Hidayatullah.com | HARI Ahad (5/9/2021) kemarin berlangsung diskusi bertajuk “Tasyakur 90 Tahun Prof. Dr. Syed Muhammad Al-Attas.” Acara yang diselenggarakan Bentala Tamaddun Nusantara ini menampilkan Prof. Dr Hamid Zarkasyi dan Prof. Dr Khalif Muammar sebagai pembicaranya.
Di acara ini, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang juga Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Masa Bakti 2021-2025 menceritakan kisah kedekatannya dengan gurunya, Prof Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas selama 5 tahun. Gus Hamid, begitu kalangan aktivis memanggilnya, menceritakan awal pertemuannya dengan Prof Attas, cucu Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas (Habib Kramat).
Menurutnya, pertemuan itu terjadi pada tahun 1989. Tepatnya setelah beberapa bulan pulang kuliah dari Pakistan.
Kala itu Gus Hamid sudah mendengar bahwa di Malaysia ada International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Kala itu ia sempat datang dengan Pimpinan Gontor (KH. Abdullah Syukri, KH. Hasan Abdullah Sahal, KH.Imam Badri) untuk sekadar melihat dan bertukar fikiran, kemudian selesai.
Beberapa bulan kemudian, pada tahun yang sama (1989), Gus Hamid ikut seminar yang diadakan Prof. Al-Attas di USM Pinang. Seminar itu berjudul “International Conference on Islamic Philosophy and Science”. Seminar yang sangat menarik ini dibuka oleh Datuk Seri Anwar Ibrahim Menteri Pendidikan Malaysia dan dibuka oleh Keynote Speech Prof al-Attas. Di situ Al-Attas menyampaikan keynote speech nya yang bernas berujudul Islam and Philosophy of Sciences (Islam dan Filsafat Sains).
Pada waktu itu, hadir seorang profesor muda dari Turki yang bernama Alparslan Ackgence. Begitu mendengar keynote speech Al-Attas tersebut, ia langsung tertarik dan sengaja menemui untuk bertukar fikiran. Pada saat itulah Prof. Al-Attas mengundangnya untuk bergabung mengajar di ISTAC. Tanpa bertanya gaji dan lain sebagainya, tidak lama kemudian (1990) Alparslan gabung dengan ISTAC dan ditugasi menjadi dosen filsafat Islam.
Karena Gus Hamid tertarik dengan cerita-cerita terkait ISTAC maka datanglah beliau untuk kedua kalinya bersama dengan Kiai Subakir Ahmad (Wakil Rektor IPD, waktu itu). Karena tertarik dengan kurikulum ISTAC pada waktu itu, Gus Hamid meminta izin kepada Prof. Al-Attas bagaimana jika kurikulum ISTAC digunakan di Gontor.
Tapi “Apa jawab beliau?” Ini yang sudah saya duga sebelumnya. Beliau menjawab, “Mata kuliah tidak penting. Mata kuliah itu tidak penting, yang penting adalah siapa yang mengajar. Maka dari itu kalau ingin membawa silabus ISTAC ke Gontor kirim kader ke ISTAC,” bagitu lanjut Prof.al-Attas
Seketika itu, Gus Hamid teringat dengan ayahnya (KH. Imam Zarkasyi) yang menolak memberikan daftar pelajaran di Gontor kepada orang-orang yang sengaja meminta. Dalam kesempatan seperti itu beliau selalu mengatakan daftar pelajaran itu tidak penting, yang penting adalah siapa pengajarnya. Waktu itu Gus Hamid sudah mulai minat untuk masuk ISTAC.
Mendengar minatnya, Prof Wan dan Zaini Usman mendatangi Gus Hamid di hotel, menyatakan sangat senang kalau bisa bergabung ke ISTAC. Gus Hamid pun berrencana mau masuk tahun 1995, tapi dalam masa menunggu keberangkatan itu, ada tawaran menarik (beasiswa) untuk belajar di Brimingham, Inggris, maka Gus Hamid terpaksa harus ke Inggris terlebih dahulu, sekedar untuk memperluas wawasan metodologis.
Pada tahun 1996, saat ulang tahun Pondok Modern Gontor, diundanglah Prof. Wan. Moh. Nor Wan Daud ke Gontor. Maka pada saat itu Gus Hamid bilang kepada Prof. Wan, bahwa beliau belum bisa ke ISTAC karena ada beasiswa ke Inggris. Prof. Wan waktu itu menjawab “Tidak apa, durian semakin masak semakin enak,” kata beliau.
Akhirnya berangkatlah Gus Hamid ke Birmingham untuk mengambil Masternya yang kedua (M.Phil) setelah mendapat master dari Pakistan (MA.Ed) tahun 1988. Kuliah di Brimingham ditempuh dalam masa 1 tahun 8 bulan, dari tahun 1996-1998. Setelah dari Inggris, ia pulang sebentar, kemudian langsung bergabung dengan ISTAC.
Saat itu ia tidak membawa persiapan apa-apa. Ia datang hanya dengan keluarga. Bahkan tak tahu harus menginap di rumah siapa. Akhirnya ia mengontak alumni IKPM yang di Malaysia dan dapat tumpangan sementara.
Saat mendaftar ke ISTAC, Prof Hamid, ditemui Prof. Wan Daud Wan dan langsung diminta langsung masuk Kelas. Karena Gus Hamid alumni PP Modern Darussalam Gontor, Bahasa Arabnya sudah standar bisa digunakan berdiskusi, membaca dan menulis, akhirnya mata kuliah Bahasa Arab dihapus alias tidak perlu.
“Waktu itu ada 15 mata kuliah wajib untuk doctor atau master. Saya didiskon 2 atau 3 mata kuliah. Karena ijazah dari Brimingham saya (meski tidak ada transkipnya), dan ijazah Pakistan, Master of Education yang sangat jauh standarnya dari ISTAC,” katanya.
Akhirnya, Gus Hamid mengambil sekitar 13 mata kuliah, bersama mahasiswa yang sedang menempuh S2. Meskipun begitu beliau juga ikut kelas mata kuliah lain yang tidak wajib, karena memang materinya banyak yang menarik. Semua dijalaninya selama dua tahun (1998-2001).
Di ISTAC, Gus Hamid mulai kuliah dengan Prof. Al-Attas dengan mata kuliah The Religion of Islam. Namanya simpel tapi isinya luar biasa, katanya.
“Intinya mata kuliah ini ingin menjelaskan Konsep Worldview Islam seperti yang tertuang dalam bukunya Prologomena To The Metaphysic of Islam (An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam). Tapi keterbatasan waktu ternyata tidak bisa meng-cover seluruh isi buku itu, akhirnya mahasiswa disuruh membaca buku itu sendiri. Karena memang di bab-bab akhir buku itu semakin detail dan sulit seperti misalnya intuition of existence, On Quddity and Essence dan The Degree of Existence,” lanjutnya
Menurutnya, mata kuliah Prof Al-Attas sangat mencerahkan, khususnya Ketika menyinggung masalah worldview. Karena Gus Hamid begitu sangat tertarik dengan yang disampaikan oleh Prof Attas, dan itu dianggap baru, sampai-sampai ia tidak sampai sempat bertanya.
Hal ini termasuk ketika Prof Attas berbicara di Sturday Night Lecture. Yaitu tradisi ISTAC dimana Prof. Attas menyampaikan kuliah pemikiran dan peradaban sembari menjawab isu-isu kontemporer. Hal itu juga banyak hal yang sangat penting yang tidak bisa dilewatkannya.
Dalam forum Saturday Night Lecture ini para professor biasa ikut serta, bahkan tidak jarang ada duta besar yang ikut. Di situ tampak sekali otoritas beliau dalam bidang pemikiran Islam, kata Gus Hamid.
ISTAC, Surganya Ilmu
Selang setahun lebih, Gus Hamid diminta Prof. Wan untuk menulis di jurnal ISTAC tentang perbedaan antara kuliah di ISTAC dan di Brimingham. Di situlah ia menggambarkan bahwa ketika pertama kali memasuki kampus ISTAC, ia melihat bangunan yang klasik.
Bentuk jendela, lengkung-lengkung koredor, tiang-tiangnya serta hiasan tamannya yang berupa pohon, rerumputan serta air mancur dan lain sebagainya menggambarkan bangunan Islam masa lalu di Cordova.
Dari gambaran fisik yang klasik itu Gus Hamid membayangkan bahwa yang menjadi kajian ISTAC adalah pemikiran-pemikiran klasik tapi dalam bangunan modern. Ternyata apa yang dibayangkan itu adalah sangat sesuai.

Ia mengenal sosok Prof Al-Attas sebagai intelektual yang perfeksionis dan detail. Ini terbukti dari buku yang beliau tulis dan bangunan kampus yang beliau desain sendiri.
Dari teralis jendela, bentuk keramik segi delapan sebagai simbol sains, pot air di dalam koredor, air mancur yang menggambarkan kehidupan, rumput yang khusus, dengan kursi taman yang enak untuk ngopi dan diskusi dengan para professor, semua itu di desain oleh Prof. Attas sendiri.
“Tidak ada di tempat lain. Suasanya tenang dan damai, seakan di sana sini orang hanya bicara ilmu. Seakan Prof Al-Attas menerapkan Islam dalam kampus dengan bentuk bangunan yang luar biasa.”
Memang, Prof Al-Attas diberi kebebasan seluas-luasnya oleh PM Datuk Anwar Ibrahim untuk membuat instititut terbaik. Diakui atau tidak, akhirnya ISTAC menjadi lembaga yang sangat berkualitas.
Dari sisi tenaga pengajar, di sini dosen-dosennya tidak memiliki perkerjaan lain atau “nyambi”. Semua fokus mengajar, melakukan penelitian atau menulis dan selalu berada di tempat untuk melayani mahasiswa.
Dosen-dosen yang di rekrut Prof.Attas berasal dari universitas-universitas yang terkenal di dunia. Dari Chicago, Frankfurt Jerman, Turki, Sudan, Canada, Belanda dll. Bahasa pengantarnya adalah Inggris. Para mahasiswanya pun juga berasal dari berbagai negara. Benar-benar Internasional, tukasnya.
Yang lebih menarik lagi adalah perpustakaan ISTAC. Perpustakaan ini memiliki koleksi khusus mengenai pemikiran dan peradaban.
Selain buku, perpustakaan ISTAC mampu mengkoleksi jurnal-jurnal yang terbit tahun 1800-an. Bahkan karena banyaknya koleksi jurnal itu kemudian diletakkan di ruangan tersendiri dan diberi katalog khsusus. “Yang saya dengar Prof. Attas mencari sendiri koleksi itu ke negara-negara Eropa.”
Konon ketika Prof. Azyumardi Azra datang ke perpustakaan ISTAC, ia berkata, “ISTAC ini Surganya ilmuwan. Jadi kalau orang ke sini, pasti akan menikmati semua buku-buku itu,” kata Gus Hamid.
ISTAC didesain oleh Prof. Attas agar bersuasana kondusif untuk pencari ilmu sejati. Situasi didesain agar mahasiswa dapat bebas terbuka berdiskusi dengan dosen kapan saja dan dimana saja.
“Suasana keakraban dan keilmuan tercermin di situ. Ini tidak saya temukan ketika saya di Birmingham,” kata Gus Hamid.
Dalam kegiatan perkuliahan sehari-hari, waktu istirahat atau waktu kosong tidak ada kuliah, semua tetap bernuansa ilmu. “Kami biasa duduk-duduk di bawah pohon untuk sharing ilmu dengan dosen atau mahasiswa lain. Seringkali setiap akhir semester beberapa dosen mata kuliah tertentu ada yang mengajak mahasiswa makan-makan di restoran, sekedar untuk menjalin keakraban. Suasana yang sungguh indah dan sangat merindukan.” (Bersambung)>>> Memantau Pemikiran Liberal di Indonesia