Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Haji Itu Tentang Ketaatan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Agustus 2017 22:30 10:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Agustus 2017 22:30
Bagikan
Husein, kepala suku Moa di pedalaman Sorong, Papua Barat.
Bagikan

HUSEIN Sangadji Baharuddin, kepala suku Moa, salah satu suku di pedalaman Sorong, Papua Barat, sudah terlihat letih. Jalannya sudah tidak tegap lagi. Padahal, tawaf yang ia lakukan baru 4 keliling. Masih ada 3 keliling lagi.

Ketika masih muda, Husein biasa berjalan kaki. “Dulu saya sering naik gunung,” ceritanya kepada penulis. Tapi itu dulu. Sekarang, Husein tak muda lagi. Ia sudah berusia 64 tahun. Kegagahannya sudah banyak berkurang.

Husein terus melangkah mengelilingi Ka’bah. Mulutnya hanya menyebut dua kata, “Allahu Akbar.” Ia tak bertanya mengapa harus mengelilingi kotak hitam tersebut. Ia hanya diperintah berjalan, maka ia berjalan.

Sebenarnya, Husein bisa saja berputar di dekat Ka’bah. Kerumunan orang-orang yang berputar searah jarum jam di sekitar Ka’bah masih agak longgar. Tapi ia diperintah oleh pimpinan rombongan untuk tawaf di lantai atas. Sebab, di dalam rombongan itu, ada jamaah yang mengenakan kursi roda. Jadi, tak bisa tawaf di dekat Ka’bah.

Husein menurut, meskipun jarak putaran yang harus dilaluinya menjadi dua kali lipat, sementara langkah Husein sudah mulai oleng.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Saat melewati Hajar Aswad, tangan Husein terangkat ke arah Ka’bah. Ia mengikuti gerakan jamaah yang lainnya. Mulutnya masih melafazkan dua kata, “Allahu akbar”. Ia juga tak bertanya mengapa harus melakukan gerakan seperi itu.

Ka’bah terlihat jelas di sebelah kiri laki-laki berperawakan kurus dan berkulit gelap tersebut. Usai berputar tujuh putaran, Husein disuruh berhenti, lalu bergeser ke bukit Safa. Husein menurut!

Baca juga: Rindu Kainama kepada Baitullah

Dari bukit Shafa, Husen kembali berjalan ke arah bukit Marwah. “Ayo, Pak, kita lari-lari,” kata penulis kepada Husein manakala memasuki wilayah lampu hijau. Lampu neon hijau yang panjangnya kira-kira sepertiga jarak antara Bukit Shafa ke Marwah memang digunakan sebagai pembatas wilayah Bathnul Wadi. Di wilayah ini jamaah dianjurkan untuk lari-lari kecil.

Husein lagi-lagi menurut. Ia berlari-lari kecil meskipun kakinya sudah pegal. Ia tak mempersoalkan mengapa harus berlari dan tidak berjalan saja. Ia juga tak mempermasalahkan mengapa harus 7 kali bolak-balik dan bukan satu kali saja.

Lalu terakhir, Husen harus merelakan rambutnya yang hitam dan kriting itu dipotong sedikit. Sang kepala suku ini lagi-lagi taat tanpa membantah.

Husein sesungguhnya bukan taat kepada pimpinan rombongan, apalagi kepada penulis. Bukan! Husein taat kepada Allah. Sebab, kata Farid Ahmad Okbah, Ketua Yayasan Al-Islam Bekasi, haji itu banyak berbicara tentang ketaatan.

“Mengapa kita rela menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk pergi haji? Jawabnya karena kita taat kepada Allah,” jelas Farid saat berbincang-bincang dengan penulis di Dar Abu Yasir, Khalfa Tasykilat, Kamis siang (24/08/2017), menjelang keberangkatan dari Madinah ke Makkah, Arab Saudi.

Pada kesempatan lain, menjelang keberangkatan ke Jeddah, Senin (21/08/2017), Farid juga mengatakan bahwa ibadah haji sesungguhnya adalah upaya mencocokkan kehendak kita dengan kehendak Allah Subhanahu Wata’ala.

Baca juga: Kisah Hijrah untuk Ibrahim

Jika kita perhatikan memang hampir semua kehendak Allah Subhanahu Wata’ala dalam rukun, wajib, dan sunnah haji berlawanan dengan logika manusia. Betapa tidak, manusia disuruh hanya mengenakan dua lembar kain putih selama tiga hari pelaksanaan haji, itu pun tak boleh ada jahitan. Untuk apa?

Dalam keadaan seperti itu, manusia disuruh menginap di Mina, Arafah, dan Muzdalifah, padang pasir yang panas. Untuk apa?

Selanjutnya manusia disuruh melempar tiga jumrah, tawaf mengelilingi Ka’bah, berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali, menggunting rambut hingga habis, untuk apa? Semua ini berada di luar logika manusia.

Namun, dalam ibadah haji, logika ini harus diletakkan di bawah kehendak Allah Subhanahu Wata’ala. Inilah ubudiyah. Inilah penghambaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sungguh naif jika manusia tetap menyombongkan diri sepulang mereka menunaikan haji. Labaik Allahumma labaik.* Mahladi/hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arab saudiBaitullahesensi hajihajiHaji 1438 H/2017hijrahhikmah hajiHUSEIN Sangadji Baharuddinibadahibadah hajiInfo Haji & Umrahjamaah hajika'bahKainamakepala suku Moaketaatanmakkahorang Papua naik hajiPapua BaratPerjalanan Hajirukun hajisejarah Ka'bahspirit hajisuku di pedalaman Sorongsyariat Allahwarga Papua
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Biaya Tata Rias Wajah Presiden Prancis 3 Bulan: Rp413 Juta
Tulisan selanjutnya Tahun Ini IIQ Luluskan 206 Wisudawan, Semua Hafal al-Qur’an

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?