Hidayatullah.com–Jarum jam menunjukkan pukul 9.00 pagi. Lapangan Kota Baru, Solo, Jawa Tengah, Ahad (26/6) lalu telah dipadati oleh sekitar 20 ribu orang. Sorot mata mereka tampak seksama melihat Ir. Heppy Trenggono, inisiator gerakan Beli Indonesia saat naik ke atas podium di atas tribun lapangan. Suara kentongan bambu para hadirin bertalun saling sahut-sahutan.
Heppy dengan mengenakan baju dan celana putih tampak membuka secarik kertas. Pandanganya ke depan dan menyapu seluruh yang hadir. Sesaat kemudian, ia mendeklarasikan sesuatu. “Kami segenap bangsa Indonesia. Dengan ini menyatakan, Beli Indonesia, membela produk Indonesia, membela bangsa Indonesia, dan menghidupkan semangat persaudaraan Indonesia.”
Demikian dikatakan pengusaha kelapa sawit ini sambil mengucapkan takbir di akhir deklarasinya. Kentongan pun semakin membahana. Takbir juga sahut-menyahut.
Tak ketinggalan, puluhan reporter dari berbagai media mengabadikan momen langka tersebut. Teriakan Beli Indonesia juga tak henti-hentinya terdengar. Slogan-slogan Beli Indonesia dan Mari Bela Indonesia menghiasi di setiap penjuru lapangan.
Selain dihadiri masyarkat biasa dari berbagai daerah, tampak hadir sejumlah tokoh, pejabat dan pengusaha sukses yang duduk di tribun, di antaranya Guruh Soekarno Putra, anak Presiden RI pertama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo, Prof. DR. Zainal Arifin, dan Ketua TDA (Komunitas Tangan di Atas), H. Alay.
Deklarasi ini merupakan rangkaian akhir dari Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) yang diselenggarakan dari tanggal 22-26 di Gedung Diamond Solo Convention Center. Kongres itu berisi berbagai talkshow seputar bisnis yang menghadirkan para pengusaha sukses. Acara ini juga dimeriahkan expo produk dalam negeri dari 400 lebih pengusaha.
Dalam orasinya, Heppy mengatakan, Indonesia telah merdeka selama 66 tahun lamanya. Tapi, dalam kurun waktu panjang itu, Indonesia masih jauh dari sejahtera. Kemiskinan dan kemalaratan masih merajalela. Hal itu, kata pengusaha sukses ini, tidak lain karena tidak adanya pembelaan terhadap produk tanah air.
Masyarakat selama ini dininabobokkan produk asing. Walhasil, produk asing menguasai hampir seluruh sektor perekonomian Indonesia. Karena itu, satu-satunya cara agar keluar dari jeratan itu adalah membeli Indonesia.
“Dengan Beli Indonesia, kita bisa selamatkan bangsa ini,” teriak Heppy dengan nada keras.
Menurutnya, memulai gerakan ini tidak harus menunggu bangsa ini memiliki semua produk. Gerakan itu bisa dimulai dari yang mampu dan mudah dulu. “Kita bisa melakukan apa yang kita bisa dulu. Kalau ada susu buatan sendiri, jangan beli susu VOC,” tegasnya.
Heppy juga menyindir perilaku pemerintah yang lebih suka belanja produk asing. Ia mencontohkan seperti pembelian pesawat dari China. Padahal, tegasnya, Indonesia lewat IPTN bisa membuat pesawat sendiri. Tapi, pemerintah justru lebih tergiur produk asing. Tidak hanya itu, banyak produk aset strategis tanah air yang kini dikuasai asing.
Untuk keluar dari itu, kata Heppy, perlu ada komitmen nasional seluruh kalangan untuk membela dan bangga produk tanah air. “Bangga terhadap produk sendiri harus jadi karakter bangsa. Mari kita beli Indonesia,” tegas Heppy yang diukuti gemuruh peserta.
Orasi singkat dan padat Heppy menyentak setiap orang yang hadir. Dalam sesi tanya jawab, seluruhnya mendukung gerakan tersebut.
“Kami butuh gerakan seperti ini. Kami perlu dimotivasi,” ujar salah satu penanya. Hal senada disampaikan lelaki paruh baya lainnya. Katanya, gerakan ini sangat penting dilakukan agar Indonesia bisa maju dan sejahtera.
Ketua Panitia kongres, H. Joni Iszunaji, SE kepada hidayatullah.com mengatakan, deklarasi tersebut menyadarkan seluruh elemen masyarakat akan produk dalam negeri dan tidak membeli produk asing. Ia pun tidak keberatan jika gerakan itu dikatakan sebagai perang terhadap produk asing. Bahkan, gerakan ini tidak takut jika dapat tekanan dari pihak tertentu.
“Kita tidak takut. Kita nyakin 100 persen menang bila didukung segenap masyarakat Indonesia,” kata Joni, ketua Indonesia Islamic Bisnis Forum Jawa Tengah yang juga penguasaha ini optimis.
Meski diakui Joni, jumlah produksi dalam negeri masih tertinggal jauh, sekitar 80 persen, tapi dalam waktu dekat bila terus berjalan, ketertinggalan itu bisa dikejar. “Kita sudah bikin program ke depan yang jelas. Kita juga sudah bikin dewan Beli Indonesia nasional yang terdiri dari rektor dan orang penting,” tegasnya.
Langkah yang akan langsung dilakukan gerakan ini adalah mengedukasi masyarakat cara berbisnis yang bagus. “Kita akan ajarkan mereka cara bikin retail house di berbagai daerah,” terangnya.
Yang terpenting, lanjut Joni, masyarakat bangga dan mau membeli produk sendiri. “Kalau mau beli air minum, lebih beli produksi dalam negeri, bukan lainnya. Dan itu sudah mulai terjadi,” katanya.*