Hayya alas sholah….
Hayya alal falah….
Hayya alal falah….
SUARA adzan Subuh menyadarkanku dari tidur. Setelah menyusun kembali kesadaranku, akhirnya kusadari, suara adzan itu adalah alarm handphone, bukan dari masjid. Maklum, tidak mungkin ada suara adzan menggema di kampusku ini sebagaimana dulu saat masih di Tanah Air.
Berbeda sekali dengan di tanah kelahiranku dulu. Jangankan adzan, masjidpun jarang sekali di Negeri Gajah Putih ini. Bunyi alarm tanda waktu-watu shalat sudah saya sesuaikan semenjak dating ke negeri ini.
Sore ini teman sekamarku mengajakku mengunjungi tempat bernama Asiatique, Thailand. Sebuah tempat bekas dermaga yang dipugar menjadi tempat berkumpulnya para turis.
Sebenarnya tidak ada yang menarik di sana. Namun sebuah Festival Halal (kala itu di adakan mulai tanggal 12 hingga 22 Juli 2013) menggoda hati kami untuk sekadar berkunjung.
Untuk menuju ke lokasi, saya perlu menumpang kereta listrik dan menumpang sebuah kapal mengarungi sungai Chao Phraya. Pengunjung didominasi oleh penduduk asli Thailand. Turis Asia seperti China, Jepang, dan Korea juga dengan mudah ditemui dikenali.
Mencoba Nasi Kerabu
Usai tiba di lokasi kami bisa melihat berbagai macam makanan halal rasa Thailand selatan dijajakan. Mulai snack pembuka selera seperti sosis, jamur, dan bakso ikan hingga makanan berat seperti nasi biriyani, Sticky Rice (nasi ketan) dan ayam goreng. Mungkin karena itu bulan Ramadhan, penjual masakan tidak berlabel halal pun ikut meramaikan dan merasakan pula berkahnya.
Hanya saja bedanya dengan di Indonesia, di sini, dengan mudah dapat dibedakan mana makanan dan minuman yang halal dan tidak. Sebab ciri-ciri kehalalan sebuah produk makan bisa dilihat jelas.
Pada kesempatan itu, saya manfaatkan untuk menjajal aneka kuliner khas Thailand yang belum pernah saya coba. Di antara yang saya mencoba nasi kerabu. Nasi kerabu adalah nasi yang dicampur dengan aneka bumbu dapur seperti bawang merah, wortel, kecambah serta dilengkapi dengan serundeng dan daun khas kuliner Thailand.
Jangan ditanya rasanya, sangat asin dipadu dengan rasa segar. Agak sedikit berbeda dengan lidah Indonesia. Untuk snack tajil saya menjajal makanan roti goreng yang dicocol dengan saus krim susu. Serta Es Chayen (teh tarik) sebagai minuman pelengkapnya.
Yang cukup menarik, sebagian besar umat Muslim di Thailand terkonsentrasi di Thailand selatan. Khususnya di tiga propinsi; Yala, Pattani dan Narathiwat. Ini adalah kota-kota dengan penduduk Muslim yang berbatasan dengan Malaysia.
Selain itu, kebanyakan dari mereka sebagian bisa berbahasa Melayu. “Boleh cakap Malay lah sikit-sikit” (bisa bahasa Melayu sedikit-sedikit), demikian istilah penjual Nasi Kerabu dan Chayen ini memberi tanda bisa berbahasa Melayu.
Dengan bahasa Melayu, kami berkomunikasi lebih harmonis.
“Mai khun Thai Kap,” (Anda bukan orang Thailand) “Malaysia?,” tanyanya.
“Bukan, Indonesia,” jawab saya kala itu.
“Bolehlah cakap Melayu?,” ujarnya menawarkan.
Kebetulan bulan Ramadhan, saya menemukan pemandangan unik kala itu. Saya menjumpai saudara-saudara Muslim saya ini berbuka puasa dengan cara makan berkelompok.
Saat saya akan mengambil wudhu, salah satu pengurus masjid menghampiri dan mengajak kami bergabung.
“Kin” (makan), “ ajaknya. Saya pun tak menolak ajakan mereka, namun saya berjanji akan bergabung selepas shalat maghrib.
Rupanya salah seorang pengurus masjid lain mengundang kami.
“Ayo makan-makan”. Sepertinya pengurus masjid yang dituakan ini mengetahui kami bukan penduduk asli Thailand.
Selepas maghrib kami disuguhi sebuah nampan berisi nasi gulai, buah nanas, ikan asin, sup ayam dan minuman plethok yang sangat segar. Seolah bumi itu kecil, di sana kami juga bertemu dengan dosen UMM Riza Rahman Hakim yang kebetulan sedang mengambil studi di Universitas Kasetsart. Akhirnya kamipun menikmati hidangan buka bersama-sama saudara-saudara Muslim yang lain.
Berbicara soal halal, di Thailand saya sesungguhnya merasa lebih nyaman dibanding di dalam negeri. Sebab rasanya tidak sulit untuk menemukan label halal di produk-produk di makanan maupun minuman kemasan.
Tidak lain dan tidak bukan, pengaruh cucu pendiri organisasi Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, Dr Winai Dahlan yang punya andil membantu kelahiran lembaga sertifikasi halal di Thailand.
Dr Winai Dahlan adalah sosoknya sangat dikenal sebagai aktivis Muslim besar di Thailand. Ia juga dikenal sebagai pendakwah yang diundang ke beberapa negara, dosen tetap di Universitas Chulalongkorn Thailand dan saat ini menjabat sebagai Direktur Halal Science Center, sebuah pusat penelitian sertifikasi halal di Thailand. Karena merasa lebih terjamin, kabarnya saudara-saudara Muslim dari Australia mengimpor daging halal dari Negara Thailand.*/ Kiriman Fashal Anshary, dari Thailand