Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Melawan Animisme di Daerah Terpencil NTT

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Juli 2010 13:36 1:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Juli 2010 13:36
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Lelaki setengah baya terlihat duduk sambil serius mendengarkan paparan seorang ustadz. Pandanganya fokus ke depan. Khidmat. Setiap arahan yang disampaikan ustadz tersebut, didengarkannya penuh seksama. Seolah, tak ada satu pun kata yang lewat.

Lelaki itu tidak lain, Abdul Qadir Lenama. Qadir demikian akrab disapa, di siang awal Juli lalu sedang mengikuti acara “Temu Dai Terpencil Tingkat Nasional” yang digagas Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP. Muhammadiyah di masjid Al-Ikhlas kota Gudeg, Yogyakarta.

MTDK menyelenggarakan pertemuan dengan tema “Temu Da’i Terpencil Tingkat Nasional” di sela-sela kegiatan Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta. Karena sebagian da’i terpencil ini ada yang merangkap sebagai peserta Muktamar Muhammadiyah dan sebagian lagi sebagai penggembira, maka, acara ini sengaja diadakan mengambil momentum Muktamar Muhammadiyah agar bisa menghemat biaya.

Di sela-sela padatnya acara, Qadir menyempatkan berbagi cerita perjalanan dakwahnya di daerah terpencil. Inillah ceritanya yang ditulis wartawan hidayatullah.com.
Perjalanan Dakwah

Qadir berperawakan sedang dengan kulit berwarna hitam. Sorot matannya tajam. Tapi, setiap kata yang diutarakannya begitu dalam. Ada selaksa hikmah yang terkandung di dalamnya. Qadir adalah dai asal kec. Amanuban Timur, Kab. Timur Tengah Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Ketertarikan Qadir menjadi dai timbul sejak kecil, 8 tahun. Waktu itu, sekitar 1967, Qadir kerap mendapati penduduk di desanya melakukan kegiatan animisme.

Sebenarnya, kegiatan itu wajar. Pasalnya, mereka memang bukan Islam. Di desanya itu, dari jumlah penduduk sekitar 15 ribu jiwa, yang muslim hanya kira-kira 3-4 ribu orang. Selebihnya, kalau nggak Kristen, pasti animisme.

Di desanya, ada sejumlah gunung yang dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat sesembahan. Di antaranya, gunung Tumbes dan gunung Fatukopa. Gunung Fatukopa bentuknya seperti perahu. Biasanya, para penduduk setempat, jika datang musim panen, hasilnya akan disesajikan ke dua gunung tersebut. Kata Qadir, hal itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang mereka panen.

Caranya, para penduduk membuat tempat khusus di gunung tersebut. Biasanya dengan menggunakan batu besar yang dianggap keramat. Batu itu lalu dijadikan tempat menaruh sesaji. Melihat hal itu, sebagai orang muslim, meski waktu itu masih terbilang kecil, tapi telah mengusik hati kecil Qadir.

“Masa, gunung dijadikan tuhan,” ujar Qadir tak percaya. Sejak itulah, Qadir bercita-cita mengeluarkan mereka dari kubangan animisme itu dan mengajak mereka menuju jalan yang benar, Islam.

Tahun 1983, usai belajar agama di salah satu pondok pesantren, Qadir memulai debut dakwahnya. Langkah pertama yang Qadir lakukan adalah mendekati kepala adat atau suku. “Maklum, di daerah yang cenderung primitif, kelapa suku berpengaruh besar bagi kaumnya” kata Qadir. Mendekat kelapa suku pun ada caranya. Tidak sembarang mendekati. Sebab, jika salah, alih-alih dapat simpati, justru caci yang didapat.

Dengan pelan dan lemah lembut Qadir pun mendekati mereka. Kedekatan itu pun seolah sudah tidak ada batas lagi. Ibarat seperti saudara kandung. Tak ada sekat. Nah, setelah itu, baru Qadir mulai melancarkan dakwahnya. Qadir bilang bahwa kegiatan menyembah batu dengan memberi sesaji adalah bentuk peribadatan konservatif yang tidak masuk akal.

“Kegiatan itu, hanya melanggengkan kebodohan,” terang Qadir.

Nampaknya, apa yang disampaikan Qadir cukup jitu. Mereka jadi berfikir secara rasional. Lambat laut, mereka mulai mempertanyakan jalan lain menuju keperibatana yang lebih masuk akan dan elegan. Qadir pun kemudian menjelaskan apa itu Islam. Dan, ternyata, mereka banyak yang tertarik. Hingga segelintir dari mereka lambat laun mau masuk Islam. Selama sekitar 3 tahun setelah itu, angka mualaf naik drastis. Ada sekitar 500 orang yang telah masuk Islam.

Namun, perjuangan Qadir mengajak mereka ke agama Islam harus berlomba dengan kristenisasi. Apalagi, kegiatan itu dibungkus dengan kedok kegiatan sosial. Seperti bagi-bagi sembako, duit dan lain sebagainya. Mereka adalah adalah orang-orang LSM internasional yang sengaja melakukan demikian. Qadir pun tak kalah semangat. Dia lebih kencang lagi dalam berdakwah.

Untuk memuluskan dakwahnya itu, Qadir menggunakan tehnik lain. Qadir memberangkatkan anak-anak penduduk ke Jawa untuk di sekolahkan di pesantren di Jawa yang dikenal banyak.

“Nah, sepulang dari pesantren di Jawa, mereka nanti yang akan mendakwahi orangtua dan keluarga mereka masing-masing,” ujar Qadir.
Qadir pun menjali kerjasama dengan beberapa pesantren di pulau Jawa yang menampung anak-anak NTT tanpa dipungut biaya.

Setiap tahunnya hampir ada sekitar 5 sampai 10 anak yang dimasukkan pondok pesantren. Hasilnya pun jitu. Sepulang dari pesantren mereka mendakwahi keluarga mereka. Dari cara itu, dapat mengerek angka mualaf.

Karen rajin berdakwah, sampai-sampai Qadir pun mendapat jodoh putri dari salah satu kepala suku. Awalnya, Qadir tertarik pada Rince Mano, putri dari kepala suku Mano yang bernama Yakobus. Karena waktu itu masih Kristen, maka oleh Qadir sang putri kepala suku itu diajak masuk Islam.

Walhasil, Rince pun mau bahkan diikuti juga ayahnya. Nama Rince kemudian diganti jado Rahmawati sedang ayahnya Yahya. Setelah setahun masuk Islam, Qadir pun baru menikahi Rahmawati.

Menanggalkan Bendera

Menariknya, dalam berdakwah, Qadir tidak membawa embel-embel payung organisasi. Meski menurut Qadir yang juga termasuk anggota dari salah satu ormas terbesar di Indonesia, tapi dalam berdakwah dia hanya mengaku Islam saja.

Apa pasal? Ternyata, menurutnya, jika membawa embel-embel organisasi kurang efektif. Mudah diadu domba oleh misionaris.

“Nanti dibilang Islam banyak aliran,” ujarnya. Jadi, Qadir pun hanya mengajarkan Islam tanpa harus membawa organisasinya. Di derahnya, Qadir sebenarnya tidak sendirian dalam berdakwah. Ada banyak dai dari sejumlah organisasi Islam lainnya. Tapi, seperti Qadir, para dai tersebut sepakat untuk tidak mengatasnamakan bendera organisasi mereka. Mereka hanya mengaku Islam saja. Sebab, menurutnya, pengkotak-kotakan organisasi bisa jadi makanan empuk para misionaris untuk memecah belah umat Islam. Mengakhiri permbincangan dengan hidayatullah.com, Qadir memohon doa kepada umat Islam agar setiap langkahnya dimudahkan Allah, Amien. [anshor/hidayatullah.com]

foto: ilustrasi dakwah di pedalaman suku Baduy

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pendeta Abraham Tanda Tangani Surat Pernyataan.
Tulisan selanjutnya Senin, MER-C Kembali Tembus Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?