WAKTU menjelang shalat Subuh. Udara laut terasa sangit dingin. Terlihat puluhan penumpang Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Gambolo tertidur pulas di geladak kapal di lantai tiga yang beratap langit.
Seorang lelaki paruh baya berpeci, berkumis tipis, dan berjenggot sibuk membangunkan para penumpang yang tengah terbuai mimpi.
“Ayo bangun-bangun. Subuh, subuh!” kata lelaki tersebut sambil menepuk-nepuk pundak para penumpang yang tertidur.
Ada penumpang yang bersegara bangun, ada pula yang sulit dibangunkan. Ada pula yang bangun, tetapi kemudian berpindah tempat tidur.
Perlahan, beberapa saat kemudian geladak kapal sudah mulai renggang. Lelaki yang membangunkan para penumpang itu terlihat gesit membawa gulungan karpet yang lumayan berat. Dibantu beberapa orang, karpet itu kemudian digelar menghadap arah kiblat.
“Bapak-bapak ada yang bisa adzan?” tanya lelaki itu.
Seorang penumpang lalu menunjuk tangan, bersedia mengumandangkan adzan. Penumpang itu diajak lelaki tadi ke arah ruang kemudi kapal.
Lalu terdengarlah adzan melalui pengeras suara KMP Gambolo. Beberapa saat kemudian shalat Subuh berjamaah ditegakkan.
Gelapnya langit dan goyangan kapal ke kanan dan ke kiri tidak mengurangi kekhusyuan para jamaah. Shalat subuh berjamaah terdiri dari tiga shaf jamaah lelaki dan dua shaf jamaah perempuan.
Selesai imam mengucapkan salam, selesai pula pelaksanaan shalat Subuh berjamaah pagi itu. Setelah selesai berdzikir ba’da shalat, saya bersalaman dengan lelaki yang sebelum shalat Subuh saya lihat sibuk membangunkan para penumpang.
Setelah saya selidiki, ternyata lelaki itu adalah kapten KMP Gambolo. Saya tidak menyangka kalau dia adalah seorang nahkoda kapal yang saya tumpangi menuju Siberut, Kepulauan Mentawai.
Penampilannya yang sederhana dan sikap bermasyarakatnya yang tinggi membuat banyak penumpang tidak mengira kalau dia seorang kapten kapal. Selama saya menggunakan kapal laut dalam berbagai perjalanan baru kali ini saya menemukan kapten kapal yang begitu dekat dengan penumpangnya dan peduli dengan aktifitas keislaman.
Joko Prihatin nama kapten itu. Ia mengaku sudah belasan tahun menjadi pelaut. Dan kurang lebih setahun lamanya ia menjabat sebagai kapten KMP Gambolo yang melayani rute Pelabuhan Bungus, Padang menuju Kepulauan Mentawai.
Perjalanan dari Padang ke Kepulauan Mentawai atau sebaliknya memakan waktu hingga belasan jam. Perjalanan yang panjang ini harus melewati waktu-waktu shalat.
Jabatannnya sebagai kapten membuat Joko memiliki wewenang dan tanggung jawab terhadap kapal dan para penumpang. “Saya prihatin banyak para penumpang yang meninggalkan shalat, padahal saya yakin sebagai besar penumpang adalah Muslim,” kata Joko kepada hidayatullah.com belum lama ini.
Itu sebabnya ia tidak sungkan-sungkan mengajak dan membangunkan para penumpang untuk menegakkan shalat berjamaah. Untuk penumpang yang menyewa kamar Joko tidak segan mengetuk satu per satu kamar, mengajak penumpang untuk menengakkan shalat. Perkara penumpang itu tidak mau diajak shalat Joko tidak ambil pusing.
“Yang terpenting saya sudah mengajak dan mengingatkan,” jelas Joko.
Untuk tempat shalat berjamaah, Joko menggunakan geladak kapal karena tempatnya cukup luas. Karena tidak beratap, jika hujan geladak kapal ini tidak bisa digunakan untuk shalat.
Joko tidak hanya menggerakan shalat berjamaah. Ia juga mempersilahkan para dai yang hilir mudik ke Mentawai dengan KMP Gambolo untuk mengisi ceramah singkat ba’da shalat berjamaah kepada para penumpang.
Seperti ba’da shalat Subuh berjamaah ketika itu yang diisi oleh Ustadz Muhammad Siddik, dai sekaligus Koordinator Komite Muslim Peduli Mentawai (KMPM) Sumatera Barat. Dalam ceramah singkatnya, Ustadz Siddik memaparkan soal persiapan diri menjelang Ramadhan.
Bersama Ustadz Siddik, pada kesempatan yang sama ada puluhan dai yang juga ambil bagian berdakwah di Mentawai. Dengan kehadiran para dai di atas kapal KMP Gambolo ini suasana semakin hidup. Perjalanan jauh terasa singkat.
Ini saya rasakan betul. Para dai saling memberi salam, berbagi pengalaman dakwah hingga berbagi bekal makanan dan minuman. Suasana saya rasakan penuh dengan keakraban.
Joko berharap dengan langkah yang dijejaki ini dirinya bisa ikut ambil bagian menyemarakan dakwah di Kepulauan Mentawai.
“Dengan memberi fasilitas shalat berjamaah maupun ceramah-ceramah singkat ini yang bisa saya lakukan. Saya berharap lebih banyak lagi para dai yang terjun berdakwah di Mentawai. Tidak hanya di Siberut tetapi pulau-pulau lainnya,” kata Joko.*