Hidayatullah.com | INI adalah kisah nyata yang saya salami. Pagi hari itu saya sedang bersiap-siap mengantar adek perempuanku ke sekolahnya sambil menyiapkan sarapan bapak yang sedang sakit.
“Pak.. saya sudah buatin sarapan buat bapak. Nanti jangan lupa di makan ya,” ucapku.
Saya melanjutkan tugas lain, mengantarkan adi. “Firda.. sudah jam 06.30, ayo kita berangkat, nanti kesiangan loh..”.
Sebelum berangkat tak lupa saya mencium tangan sang bapak. Kemudian sayapun bergegas berangkat mengantar Firda ke sekolahnya sekaligus berangkat ke tempat kerjaku.
Hari itu kususuri jalan aspal yang rusak, berlobang yang semestinya sudah harus di perbiki oleh pemerintah. Sesampainya di depan gerbang sekolah terpampang tulisan Besar SDN 1 Mandala Rubaru Sumenep, tempat Firda belajar.
“Yang rajin ya jangan nakal-nakal,” ujarku Sembari kupeluk dan menciumnya.
Baca: Kisah Mantan Pemabuk: Ya Allah, Masih Adakah Ampunan Bagiku?
Firda bergegas masuk ke dalam sekolah karna jam sudah menunjukkan jam 06.50 WIB dan 10 menit lagi pelajaran akan segera di mulai. Saya melanjutkan menuju tempat kerja, yang jaraknya tidak jauh dari SDN 1 Mandala. Itulah kesibukan saya sehari-hari.
Sesampainya di kantor, aku meletakkan tas hitam yang berisikan map berwarna kuning, di tempat saya duduk. Kemudian saya bergegas mengerjakan pekerjaanku bersama teman-teman.
Sejak saya bekerja, saya selalu azamkan melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan saya niatkan hanya karena Allah. Ini saya lakukan agar rezeki yang saya peroleh menjadi berkah, sebagaimana nasehat guru-guruku.
Tidak terasa, beberapa jam bekerja sudah menunjukkan jam 15.00 WIB. Artinya semua karyawan sudah boleh pulang. Aku melangkahkan kaki dengan menuruni tangga dan menuju ke luar kantor.
Di depan kantor ada dua buah kursi panjang yang terbuat dari kayu jati yang bisa di duduki untuk 3-5 orang. Kebetulan juga di situ ada 3 temen yang juga sedang menunggu jemputan.
Tak lama lama kemudian ada orang mendekatiku. “Mas, minta sumbangannya Mas. Saya haus sekali butuh minum,” katanya dengan suara dari arah samping kananku.
Kutatap wajahnya dari ujung kepala hingga kakinya. Pria yang terlihat masih sehat, mengenakan sepatu berwarna hitam, celana jeans dan kaos putih.
Dengan berperasangka baik, mungkin saja dia sedang membutuhkan pertolangan. Mungkin sedang mendapat musibah, kesulitan atau sedang di perjalanan.
Aku berusaha merogoh saku celanaku. Ada uang Rp 30 ribu di dalamnya. Padahal, aku berencana membelikan bapak obat.
Bismillah, aku akhirnya memberikan uang Rp 20 ribu untuknya. “Ini Pak, buat membeli minum yah,” ucapku sambil berikan uang itu padanya.
“Makasih banyak ya Mas, sudah membantu,” ujarnya dengan nada yang cukup pelan. “Nama Mas siapa dan bekerja di mana, kalau boleh tahu?,” ujarnya bertanya.
“Nama saya Ridho Pak, saya bekerja di PT. Indah Swalayan, belakang sini saja,” jawabku dengan nada yang sopan. Bagaimanapun dia lebih tua dariku.
Keajaiban
Esok harinya, sebuah keras terdengar dari arah luar menuju dan ruanganku. Brakk.. brakk… brakk..
“Mas, ada orang yang ingin menemuimu di luar,” kata petugas Satpam kantor.
“Mohon maaf, memang siapa ya?,” acapku dengan dengan rasa penasaran.
“Turun saja, nanti tahu sendiri,” ucap petugas Satpam itu.
Saya menuruni tangga dengan mengikuti petugas Satpam menuju tempat parkiran. Saya melihat ada 4 mobil mewah dan 8 orang sedang berdiri tagap sedang berbaris. Pakaian mereka serba hitam dan memakai kaca mata layaknya seorang bodyguard.
Ada perasaan takut dan cemas melihat pemandangan ini. Krekk…! Sebuah suara terdengar dari balik pintu mobil mewah yang dibukakan salah satu orang berpakaian serba hitam itu.
Seseorang berpakaian rapi, layaknya seorang bos, turun dari mobil. Pelan-pelan pria yang mengenakan sebuah jaz ini menghampiri saya.
Baca:
Kutatap baik-baik pria itu, dan sepertinya akuku mengenalinya raut wajahnya. Dia mengangguk dan memberikan hormat kepadaku.
“Loh, Bapak kan yang kemarin minta sumbangan buat mebeli air minum itu kan?,” demikian ucapku dengan rasa penasaran. Saya makin penasaran, siapa dia?
“Iya betul, saya kemari bersama staf saya. Saya sengaja ingin mengucapkan terimakasih sudah menolong saya. Ini ada sedikit hadiah, cek buat mas Ridha, tolong diterima ya,” ucap bapak itu dengan mengulurkan tangannya kepadaku.
“Tidak perlu, Pak. Terimakasih, saya membantu bapak dengan senang hati kok,” ujarku, sambil mendorong pelan tangannya.
“Terima saja, ” ucapnya sambil memaksa saya untuk mengambil pemberiannya.
“Maaf, Pak, saya tidak bisa menerima,” ujarku dan kembali mendorong tanganya.
Meski ia melakukan hal sama, memaksa saya menerima cek pemberiannya, saya tetap menolaknya kembali.
“Baiklah kalau begitu, mulai hari ini, Mas Ridho saya angkat menjadi manager di perusahaan saya,” ucapnya dengan tegas.
“Ta… tapi Pak, “…. Dengan perasaan tidak percaya, saya tidak bisa melanjutkan kata-kata.
“Ya, sebenarnya perusahaan ini adalah milik saya. Saya adalah komisaris utamanya. Dan Mas Ridho tidak boleh menolak, dan kebetulan orang seperti Mas Ridho yang selama ini dibutuhkan dan dicari di perusahaan ini. Jadi Mas Ridho gak boleh menolak,” katanya. “Ini saya lakukan sebagai wujud rasa terimakasih saya ya, mulai besok Mas Ridho menemui HRD bersama saya dan setelah itu Anda menjadi manager di perusahaan ini,” ucapnya menjelaskan panjang lebar.
Badanku terasa kaku. Sampai-sampai saya tidak bisa mengucapkan kata-kata. “Sudah, gak pakek tapi-tapian oke!,” katanya sebelum meninggalkanku pergi.
Tidak terasa, mata sata mengeluarkan air mata. “Terima kasih, Pak, ” demikian ujarku.
Aku masih berdiri mematung melihat kenyataan ini. Tidak habis pikir, mengapa Allah memberikankan sebuah pekerjaan yang umumnya diidam-idamkan oleh banyak orang hanya dengan Rp20 ribu. Akupun sampai saat ini masih belum percaya, sebab aku tak mangharapkan imbalan apapun darinya.
Tapi begitulah keajaiban dunia yang telah disetting Allah untuk makhluknya. Apa yang terjadi di kemudian hari adalah sesuatu yang tak pernah kita sangka-sangaka. Sebagai hamba Allah, kita hanya menjalaninya. Hasbunallah Wani’mal Wakil, ni’mal maula wani’maannasir. ”.*/Abdul Qadir Jaelani, mahasiswa STAIL, Surabaya