisuda adalah momen yang sangat dinanti sekaligus mendebarkan bagi seluruh mahasiswa.

Cuma rasanya detak debaranku ini berbeda “ketukannya” dengan ribuan wisudawan lainnya.

Pasalnya aku berdebar bukan sekadar karena sebagai  momen spesial usai menjalani perkuliahan.

Tapi aku sedikit gugup, ya tepatnya aku gugup, karena menghindari sesi berjabat tangan nantinya.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Seperti biasa, setiap wisudawan diminta maju ke depan dalam prosesi pengukuhan.

Selanjutnya mereka maju menerima ijazah dan pemindahan kuncir toga (dari kiri ke kanan) oleh pejabat dekan dan rektor.

Nah, di situ letak gugupku. Sebagai seorang Muslimah, aku ingin menjalankan ajaran agamaku, tak berjabat tangan dengan selain mahram saja.

Tiba giliranku, detak itu kian kuat menggedor. Bismillah, aku melangkah maju mendekati panggung. Aku hanya pasrah sambil terus merapal doa untuk menenangkan hatiku.

Bukan aku tak hormat kepada pejabat dekan, apalagi pak rektor. Sungguh, aku sangat hormat kepada seluruh dosen, dan siapa saja yang telah menanam budi padaku.

Apalagi momen wisuda sangat bersejarah  buatku. Aku selalu berdoa semoga bisa membalas jasa jariyah mereka.

Menjadi yang bermanfaat buat agama dan bangsa, seperti nasihat para dosenku di kelas selalu.

Kutarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi kupastikan pita merah dari panitia terpasang rapi di dada sebelah kiriku. Isyarat bahwa yang bersangkutan memilih tak berjabat tangan di panggung

Alhamdulillah, senyum kebapakan dari  Pak Dekan menyambutku. Kuterima ijazahku darinya, lalu kuapitkan ke lengan sebelah kiriku.

Kutundukkan wajahku dalam. Inilah tanda hormatku pengganti jabat tanganku. Aku melihat ia turut mengangguk. Masih dengan senyum yang sama.

Ah, tak terasa mataku membulir. Ada rasa sejuk di hati. Aku balas dengan senyum tulus. Meski mungkin tidak terlihat olehnya

Kini kugeser kakiku selangkah ke kanan. Berdiri di depanku seorang bapak yang penuh kharisma. Dialah Pak Rektor, sosok yang sangat dihormati dengan keteladanannya di lingkungan kampus.

Kutundukkan kepalaku mendekat. Inilah puncak dari gugupku sejak tadi. Tak terasa keringat dingin membasahi telapak tanganku.

Tangan itu sudah memindahkan kuncir toga di kepalaku. Kuberanikan mengangkat kepalaku sejenak. Memandang dengan penuh hormat, tentunya.

Tapi, tiba-tiba tangan itu terangkat ke atas. Ah, benarkah Pak Rektor ingin menyalamiku?

Rasa panik itu jadi hebat kembali. Tangan itu sudah setinggi dengan dadanya, lirikku.

Namun, ah rupanya yang teracung adalah jemari jempol.

Iya, sebuah jempol yang teracung untukku. Kuangkat wajahku sekali lagi.  Masya Allah, kulihat senyum itu mengembang di sana. Dengan sebuah jempol yang sepertinya khusus buatku.

Refleks aku bertakbir dan bertahmid dalam hati. Ucapan terima kasihku dibalas dengan senyuman. Dan ternyata jempol itu masih teracung untukku.

Alhamdulillah. Aku sudah turun dari panggung dan tak terjadi apa-apa padaku. Segala yang aku kuatirkan tak terjadi akhirnya.

Aku berhasil menjalani pengukuhan wisuda tanpa berjabat tangan. Bahkan aku merasa diberi apresiasi dari dekan dan rektorku.

Allahu Akbar, Engkau Maha Besar.  Engkaulah yang Maha membolakbalikkan hati.

Kini kupandangi hijabku lekat. Dengan setia hijabku ini sudah menemaniku selama 4 tahun lebih menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Bagi seorang Muslimah, hijab bukanlah penghalang langkah. Dengan berhijab, aku justru merasa mendapat kemudahan dalam berbagai urusan.

Harapannya, semoga para Muslimah lainnya bisa istiqamah menggunakan hijab.

Kepada seluruh pihak dan lingkungan kampus, kami berharap adanya pengertian dan kerjasama yang baik.

Yakinlah, kami berhijab hanya karena menjalankan perintah agama. Kami Muslimah maka kami taat mengikuti perintah Allah.

Yakinlah, kami yang berhijab bukan untuk melanggar aturan. Kami para mahasiswi Muslimah tetap berusaha mengikuti tata tertib kampus dan norma yang berlaku.

Jangan ada diskriminasi buat kami para Muslimah. Apalagi jika hanya berdasar dugaan atau sangkaan semata.

Kami percaya generasi penerus yang diharapkan oleh bangsa bukan sekadar orang cerdas saja. Tapi mereka juga harus kaya adab dan taat beragama.

Kepada merekalah bangsa ini bisa maju berperadaban. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pejuang bangsa dulu yang lahir dari rahim para ulama dan tokoh Islam dahulu.*/Mustabsyirah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cadarhijabjabat tanganjilbabwisuda
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kurdi Peshmerga dan Paramiliter Syiah Iraq Baku Tembak di Utara Baghdad
Tulisan selanjutnya Pelapor Duga Ada Unsur Politis dalam Penghentian Kasus Bupati Purwakarta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?