Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Ketika Ia Lelah Mengejar Dunia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2016 06:04 6:04 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2016 06:04
Bagikan
Bagikan

DARI luar, ia terlihat bahagia dan sejahtera. Usahanya, lancar jaya. Keuntungannya, mengalir sederasnya. Memang demikianlah, orang-orang melihat tampilan zahir orang lain. Apa yang nampak di depan, itulah yang menjadi penilaian. Tapi nyatanya, hatinya gersang, jiwanya kerontang, rohaninya kosong.

Telah lampau zaman berlalu, ketika masih nyantri di Makassar, saya punya seorang kawan. Dari sekian banyak kawan sekelas, dia termasuk kawan dekat saya. Entah apa yang membuat kami menjadi kawan dekat. Saya agak lupa.

Yang saya ingat, dia lumayan borjuis, dan saya terhitung agak cerdas. Dia kurang suka belajar, dan saya suka berbagi tugas belajar. Klop-lah sudah. Dia suka nraktir saya, bahkan kadang ngajak saya ke Sentral, dan saya suka beri dia contekan PR saya, bahkan jawaban ujian saya. Kami saling butuh satu sama lain; dia butuh nilai pelajaran, saya butuh makan.

Tidak hanya soal makan dan nilai, kami juga berbagi lemari. Lemarinya yang agak besar dan lebar, menjadi tempat transit beberapa buku dan pakaian saya. Lemari saya yang kecil dan bekas peninggalan seorang kakak kelas,  tetap saya gunakan.

Selepas lulus, rupanya kami tak lagi bisa bersama. Dia menetap di Kota Daeng melanjutkan kuliah dan mengejar asa menjadi pengusaha, sedang saya bertolak ke Kota Minyak meneruskan jejak Aba saya, setelah sebelumnya hampir lulus dengan gelar S.AP di UNHAS.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Kami berpisah, tidak saja soal peruntungan. Juga berkaitan dengan soal idealisme. Dia, sejak lulus sekolah, memilih keluar dari pondok yang telah memberinya banyak pengalaman dan pelajaran tentang hidup. Sesekali, ia tetap datang berkunjung. Hingga akhirnya, seiring kesuksesan usaha dan kesibukan belajar, ia semakin jarang menjenguk pondok. Dan sejak itu, ia semakin jauh dari cahaya.

Sebakda lulus itu, otomatis kami juga tidak pernah bertemu. Kami tak pernah lagi bertatap muka. Kami hanya bertemu di dunia maya. Itupun saya hanya ala kadarnya saja, sebab aturan kuliah saya membatasi hubungan dengan dunia maya. Praktis, hubungan kami menjadi semakin berjarak.

Bertahun-tahun, saya dan dia hanya tukar kabar melalui Facebook saja. Di phonebook saya, nomornya, seingat saya tidak ada. Jika saya berkunjung ke Makassar, terasa bahwa jarak kami masih sangat jauh. Ia selalu tak ada waktu untuk datang ke pondok pesantren.

Lepas kuliah, lalu tugas di Kota Apel, tetap saja hubungan saya dengan dia demikian. Saya mengetahui kabarnya hanya lewat wall Facebook. Saya tak tertarik untuk memberi komentar di status-statusnya. Dia sukses menjadi pebisnis dan pengusaha. Satu saja yang kurang, dia belum sukses mencari istri. Sedang saya sudah beranak-pinak; dua lelaki.

Hingga hari itu, tepatnya kemarin, saya mendapat telpon dari seseorang. Nomor baru. Saya pikir, wali santri yang ingin mendengar kabar putranya. Ternyata, saya salah.

“Assalamualaykum,” sapanya membuka dialog.

Suaranya, mengingatkan saya seseorang. Tapi, saya ragu. Sebab, sudah agak berubah.

“Wa alaykum salam warahmatullahi,” saya jawab lebih panjang. Dalam Islam, kita memang diperintah membalas salam lebih baik dari salam yang diberikan.

“Siapa, ya?” saya tanya lebih lanjut.

“Masak sudah lupa?” dia tanya balik mencoba memancing ingatan saya.

“Ihsan, ya?” saya menebak agak ragu sambil menyebut namanya. Nama Ihsan ini adalah samaran, bukan nama sebenarnya.

“Iya. Siapa lagi. Masak, sih, udah lupa dengan teman sendiri,” jawabnya cepat sambil mencoba membuka lembaran-lembaran kisah kami berdua dulu.

Akhirnya, kami ngobrol lepas sambil bertanya kabar dan banyak hal lain. Saya lebih banyak diam dan hanya menanggapi seperlunya. Ada rasa yang berbeda saat ini. Tentu saja, pikir saya. Kami sudah berpisah berbilang tahun lamanya.

Dia banyak berbicara soal keadaannya. Wajar saja. Tidak ada angin membawa asap, tiba-tiba ada api menyala membara, orang tentu heran dan bertanya-tanya. Lama tak ada kabar, lama tak bersua, tiba-tiba menelpon berbicara keadaan diri, tentu ada sesuatu dalam hati.

Benar saja. Rupanya, ia merasa, rohaninya kosong dan gersang. Lama tak disiram, ia merasa jiwanya kering. Ia butuh hujan yang lebat agar hatinya kembali tumbuh berkembang. Jiwanya butuh asupan gizi agar kembali bisa kenyang.

Dalam cerita panjangnya, ia sangat berharap dapat berjumpa saya di Malang. Ia berjanji, ia akan bercerita lebih panjang dan lebih lebar tentang apa yang terjadi.

Sesaat sebelum menutup telpon, ia bertanya hati-hati, “Bolehkah saya kembali ke pondok pesantran lagi?”

Kira-kira, begitulah tanya yang masih menyisakan jawab tersebut terlontar dari lisannya. Sebuah isyarat, ia rindu suasana pondok yang penuh cahaya.*/Ibnu Basyier, Ahad, 3 April 2016

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jiwapengusahaPondok PesantrenruhaniSahabat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Beredar SK Pemberhentian Fahri Hamzah, PKS Akui Sudah Tandatangani SK DPP
Tulisan selanjutnya Pengungsi ke Yunani Meningkat Meningkat Meski Ada Kesepakatan Turki dan Uni Eropa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?