SEORANG perempuan menghentikan langkahnya. Ia tertegun melihat sekelompok perempuan berjilbab yang tengah beraktifitas. Gerak-gerik para Muslimah itu mengundang perhatian perempuan asing ini. Maklum mengundang perhatian, sebanyak delapan orang duduk di lantai di tengah keramaian ruang pamer Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Rupanya, salah seorang dari mereka melihat ada gadis yang sejak tadi memperhatikan kegiatannya dengan seksama.
“Kenapa, mbak? Ada yang yang bisa dibantu?” tanya seorang Muslimah. Perempuan yang sejak tadi berdiri mematung itu tiba-tiba menjawab: “Can you speak English?”
Beberapa orang dari Muslimah itu seketika mendongak. Salah satu dari mereka kemudian menanyakan asal negaranya. Sang perempuan asing itu menjawab: “Saya dari China. Bisa beritahu saya, apa yang kalian lakukan?” tanyanya.
Delapan Muslimah itu mempersilahkan duduk dan ikut dalam lingkaran di antara mereka. Untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan, Luo Xiang Fei, demikian nama asli perempuan asing itu banyak bertanya pada orang yang berada di dekatnya. Ia bahkan minta diterjemahkan.
Para gadis yang rata-rata berusia 20 tahunan-an bercerita bahwa ia sedang menulis surat untuk teman-teman yang sedang duduk.
“Ini bukti kasih sayang kami,”ucap wanita bernama Ayu Wepe.
Menurut Ayu, ia dan para sahabatnya ini sedang mengisi liburan minggu pagi mereka dengan bertukar cerita melalui kertas selembar. Masing-masing menuliskan kesan apa yang didapatkan selama berorganisasi. Selama ini mereka aktif berkegiatan di sebuah masjid di Jakarta. Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal dipilihnya sebagai penyegaran.
Hari Ahad, 27 Oktober 2013 menjadi hari yang berkesan bagi Luo Xiang Fei. Pagi itu perempuan asal Guangzhou yang memutuskan mengisi liburannya di museum Bayt al-Qur’an TMII tidak menyangka langkah kakinya membawanya pada persahabatan dengan para Muslimah Indonesia.
Dengan penuh kesabaran perempuan yang memiliki nama Inggris Ariel ini menunggui para Muslimah itu menulis cerita. Padahal, bukan waktu singkat menunggu karena setiap anak harus menuliskan satu-persatu untuk semua teman-temannya yang berada di sana dan selanjutnya masing-masing orang dalam lingkaran tersebut membungkus makanan ringan dan saling menukarkan hadiah.
Sesekali Ariel, demikian panggilan Inggris Luo Xiang Fei bertanya tentang penukaran hadiah.
“Kita bebas memberikan pada siapa yang kita suka,” jelas Riri, salah satu Muslimah dalam rombongan itu.
Ariel menangkap maksudnya. “Oh, berarti, ada di antara kalian yang tidak mendapatkan hadiah?”
Apa yang dikatakan Ariel tidak meleset. Hanifa, teman Riri, mendapatkan tiga kado. Sedangkan ada tiga orang lainnya-termasuk Riri-tidak mendapatkan sama sekali. Masing-masing orang mengemukakan alasan pemberiannya. Teman-teman yang tidak mendapat hadiah tertawa geli atas kenyataan yang mereka hadapi.
Perempuan bermata sipit itupun ikut tertawa melihat makanan-makanan yang ada dalam genggaman Hanifa. Walaupun sudah dihadiahkan, tapi pada akhirnya dimakan juga bersama-sama.
Mereka juga menawari Ariel untuk mencicipi makanan yang tersedia.
“Ariel, ini kue nastar buatan Ayuda. Ayo, dicoba!”ucap Hanifa sembari membawa setoples Nastar, hadiah dari Ayuda.
Begitu juga dengan teman lainnya ikut menawarkan pudding cokelat kacang hijau.
“Ok, thank you. But, later,”ucap Ariel malu-malu.
Suasana saat itu begitu hangat dan akrab. Hal itulah yang membuat Ariel tidak beranjak dari duduknya. Bahkan dia tetap bersama rombongan Muslimah itu selama hampir dua jam berikutnya. Beberapa remaja Muslimah itu mengingatkan agar tidak tertinggal rombongan karena terus menemaninya.
“Tidak masalah. Hari ini saya sendiri. Teman saya tidak mau saya ajak jalan-jalan,”ucapnya sembari membentangkan peta Jakarta.
Rupanya Ariel selalu membawa peta selama bepergian. Ia bahkan berani naik Bus Transjakarta dari Tomang ke TMII, tanpa pemandu. Sebeb menurutnya, di dalam peta sudah terdapat jalur bus.
Perempuan berusia diawal 20-an itu merupakan salah satu karyawan sebuah perusahaan elektronik besar di Guangzhou. Ia sendiri berasal dari kota yang terkenal dengan pusat bisnisnya itu.
Sejak kakinya sampai di TMII ia tertarik pada museum Bayt al-Quran. Ruang pamer pertama bahkan sudah dimasuki. Letaknya persis bersebelahan dengan pintu masuk, memang memudahkan bagi siapa saja segera masuk. Museum Istiqlal berada di dalamnya. Di sana para pengunjunung dengan mudah melihat beragam jenis al-Qur’an dan kaligrafinya.
Sudah sejak dua minggu lalu, lulusan jurusan akuntansi itu bertugas di Jakarta. Keberadaannya di Indonesia sampai pertengahan November.
Mengapa pria tidak berjilbab?
Rasa ingin tahu Ariel terhadap Islam begitu besar. Hal itu terlihat dari berbagai komentar yang dilontarkannya. Salah satu dari mereka menyetel murotal al-Qur’an yang dilantunkan oleh Syeikh Misyari Rasyid. Suara itu terdengar melalui telepon genggam.
“Di agama kami, Budha, juga ada song (lagu). Biasanya dinyanyikan oleh para biksu ketika sedang ibadah. Ada ketukannya. Tapi tidak sama seperti ini,”ucap Ariel setelah mendekatkan telinganya pada telepon genggam itu.
Mendengar apa yang dikatakan Ariel, Hanifa menyanggah cepat. “Ini bukan lagu,”kata wanita yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Inggris itu. Kemudian Ia menjelaskan bahwa apa yang dilantunkan oleh Syeikh adalah ayat suci al-Qur’an, pedoman hidup umat Islam.
Hanifa menjelaskan, lantunan itu tidak bisa disamakan dengan song (lagu) sebagaimana yang baru disebutkan Ariel. Lebih jauh, Ariel mengaku ingin melihat cara shalat. “Bolehkah saya melihat?”tanyanya.
Mushola berada di dalam gedung yang sama. Letaknya di dekat pintu masuk. Tidak hanya duduk di pelataran mushola saja, bahkan Ariel makin bersemangat ketika ia dibolehkan melihat persis di belakang baris kaum perempuan yang sedang bertakbir. Dengan seksama Ariel memperhatikan. Ia duduk ditemani salah seorang Muslimah yang saat itu sedang “libur” shalat.
Jamaah perempuan berada di dalam sekat kayu yang memisahkannya dengan jamaah laki-laki. Namun jamaah laki-laki masih bisa terlihat.
“Mengapa laki-laki seperti mereka tidak mengenakan baju seperti yang kalian pakai. Kenapa kepala mereka tidak ikut ditutupi?” tanyanya Ariel dengan suara berbisik.
Riri yang saat itu menemani, menjelaskan tentang perbedaan bagian tubuh pria dan wanita yang diperbolehkan dilihat oleh orang kebanyakan.
“Hanya untuk keluarga yang diperbolehkan saja dan suami kita kelak, yang boleh melihat bagian tubuh kita selain wajah dan telapak tangan,”ucap Riri. Dengan penjelasan singkat, perempuan berkacamata itu memaparkan betapa Islam ingin melindungi harkat dan martabat wanita.
Kepala Ariel manggut-manggut. Apa yang dijelaskan oleh teman-teman barunya, merupakan sesuatu yang asing baginya.
Menurutnya di China jarang sekali ada perempuan berjilbab. Riri bahkan sempat bertanya bukankah di negeri tirai bambu ada penduduk Muslim, tepatnya di Uighur yang merupakan ibukota provinsi Xinjiang? Ariel mengaku merasa senang jika Riri mengirimkan informasinya melalui surat elektronik.
Akhirnya keduanya saling bertukar email dan nomor telepon.
Tampaknya pertemuan dengan Muslimah Indonesia sangat berkesan baginya. Pada penghujung pertemuan, ia bertanya tentang kemungkinan pertemuan selanjutnya di masjid.
Ketertarikannya bertambah ketika mendapat informasi keberadaan Masjid Lautze, Jakarta Pusat di mana jamaah masjid itu sebagian besar adalah keturunan Tionghoa. Ariel juga ingin melihat kegiatan para Muslimah di masjidnya sebelum kembali ke Guangzhou.
“Next Sunday, maybe?”tanyanya memastikan. Riri dan teman-temannya saling melirik. Mereka tersenyum. Tak ada sesuatu terjadi secara kebetulan. Mudah-mudahan ini merupakan awal baginya mendapat pencerahan.*