APAKAH saya sudah pantas menjadi tamu Allah? Inilah pertanyaan yang selama ini saya renungkan. Akhirnya, 16-24 April 2014 Allah memudahkan saya menginjakkan kaki di Madinah dan Makkah.
Sebuah catatan sudah saya tandai pada tanggal tersebut. Sebuah penandaan yang selalu menggetarkan hati yang selalu saya tunggu-tunggu. Kok, bisa Allah mengundang saya di dua kota yang paling dicintai-Nya?
Di hari-hari sebelum keberangkatan Umrah, doa yang tidak pernah absen dipanjatkan adalah kemampuan membaca hikmah atas peristiwa yang terjadi selama sembilan hari tersebut. Pasti Allah ingin saya belajar atas perjalanan ini.
Benar saja! Jejakan kaki pertama di Madinah menguji kesabaran. Udara bulan April yang panas dan sinar matahari yang terik, koper tak kunjung ditemukan, sandal tertukar, berdesakan di toilet dengan jamaah dari negara lain, satu dari banyak kejadian yang sangat mungkin dihadapi oleh setiap jamaah Umrah. Semuanya bisa kita jadikan alasan melepas amarah. Ego individu akan muncul. Tapi, disinilah kedewasaan kita akan diuji.
“Haduh, jangan dorong-dorong! Tuh, kan jatuh!” ucap seorang Ibu asal Indonesia sambil terisak. Akibat dorong-mendorong yang dilakukan jamaah negara lain ketika hendak berwudhu, ia jatuh tersungkur. Mendengar raungannya, penjaga toilet di Masjid Bir Ali, menghampirinya.
“Jangan lengah, Bu! Disini walaupun badannya sama seperti kita, tapi mereka kuat-kuat,”ucap penjaga asal Indonesia itu tersenyum sembari membantunya berdiri. Semua jamaah yang berada di masjid tersebut hendak berwudhu sebelum mengambil miqat (niat) Umrah.
Kejadian demi kejadian membuat saya belajar. Ternyata cara pandang menghadapi persoalan sangat mempengaruhi langkah kita. Jika mau sedikit bersabar, Allah pasti akan mencurahkan karunianya.
Sama seperti seorang perempuan yang kehilangan kopernya sejak hari pertama tiba di Madinah. Sampai hari terakhir di Makkah, kopernya tidak kunjung ditemukan.
“Untungnya saya masih simpan tiga pakaian di koper kabin,” ucapnya sembari menyunggingkan senyum. Ia tidak panik. Tetap berbesar hati menjalankan ritual sampai selesai.
“Tenang saja. Nggak ada yang namanya koper hilang. Yang ada, kopernya menelusup kemana gitu. Kalau kopernya hilang, berbaik sangka saja sama Allah! Pasti akan dapat koper lagi!” nasihat bijak pembimbing kami menenangkannya.
Kesabaran perempuan itu berbuah keberkahan. Pada hari terakhir di Makkah, teman-temannya berembuk dan sepakat merogoh reyal-reyal mereka untuk ditukar dengan tas koper lengkap dengan pakaian untuk perempuan itu.
Hitam-Putih Kehidupan
Jutaan harapan dipanjatkan oleh ribuan orang yang melaksanakan Umrah. Mereka datang dengan kepasrahan. Selain ingin bertaubat, tentunya ada keinginan memiliki hidup lebih baik.
Sama seperti Vina, bukan nama sebenarnya. Menjelang usia 60 tahun, Ia tak putus asa bermohon pada Allah agar diberi pendamping hidup. Puluhan tahun lampau, Ia pernah menjalani biduk rumah tangga. Tidak sampai satu dasawarsa, pernikahannya kandas. Perempuan asal Bandung ini langsung mengajukan permohonan talak tiga. Celah rujuk ditutup serapat-rapatnya.
Pasca Ibunya meninggal dunia beberapa tahun lalu, praktis Vina hidup sendiri. Kakak dan adik kandungnya menetap di lain kota.
Tanpa pekerjaan tetap, Ia mencoba menjalani kehidupan sederhana. Ia tak menyangka ajakan Umrah dari kakak dan adiknya, jalan baginya untuk bisa mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.
“Waktu thawaf, saya mohon pada Allah supaya diberi pendamping yang bisa mencukupi semua kebutuhan lahir dan batin,”ungkapnya serius ketika saya temui di hotel. Hal itu diungkapkannya setelah kami selesai melaksanakan thawaf dan sa’i.
Usut punya usut ternyata salah satu penyebab perceraiannya adalah ketidakmampuan finansial mantan suaminya. Dari penjelasannya, Vina bukanlah cerminan perempuan materialistis. Saya yakin, Ia punya alasan yang sangat personal terhadap kriteria pria pilihannya.
Ada kerinduan yang tak tertahan terhadap kehadiran pasangan hidup. Berbagi cerita dan suka duka, menjadi kebutuhannya. “Kalau genteng bocor, ada yang bisa diandelin buat benerin. Kalau butuh pertimbangan, ada yang bisa diajak bicara,”tuturnya dengan pandangan sendu. Selama ini Ia merasa menjadi super women yang membereskan berbagai urusan rumah tangga.
Ternyata, bukan seperti itu kodrat yang diinginkannya.
Harapan lainnya dihaturkan oleh perempuan bernama Yati. Setiap bercerita tentang Baitullah, kedua matanya langsung berkaca-kaca. Seperti Vina, mengunjungi rumah-Nya seolah seperti mimpi.
“Beneran lu mau Umrah?” ucap pimpinannya kaget. Yati menyampaikan salah satu alasannya pensiun karena ingin Umrah. Alasan itu Ia kemukakan saat terjadi tawar menawar pesangon yang alot.
“Aku juga nggak tahu, kenapa tiba-tiba keceplosan Umrah,”jelasnya pada saya. Sebelumnya, hitungan pesangon yang akan diberikan jauh berkurang dari pesangon aturan ketenagakerjaan. Tak dinyana, dengan alasan Umrah, sang pimpinan terenyuh.
Pesangon yang diterimanya tidak 100 persen, namun Yati cukup puas. Walaupun keceplosan, ucapan itu sudah berhukum nadzar. Janji itu harus dilaksanakan. Beberapa bulan kemudian, rencana itu berhasil direalisasikannya.
Ada beberapa kesempatan saya melihatnya termangu melihat perbukitan dan padang pasir di sepanjang jalan dari Madinah menuju Makkah. Apalagi setelah pembimbing mengajak jamaah mengucapkan kalimat talbiyah, air matanya tak henti menetes saat melihat pemandangan itu dari balik kaca bus.
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaikalaa syari kalakalabbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk…..”ucapnya sembari sesekali menyeka pipinya dengan jilbab putihnya.
Para jamaah sejenak melupakan segala keletihan hidup di tanah air. Mereka menghadap sang Khalik dengan sepenuh harap. Saat mengelilingi Ka’bah, mereka sampaikan hitam-putih kehidupan. Suka atau tidak suka, roda kehidupan terus melaju. “Tapi jika segala sesuatu sambungannya ke Allah, akan turun sakinah dalam menjalankannya,”ucap pembimbing Umrah kami.
Akhirnya saya menyadari, mungkin inilah cara Allah mengajari untuk lebih bijak memahami orang lain melalui cerita hidupnya.*