Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Napak Tilas Pejuangan Jihad Pangeran Diponegoro [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Mei 2015 09:33 9:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Mei 2015 08:58
Bagikan
Bagikan

HARI Ahad, 3 Mei 2015, rombongan pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dari berbagai daerah di Indonesia melakukan napak tilas ke Gua Selarong, Jogjakarta.

Gua Selarong adalah gua bermuatan sejarah berlokasi di Dukuh Kembangputihan, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta.

Gua yang terbentuk di perbukitan batu padas ini digunakan sebagai markas gerilya Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan tentara Hindia Belanda.

Di Gua Selarong inilah, Pangeran Diponegoro menjadikan sebagai tempat persembunyian dan menyusun strategi setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda.

Pangeran Diponegoro  yang bernama kecil Raden Mas Antawirya, dikenal seorang pahlawan sekaligus seorang ulama yang berkepribadian mulia.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Perjalanan rombongan pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini bukan perjalanan biasa, namun ‘perjalanan ruhani’ mengenang perjuangan jihad Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.

Diponegoro, Keraton Khilafah Islam

Sejak perjalanan di dalam bus, peserta mendapat penjelasan secara terperinci tentang visi misi dan perjalanan jihad Pangeran Diponegoro yang begitu hebat Salim A. Fillah, seorang penulis produktif sekaligus seorang dai muda yang sangat mendalami kisah sejarah perjalanan jihad Pangeran Diponegoro dan hubungan Keraton Jogjakarta yang mengambil dari para saksis dan buku-buku sejarah.

Dengan penjelasannya yang rinci dan fasih, penulis “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” (2007) dan “Lapis-lapis Keberkahan” (2014) ini  begitu sangat menjiwai perjuangan para mujahidin di Tanah Jawa itu.

Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785) terkenal karena memimpin Perang Jawa (Java Oorlog 1825-1830) melawan penjajah Belanda.

“Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. Pemerintahan Belanda di Jawa sampai hampir mengalami kebangkrutan karena kas pemerintah dikeluarkan sangat banyak untuk peperangan ini. Kurang lebih menghabiskan uang 20 juta gulden dan jumlah tentara Belanda yang tewas ribuan,” ujar Salim A Fillah.

Diponegoro, adalah seorang pangeran alim dari keraton Jogjakarta. Putra sulung Sultan Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta.

Pangeran Diponegoro memiliki banyak nama dan gelar. Diantaranya, Muhammad Muthahar, Syaikh Abdurrahim, Pangeran Antawirya, Sultan Abdul Hamid.

“Lihat salah satu panggilannya adalah “Syaikh”. Menunjukkan beliau bukan hanya orang ningkrat kerajaan, tapi seorang ulama,” demikian ujar Salim A Fillah.

Mengutip beberapa bukti sejarah, Salim menceritakan, kurikulum Keraton Mataram sejak Hamengkubuwono I sampai IV menggunakan Kurikulum Islam.

Kala itu, anak-anak Keraton diwajibkan Bahasa Arab. Raja Hamengkubuwono bahkan dikenal fasih berbahasa Arab kala itu.

Ini bisa dimaklumi, sebab pada masa itu Mataran tunduk kepada Kesultanan Turki Utsmani. Raja menyatakan bagian dari Daulah Utsmaniyah. Maka tidak heran hubungannya sangat erat dan kuat.

Hubungan-hubungan yang menunjukkan jejak Turki diantaranya adalah salah satu gelar Pangeran Diponegoro adalah ‘Abdul Hamid’, di mana di Turki sultannya kala itu bernama Abdul Hamid.

Selain itu, jejak pengaruh Kekhalifahan Turki juga terlihat dari  struktur militer Pangeran Diponegoro di mana salah satu Brigade Laskar Diponegoro bernama “Turkiyo”, konon mereka berasal dari Turki.

Panglima tertingginya kala itu adalah Sentot Ali Basah, yang diadaptasi dari gelar Ali Pasha bagi jenderal militer Turki.

Perubahan terjadi sejak masa Hamengkubowono V dan seterusnya. Di Keraton tidak ada lagi pelajaran Bahasa Arab. Bahkan tarian wanita yang sejak masa Hamangkubuwono I hingga IV dilarang justru, justru masuk dan menjadi pertunjukan di Keraton.

Di masa Hamengkubuwono V inilah, masa setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda diasingkan ke Manado kemudian dipindah ke Makassar hingga wafat.*/A Kholili Hasib  (bersambung).. ‘kemben, blankon dan Islam’

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Majelis Intelektual dan Ulama Muda IndonesiaMIUMISalim A FillahTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dewan Pers: Penilaian Terhadap Situs Media Tidak Boleh Sepihak
Tulisan selanjutnya Tahapan Reformasi Perubahan Politik Indonesia Lebih Damai Dibandingkan Negara Lain

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?