Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Andai Bisa Terulang, Takkan Kulepaskan…

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Agustus 2016 09:01 9:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Agustus 2016 09:00
Bagikan
[Ilustrasi] Murid menyalami tangan guru.
Bagikan

IZINKAN aku membagi sebuah kisah, tentang seorang gadis kecil yang tegar, yang ketegarannya membuatku malu dan banyak mengambil teladan darinya.

Sejak kecil hingga sampai pada usia dewasa saat ini; aku telah banyak melakukan kesalahan dan kebodohan yang membawaku pada penyesalan demi penyesalan. Sebagai manusia, yang tak luput dari salah. Tapi sungguh, “melepaskan” tangannya adalah hal yang paling kusesali, sedalam-dalamnya.

Hari Selasa awal Agustus 2016 mungkin adalah hari terburuk;  bagi perasaanku. Hanya sepersekian detik kejadian itu, namun sanggup melemaskan ragaku, meremukkan batinku. Sesal yang tiada habis, tak putus.

Pagi hari aku berangkat menuju sekolah. Lalu seperti biasa, setelah meletakkan tas di kantor, aku melesat menuju halaman, bersiap menyambut kedatangan murid-murid tercinta, untuk menerima uluran tangan mereka. Bersalaman, anak putri kepada ustadzah-ustadzahnya, dan anak putra menghampiri para ustadz.

Tradisi salaman pun berlangsung seperti hari-hari sebelumnya, hangat. Satu per satu murid kami sapa, kami tanyakan kabar mereka; “tadi sudah shalat shubuh belum?, sudah baca al-Qur’an hari ini?, bantu ummi hari ini tidak?”, dan lain-lain.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Ada yang bahkan tak cukup dengan menyalami kami saja, tapi ditambah pelukan super erat, khas anak-anak.

Karena belum lama kembali mengajar setelah istirahat pasca operasi mata, alhasil, aku belum mengenal murid-murid baru kelas 1, yang tahun ini bergabung di sekolah kami. Kecuali beberapa murid putra yang bukan kebetulan masuk kelompok pembelajaran al-Qur’an metode Ummi bersamaku.

Refleks

Saat mataku tengah berpaling ke lain tempat, tidak terfokus pada anak yang akan menyalamiku, ada seorang anak yang menggamit jari-jariku. Seharusnya jari-jemari kami bertaut, lalu ia akan mencium punggung tanganku, layaknya anak-anak yang lain.

Tapi yang kurasakan kali ini di luar kebiasaan. Tak ada jari-jari kecil menaut pada jariku, hanya terasa segemul daging lembut yang menyentuhku. Terasa aneh, karena tak biasa. Dan kemudian di sinilah detik yang paling kusesali.

Refleks, secepat kilat kuhentakkan “tangan”-nya dengan menarik ke atas tanganku. Keras. Begitu cepat. Aku kaget, teramat kaget dengan sensasi “lembut” pada jemariku, sedang anak tersebut pun tak siap dengan reaksiku. Ia terlihat shock, malu, lalu perlahan kembali mengulurkan “tangan”-nya untuk menyalamiku.

Sedetik berikutnya barulah aku tersadar, fokus sepenuhnya.

Ya Allaaah!

Ya Kariiim!

Semoga Allah mengampuniku!

Anak manis kelas 1 SD ini tak memiliki tangan normal, tak punya jari-jari.

Tangan kanannya tak ada, lengannya hanya setengah, ujungnya berbentuk segumpal daging, membulat, kecil. Aku baru tahu, sebab ini kali pertama aku bertemu dengan anak baru yang tak berdosa ini.

Setelah sadar dari kekagetanku, segera kusambut kembali tangannya dengan perasaan tak karuan, lalu dia pun berlalu menuju kelas.

Mungkin baginya itu biasa; mendapatkan perlakuan dan reaksi seperti itu dari orang-orang yang baru menjumpainya, juga dari teman-teman yang sering mengusilinya, mungkin sudah jadi hal biasa baginya.

Tapi bagiku…. Kejadian ini siksaan perasaan yang begitu menyesakkan. Sedetik setelah aku menghentakkan tangannya, segenap perasaan bersalah dan sesal menyerangku.

Aku merasa sudah berbuat jahat, bodoh, tega, terlalu…. Meskipun sungguh, tak ada pandangan negatifku pada kekurangannya, tak ada. Aku sendiri pun bukan makhluk yang sempurna. Namun reaksi itu murni hanya karena refleks, kaget, dan kurang siap mental saat pertama kali bersentuhan.

Seharian pikiranku tak bisa lepas dari kejadian pagi itu. Saat masak, aku menangis. Makan, menangis. Cuci piring, menangis. Shalat, menangis. Di kamar mandi, menangis. Dalam diam, tentunya.

Dalamnya sesal ini, hanya Allah yang bisa memberi penawarnya.

Tak habis-habis aku berandai, sekiranya bisa diulang kembali, tak akan pernah kulakukan lagi reaksi apa pun yang bisa menyakiti perasaan gadis cilik nan manis itu.

Tak sanggup kubayangkan, bagaimana perasaannya saat tangannya kuhentak, penolakan dengan cara yang tiba-tiba. Maafkan aku, Naakk!

Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi aku segera menemuinya di kelas. Memperkenalkan diri, menanyakan tentangnya, memeluk dan menciumnya, lalu kuberi ia sekantung snack kesukaan anak-anak.

Dia senang, sangat senang. Terlihat dari senyumnya, binar di matanya, dan ucapan terima kasih yang berulang kali dilontarkan oleh lisan mungilnya.

Ah, Nanda sayang!

Ketahuilah, ini kulakukan bukan untuk menebus maafmu, tidak!

Sebab aku tak layak untuk itu. Hanya demi mengobati sedikit lukamu karenaku. Sedikit, tak mengapa, itu sudah sangat melegakan perasaanku.

Harapanku jika kau senang, gembira, kau akan melupakan kejadian yang teramat kusesali ini. Semoga!

Tak Membuatnya Malu…

Satu hal yang membuatku malu, sekaligus termotivasi, bahwa kekurangan fisik tidak menjadikannya patah semangat dalam menuntut ilmu. Tak membuatnya malu hadir di sekolah, membaur dengan murid-murid yang lain. Tak membuatnya berkecil hati untuk tetap menjalani hari dengan sepenuh kesyukuran.

Ia terkenal sebagai anak yang ceria, ramah, baik dan tegar. Mungkin satu-satunya saat dimana wajahnya terlihat muram dan bergelayut mendung adalah ketika aku menghempaskan uluran tangannya di pagi itu, Allaahummaghfirlii (ampuni aku, Ya Allah!).

Anak sekecil dia mungkin malah lebih paham dariku, bahwa Allah sama sekali tak memandang kekurangan fisik kita. Hanya hati, keimanan, dan ketaqwaan yang bersemayam di dalam dada lah tolak ukur nilai seorang hamba di mata-Nya.

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).* Ida Nahdhah, guru, pegiat komunitas menulis PENA MALIKA Yogyakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakAs SalamacacatfisikgurukesalahanketerbatasanmentalmuridPendidikansekolahtaubat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Shalat di Sekolah
Tulisan selanjutnya Sektor Swasta Saudi Harus Menyerap 4,1 Juta Tenaga Kerja Warga Pribumi Sebelum 2030

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?