Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Saat Sakit, Menulisnya Malah Lebih Cepat (2)

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 28 Juni 2014 20:32 8:32 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 28 Juni 2014 17:06
Bagikan
KH Aceng Zakaria di ruang koleksi buku-buku karangannya.
Bagikan

MENTARI mulai menyingsing dari punggung pegunungan. Sinarnya menghangatkan kawasan Rancabango, Kudangsari, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, seiring menghangatnya kopi yang menemani obrolan antara KH Aceng Zakaria dengan ketiga tamunya dari majalah Suara Hidayatullah dan Hidayatullah.com.

Sabtu pagi di akhir Sya’ban 1435 H (28/6/2014) itu, Aceng Zakaria semakin bersemangat menceritakan lanjutan kisah perjalanannya menggeluti dakwah. Salah satunya dakwah dengan pendidikan dan tulis-menulis.

Kiai ini menjadi terkenal se-Indonesia, bahkan luar negeri melalui kitab Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahwi. Buku karangannya ini merupakan rangkuman metode praktis dan mudah memahami ilmu nahwu.

Namun, Aceng mengakui, bukan perkara mudah menjadikan buku itu bisa diminati pembacanya. Dia terus mencoba berbagai teknik termudah hingga muncullah kitab Muyassar.

“Saya ingin mengubah persepsi (bahwa) nahwu-sharaf itu ilmu yang sulit,” ujar pria yang telah mengarang 60 lebih buku.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Menariknya lagi, awalnya berbagai bukunya dia tulis dulu dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga mencapai 50 kitab berbagai judul.

Mengapa? “Cepet (menulis) bahasa Arab daripada terjemahnya. Apalagi diterjemahkan ke bahasa Sunda, aduh, susah sekali,” aku kiai yang menulis berbagai tema kehidupan dan keagamaan ini.

Aceng pun mengungkap, meski tak bergelar formal, dia punya metode khusus dalam mengembangkan keilmuannya. Yaitu belajar, menghafal, mengulanginya, mengajarkannya, memakainya berdakwah, menuliskannya, lalu menjadikannya bahan dialog dengan para ulama dan kiai.

Pada tahun 1990-an Aceng pernah jatuh sakit. Namun rupanya ujian ini tidak menyurutkan semangatnya menulis, bahkan makin menjadi-jadi.

“Saya sakit waktu itu mah, jadinya nulisnya lebih cepat. Sampai bisa lima buku (selesai) selama 2 bulan (sakit),” kenang pria berbadan agak gempal ini.

Apresiasi dari Mesir

Pada tahun 2000-an, Aceng menemui Prof Umar Hasyim, mantan Rektor Universitas Al-Azhar di Mesir. Aceng pun menunjukkan kitab “Al-Hidâyah fî Masâ’il Fiqhiyyah Muta‘âridhah” karangannya. Saat melihat buku pembahasan fikih itu, Prof Umar tercengang.

“Kok orang kampung bisa nulis begini? Anda kuliah?” ujar syaikh Al-Azhar itu ditirukan Aceng.

Prof Umar pun memberikan Kata Pengantar di buku itu. “Dia doktor hadits, tertarik, (lalu) memberikan sambutan. Saya banyak mengupas tentang hadits (di Al-Hidayah),” ujar Aceng tentang profesor.

Kesibukan Aceng saat ini lebih banyak di Garut, mulai mengajar ribuan santrinya di Rancabango, mengawasi perkebunan dan sawahnya di belakang pesantren, hingga berdakwah ke masyarakat umum. Bahkan Aceng sekarang adalah Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Persis Garut.

Hingga kini, kegiatannya mengkaji kitab dan menulis terus berlangsung. Pantauan Hidayatullah.com Sabtu itu, rumahnya dipadati ribuan koleksi kitab-kitab berbahasa Arab. Ditambah buku-buku cetakan karangannya.

Semua buku karangannya ditulis tangan. Media ini sempat melihat beberapa manuskripnya yang tersimpan rapi.

“Sampai sekarang masih tulis tangan. Saya serahkan ke anak saya untuk ngetiknya di komputer, (yang) bahasa Arab dan bahasa Indonesia,” ujar anak dari (almarhum) H Ahmad Kurhi dan (almarhumah) Menoh ini.

Ada cerita yang sedikit menggelitik. Aceng memiliki 8 putra-putri saat ini. Kesemua anaknya itu diberi nama awalan dengan filosofi “majrur” dalam ilmu nahwu.

Majrur artinya yang ditarik atau diturunkan, maksudnya adalah isim (kata benda) yang berharokat ‘jar’ (kasroh atau baris bawah). Kalau dalam pengucapan bahasa Indonesia dibaca “i”. Maka, kedelapan anaknya dia berikan nama awal yang berakhiran “i”.

Mereka adalah, “Evi, Yanti, Lutfi, Yudi, Rifki, Husni, Zaki, dan Rahmi,” sebut Aceng.

Dia pun menjelaskan, filosofi majrur atau harakat bawah maksudnya agar anak-anaknya tetap merendah.

Apakah dia berharap mereka juga berpendidikan rendah seperti bapaknya? Tentu tidak!

Justru, aku Aceng, dia terus mendorong putra-putrinya bisa lebih baik dari dirinya. Termasuk dengan berusaha  menyekolahkan mereka setinggi mungkin, melebihi gelar Strata 1 (S1), S2, bahkan S3.

“Kalau ada S4, ya S4-lah,” guyonnya, sambil sesekali menyeruput kopinya yang mulai dingin.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Belum Serius Dorong Pemanfaatan TI Open Source
Tulisan selanjutnya Putra Mubarak Bisa Keluar Tahanan Asal Bayar Jaminan 1,6 Milyar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?