MEMONDOK di pesantren dan menghafal al-Qur’an? Mimpi kali ya…. Sedikitpun tidak pernah terlintas di benakku untuk menggeluti dunia yang satu ini. Jangankan untuk itu, mengaji pun saya masih belepotan, lebih pasnya belum bisa.
Bahkan shalat, amalan yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang Muslim semenjak ia baligh, pun nyaris tak pernah kutegakkan. Itulah masa laluku.
Ceritanya begini. Selepas lulus SD, saya dititipkan oleh kedua orangtuaku di tempat tinggal kakek dari ibu. Yaitu di sebuah desa di Pulau Sumatera yang tingkat kriminalitasnya sangat tinggi.
Di sini, bukan hal yang tabu lagi menyaksikan orang-orang mabuk, memakai narkoba dan bermain judi. Terutama ketika ada hajatan yang dimeriahkan oleh orkes dan sejenisnya. Sangat mudah untuk menemukan itu semua.
Bukan hanya golongan dewasa, anak-anak kecil pun sudah terjerembab. Dan nyaris tidak ada yang mengingatkan, ketika mereka tengah asyik bermain domino, misalnya.
Pun demikian perihal pencurian, pembegalan hatta pembunuhan. Berita-berita yang menyayat hati, seperti perampokan yang berakhir dengan pembunuhan, seolah menjadi biasa. Tidak ada lagi kengerian. Semua seperti telah memaklumi keadaan.
Tumbuh besar di tempat macam ini, memberikan pengaruh buruk bagi kepribadianku. Bergadang, merokok, dan berjudi telah menjadi kebiasaan yang sukar kutinggalkan. Padahal waktu itu saya masih duduk di bangku SMA.
Bahkan membohongi keluarga sekadar hanya untuk mendapatkan uang, telah menjadi strategi andalanku.
Ada suatu kejadian, di saat pamanku harus bersilaturrahim ke rumah mertuanya yang berada di seberang pulau, tinggallah saya bersama kakek di rumah.
Entah setan apa yang membisiki diri ini. Selang beberapa hari seperginya mereka, muncul pikiranku untuk menggadaikan sepeda motor paman demi mendapatkan uang. Apa lagi kalau bukan untuk digunakan berfoya-foya dan bermain judi.
Air Mata Ibu
Singkat cerita, kugadaikanlah sepeda motor itu. Agar tak mendapat amarah dari keluarga besar, skenario telah kubuat. Kuceritakan kepada mereka, kalau sepeda motor paman dicuri orang di tempat parkir sebuah toko ketika saya tengah berbelanja.
Namun ternyata, mungkin karena telah mengetahui watak burukku, mereka tak percaya begitu saja. Tanpa sepengetahuanku, mereka mencoba menyelidiki kejadian sebenarnya.
Akhirnya terbongkarlah kebohonganku. Murka keluarga sangat besar. Terlebih, ketika mereka mencoba menanyaiku, saya masih berusaha berbelit-belit, padahal mereka sudah mengetahui persoalan sebenarnya.
“Saya hanya ingin dengar pengakuan dari kamu, bahwa sepeda itu digadaikan, bukan dicuri orang,” hardik seorang paman sambil melepaskan sebuah bogem mentah ke pipiku.
Mungkin saat itu paman sudah sangat geregetan dengan sikapku yang hanya membisu, tak pernah menjawab pertanyaan yang mereka ajukan.
Ketika kabar peristiwa ini sampai kepada ibuku, beliau pun terpukul mendengarnya. Sejatinya, beliau dan keluarga sudah sering kali mengingatkanku agar tidak mengikuti jejak teman-teman lain yang suka bertindak kriminal. Namun, itu semua seolah angin yang berhembus.
Peristiwa itu sepertinya telah meremukkan hati ibu. Linangan air mata terus mengalir dari kedua matanya, tanpa mampu mengeluarkan kata-kata.
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada pembaca hidayatullah.com perihal kepribadian ibuku. Beliau adalah sosok pejuang tangguh. Demi anak-anaknya – saya dan saudari– tetap melanjutkan sekolah, beliau akan melakukan apapun untuk mewujudkannya. Mulai dari jadi buruh tani upahan hingga berutang ke sanak keluarga.
Kenakalanku lainnya, selain suka memalak teman di sekolah dan tidak membayarkan uang SPP, juga berkelahi. Hingga akhirnya saya harus dikeluarkan dari sekolah dan pindah ke sekolah lain. Itulah sepenggal kisah yang kiranya cukup menggambarkan kebobrokan moralku pada masa itu.
Karenanya, sebagaimana kuceritakan di awal, mimpi pun tak pernah kualami untuk bisa belajar di pesantren dan menghafal al-Qur’an.*/ Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Abdullah (nama samaran) kepada Khairul Hibri, hidayatullah.com (BERSAMBUNG)