“INDONESIA dan Malaysia Bagusnya Bergabung!”
Pernyataan di atas bukan dilontarkan Presiden Republik Indonesia, atau oleh Perdana Menteri Malaysia, atau seorang diplomat, tokoh agama maupun pengamat politik. Juga bukan hasil pertemuan pemimpin kedua negara.
Seruan tersebut setidaknya disetujui oleh Ahmad Fahrullah bin Muhammad Na’im. Dia belum begitu lama tinggal di Indonesia, di sebuah daerah yang cukup jauh dari ibukota negara, Jakarta. Fahrullah, panggilannya, bukan pengamat dunia internasional. Dia justru tak tertarik dengan politik.
Fahrullah adalah seorang santri di Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon, Jawa Barat. Meski baru setahun lebih nyantri, dia sudah merasa betah hidup di Indonesia. Salah satu yang membuatnya betah karena lingkungan pesantren yang terletak di Jalan Pangeran Cakra Buana, No. 179, Sendang, Sumber, Kabupaten Cirebon itu.
Remaja 15 tahun ini masuk ke Al-Bahjah pada 2011 lalu. Salah satu yang membuat dia kerasan di tempat ini, karena dia menilai pesantren di Indonesia lebih kondusif dibanding pesantren di Malaysia. Olehnya, dia berharap kedua negara saling bersinergi, bukan sebaliknya.
Meski lahir di Terengganu, 3 Juli 1998 silam, Fahrullah mengaku tidak punya garis keturunan dengan rumpun Melayu. Anak kedua dari pasangan Muhammad Na’im bin Muhammad Akib (42) dan Suraya binti Isa (32) ini berdarah tiga negara.
“Neneknya orangtua (dari) Kamboja, kawinnya sama orang lain, orang Cina. Terus bapaknya keturunan Vietnam, kawinnya sama orang Kamboja. Tapi keturunan Melayu nda ada. Keturunan Kamboja, Cina, Vietnam. Tapi sudah dikit lupa sih (bahasanya), lama nda dipakai,” jelas Fahrullah saat bincang-bincang dengan Hidayatullah.com di dapur umum kampus utama Al-Bahjah, Selasa, 8 Muharram 1435 H (12/11/2013) lalu.
Tak Sengaja
Di Al-Bahjah, remaja ini ditemani kakak sulungnya, Ahmad Duzuki, 16 tahun. Kehadiran mereka berdua di pesantren milik Yahya Zainul Maarif, atau dikenal Buya Yahya itu atas perintah ayahnya. Uniknya, dipilihnya pesantren tersebut bisa dibilang tidak sengaja.
Ayahnya, tutur Fahrullah, saat itu hendak mencari pesantren yang cocok buat anak-anaknya. Bermaksud mencari “Buya Hamka” –tokoh Muslim di Indonesia yang cukup populer–, Na’im pun mengetik kata kunci “Buya” di internet. Namun yang muncul justru “Buya Yahya”.
“Ayahnya (ayah Fahrullah. Red) nyari di internet itu mau nyari Buya Hamka. Terus keluar ‘Buya Yahya’. Langsung (ayah) ke sini. Seminggu ke sini, pulang, langsung bikin paspor, bikin visa (buat kami),” kenangnya di sela-sela mengupas bawang dan memotong tempe.
Sepanjang obrolan dengan media ini, Fahrullah kerap menggunakan imbuhan “nya” sebagai kata ganti kepunyaan “aku”. Seperti jika hendak mengatakan “ayahku”, dia menyebut “ayahnya”.
Yang menarik lagi, meski jauh-jauh datang dari Malaysia, Fahrullah bukannya belajar layaknya pesantren lain yang dijejali materi bejibun. Di awal-awal, dia memang santri biasa yang rutinitas utamanya belajar.
Namun enam bulan belakangan ini, Fahrullah mendapat tugas khusus yang disebut Santri Khos. Santri Khos ini menempati berbagai unit usaha Al-Bahjah. Mulai minimarket, radio, tim dakwah, sosial dan sebagainya. Sementara Fahrullah kebagian tugas sebagai tukang masak di dapur.
Meski begitu, orangtuanya tidak mempermasalahkan. Salah satu pesan orangtuanya yang paling dia pegang adalah amanat belajar.
“Ya disuruh belajar. Tapi di sini kan lambat ya belajarnya, saya milihnya ikut Khidmat. Katanya Mama nda pa-pa (ikut) Khidmat, tapi kan tetap belajar,” ujar remaja berkulit putih dan bermata agak sipit ini.
Khidmat merupakan istilah dalam bahasa Arab yang berarti bantuan, atau yang memberi pelayanan. Dengan adanya Khidmat inilah Fahrullah justru merasa berkesan mondok di Al-Bahjah. Berbeda dengan pesantren lain yang menurutnya lebih banyak belajarnya daripada kerjanya.
Belajar Tiga Jam
Rutinitas Fahrullah sepanjang pagi hingga siang dan sore tak hanya mengurusi konsumsi. Dia berada di dapur mulai pukul 9.00 WIB. Menyiapkan rempah-rempah, memasak nasi, lauk-pauk dan sebagainya untuk dimakan ratusan santri Al-Bahjah, putra dan putri. Menu yang dibuat pada pagi hari disiapkan untuk sarapan dan santap siang.
Saat senggang, Fahrullah kerap disuruh mengerjakan pekerjaan lain di luar dapur, semisal ke bengkel memperbaiki sepeda motor, atau memberi makan ternak. Semua itu tidak dikerjakan sendiri, dia ditemani Khidmat-khidmat santri putra lainnya. Lantas kapan belajarnya?
“Siangnya ya istirahat sampai Ashar. Asharnya nyambung lagi (siapin) makan seperti itu. Terus malamnya baru belajar, jam 9. Nanti kalau mau ngambil tambahan ya ba’da (setelah) Maghrib langsung belajar sampai Isya’. Terus kalau belajar selanjutnya sampai jam 9, (terus) sampai jam 11,” tutur Warga Negara Asing (WNA) yang cukup lancar berbahasa Indonesia “pasaran” ini, meski kadang agak ribet memahaminya.
Salah satu aturan di Al-Bahjah, para santri diharuskan berbahasa Arab dalam keseharian. Bagi santri baru, diberi waktu tiga bulan untuk beradaptasi. Begitu pula terhadap Fahrullah. Di awal-awal mondok dia masih menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Tanah Air ini dia pelajari saat masih di Malaysia.
“Sebenarnya, di sana (Malaysia) kan ada film-filmnya Indonesia, jadi belajar (sampai) bisa gitu. Ya prioritasnya ngomong (bahasa Indonesia) itu dulu,” ungkapnya.
Untuk menguasai bahasa Arab pun, dia mengaku tak kesulitan. Waktu adaptasi yang ditetapkan pondok mampu dimaksimalkan.
“Kalau santri masuk ke sini Insya Allah tiga bulan udah bisa ngomong (bahasa Arab). Kan denger-denger terus gitu, jadi, Alhamdulillah (bisa),” lanjutnya.
Fahrullah pun mengaku sering kena hukuman karena melanggar. Hukuman ini di pondok tersebut biasa disebut ta’zir.
“Yang parahnya dibotak, (sudah) tiga kali. (Gara-gara) tidur di masjid dulu. Sekarang sudah boleh,” kenangnya sembari tertawa.* Bersambung