BERBEDA dari biasanya, tugas penanggulangan kebencanaan kali ini ditemani isteri tercinta. Medan yang ekstrem, menembus hutan, menanjak dan menukik perbukitan, tak menyurutkan tekad sang istri, disaat dirinya “berbadan dua”.
Ada rasa tidak tega namun aku tak kuasa melarangnya, karena mungkin “gawan bayi” yang dikandungnya.
Kali ini kami yang tergabung di relawan Hidayatullah Peduli dari beberapa unsur; SAR Hidayatullah, BMH, dan IMS membawa misi kemanusiaan membantu sesama yang tertimpa musibah banjir bandang dan longsor di perbukitan Hargosari, Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah.
Jalan yang terputus memaksa kami harus menyusuri setapak yang licin dan curam, menghantarkan bantuan untuk mereka yang membutuhkan.
Aku melihat istri tercinta menyeka keringat di keningnya, terlihat begitu letih namun tak terucap keluhan, penuh yakin tekad yang tak teradang. Momentum pada pekan awal di bulan Desember 2017 itu memutar memoriku.
Terlintas kenangan 11 tahun yang silam, di saat bumi Mataram terguncang, ribuan jiwa melayang dan bangunan-bangunan menjulang rontok berguguran. Jogja-Jateng berduka, langit pekat menyelimuti, jeritan tangis dan rintihan jiwa yang terluka memenuhi suasana.
Sekitar 1 tahun saya bertugas di daerah terdampak gempa di Wedi-Gantiwarno, Klaten, Jateng. Berjibaku membantu masyarakat korban bencana dan menjaga umat Islam dari serbuan misionaris yang begitu gencar.
Namun, tantangan yang terberat selain itu semua adalah menjaga hati untuk selalu meluruskan niat dari ‘pesona’ fitnah virus merah jambu.
Bagaimana tidak, dari 20-an relawan yang tergabung dalam tim kami, hanya 4 orang ikhwan yang darah mudanya masih merah mendidih. Bisa dibilang kami adalah primadona di antara “para bidadari”, hehehe….
Tawaran Mengagetkan
Di suatu sore tiba-tiba, handphone (HP)-ku berdering. Aku lihat di layar tertera nama Ustadz Suparmana memanggil. Beliau adalah Mudir Pesantren Hidayatullah Solo yang mengirim kami bertugas di sini.
“Assalamualaikum….” dari ujung telepon beliau menyapa.
“Waalaikum salam…” jawabku.
“Bagaimana kabarnya, Hamim? Dan kabar relawan lainnya?” sapa beliau lagi.
“Alhamdulillah kami semua baik, Ustadz ” jawabku mengabarkan.
“Program kegiatan berjalan lancar? Ada kendala?” tanya Ustadz.
“Alhamdulillah program berjalan lancar, kalaupun ada masalah insyaallah saat ini masih bisa kami tangani. Distribusi bantuan dari donatur masih berjalan, insyaallah aman, Ustadz,” jawabku menjelaskan dengan semangat.
“Alhamdulillah kalau begitu, tetap jaga keikhlasan dan semangat, jaga kondisi juga! Jangan terlalu terforsir, istirahat yang cukup,” pesan beliau menegaskan.
“Siap, insyaallah, Ustadz!” Ucapku sigap.
“Hamim…?” Panggil beliau dangan nada mendalam.
“Na’am (iya), Ustadz!” jawabku singkat penuh harap.
“Kamu sudah siap menikah?” Jreng…jreng… jreng… tanya beliau singkat dengan suara yang tegas. Hampir-hampir HP yang kupegang terlepas dari genggaman.
” E….e…. ” Tanganku bergetar.
“Saya manut saja, Ustadz, sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat, Red),” suaraku gugup penuh kepasrahan.
“Kalau kamu siap, besuk (besok) pagi balik ke Solo dulu, nanti saya jelaskan,” ucap beliau dengan suara tenang.
“Na’am, Ustadz, insyaallah besuk pagi saya ke Solo,” jawabku dengan pikiran yang melayang.
“Baik kalau begitu, sampai ketemu di Solo, salam buat teman-teman lainnya, Assalamualaikum,” ucap beliau mengakhiri percakapan.
“Siap, Ustadz, waalaikum salam,” kujawab salam dengan tangan masih bergetar.
Pagi-pagi sekali kupacu roda dua buntut pinjaman donatur. Dalam perjalanan menuju Solo itu, ada perasaan tak karuan yang menyelimuti. Jantungku berdegup sekencang laju sepeda motor, yang tarikan maksimalnya 60 km/jam, meliuk menerobos kabut nan dingin.
Sesampainya di kampus Pesantren Hidayatullah Solo, kumantapkan langkah menghadap Mudir Pesantren. Tampak beliau dengan santai menyambutku dengan secangkir teh hangat terhidang, seakan sebagai obat peredam ketegangan.
” Diminum dulu, mumpung masih hangat!”
Ucap beliau membuka percakapan.
“Njih (iya), Ustadz!” tanpa banyak kata kuseruput sedikit teh hangat yang terhidang.
“Begini, Mim, saya ada calon, santriwati lulusan Pondok Al Mukmin Ngruki, santri saya dulu di sana,” terang beliau langsung tanpa basa-basi.
“Kalau kamu benar-benar siap nanti saya taarufkan,” jelas beliau lagi.
Degup jantung yang menggedor-gedor tak bisa kusembunyikan, bibirku bergetar….
“E… e… Bismillah, Ustadz, insyaallah saya siap, mohon bimbingannya,” rasa-rasanya seluruh tubuh lunglai karena grogi puncak tinggi.
“Alhamdulillah, kalau begitu siap-siap saja nanti malam kita berangkat ke Jogja untuk taaruf,” suara beliau tenang meyakinkan.
“Nanti malam, Ustadz???” Suaraku sedikit keras karena kaget.
“Ya malam ini, insyaallah!” jawab beliau singkat.
“Jogja… Jogjanya mana, Ustadz???” Selidikku penasaran.
“Saya belum tahu, nanti di-SMS-kan rute dari sana, ya kita cari alamatnya,” dengan santai beliau menjawab.
“Njih, Ustadz, saya manut,” pikiranku melayang penasaran.
Baca: Kisah Dua Mahasiswa Indonesia yang Menikah di Masjidil Haram
Mendadak Akad
Beberapa kali mobil yang kami tumpangi kesasar, setelah tanya sana sini akhirnya tiba di tempat tujuan yang dicari.
Beberapa orang sudah menunggu dan menyambut kami dengan senyum keakraban.
Alhamdulillah, proses taaruf berjalan lancar tanpa hambatan. Kami diminta menunggu jawaban beberapa hari untuk saling beristikharah memantapkan pilihan.
Selang beberapa hari menunggu tibalah pesan jawaban datang, mengabarkan “lampu hijau” lanjut ke proses khitbah atau lamaran.
Tepat 5 hari setelah taaruf yang lalu, proses lamaran akan dilangsungkan. Segala “ugo rampe” -oleh-oleh bawaan orang mau khitbah- sudah dipersiapkan oleh pengasuh pesantren dan rekan-rekan lainnya. Saya sendiri hanya diminta tenang tidak, usah risau dengan urusan persiapan lamaran.
Saya sangat terharu dengan kebersamaan dan semangat kekeluargaan pengasuh dan warga pesantren. Subhanallah!
Tibalah saatnya proses khitbah dilaksanakan. Tidak ada yang istimewa dari penampilanku saat itu. Baju yang kupakai adalah seragam kepengasuhan, masih baru berapa minggu dibagikan dan baju paling terbaru yang kupunya.
Namun sebelum berangkat, saya berpesan kepada pengasuh lainnya agar jangan memakai baju seragam yang sama pada acara khitbah itu agar tidak terlihat bahwa bajuku hanyalah baju seragam. Hehehe….
Dengan penuh keakraban, Alhamdulillah, lamaran yang kami sampaikan diterima tanpa catatan. Kemudian setelah berbasa-basi ringan, Ustadz Suparmana sebagai wakil dari keluarga saya menanyakan tentang jadwal hari akad nikah.
“Alhamdulillah… Terima kasih telah menerima lamaran kami untuk anak saya ini, selanjutnya pripun untuk jadwal hari akad nikahnya…? Monggo (silakan) kami manut saja, atau nanti menyusul infonya,” terang Ustadz Suparmana dengan senyuman.
“Alhamdulillah… Untuk jadwal hari akad nikahnya, bagaimana kalau dilangsungkan saja malam ini?” jawab sang calon mertua mengagetkan suasana.
Wow…! Saya yang dari tadi berusaha tenang tiba-tiba terperanjat kaget. Degup jantung yang sudah mulai bisa kuatasi kembali berdetak kencang, sekujur tubuhku terasa ringan melayang.
Ustadz Suparmana menoleh kepadaku dengan sorot mata tanda tanya. Sambil tersenyum beliau menanyakan;
“Bagaimana, Mas Hamim?”
“Bismillah…. Saya siap!” jawabku menegaskan tapi gugup tak bisa disembunyikan.
Lalu singkat cerita, akad nikah berlangsung malam itu juga.
“Bagaimana, sah…!?” ucap Ustadz Suparmana dengan suara keras menanyakan seusai ijab qabul.
“Sah…!!” riuh gemuruh suara saksi dan semua tamu undangan yang hadir di situ.
Subhanallah wal Hamdulillah Allahu Akbar!!!
Aku merasa seperti mimpi saja, semua terasa begitu mengalir. Malam itu statusku berubah menjadi seorang suami dari perempuan yang baru kukenal, menanggalkan status jomblo di usia 22 tahun.
Hari berikutnya kulalui hidup berdua dengan isteri tercinta. Kami melewati masa-masa pacaran termasuk di tempat tugas kebencanaan, tinggal di tenda pengungsian terasa seperti berkemah nan mengasyikkan.
Berlalu tahun demi tahun, istriku sudah terbiasa dengan irama kehidupan suaminya yang seorang relawan. Pergi tugas jauh meninggalkan keluarga berhari-hari bahkan berbulan-bulan.
Alhamdulillah, tak terasa 11 tahun berjalan kami dianugerahi 4 kader biologis yang menyejukkan pandangan, dan pada awal Desember 2017 istri sedang mengandung calon anak kelima kami.

Maha Besar Allah yang mengatur skenario kehidupan. Saya jadi tersenyum sendiri bila mengenang kisah masa-masa indah yang telah lalu. Terlalu indah untuk dikisahkan, sehingga tak cukup waktu menuliskan.
Bait lagu “…Tiada kisah paling indah… kisah kasih di sekolah…” lantunan Obbie Messakh masih kalah bila dibanding dengan “Tiada kisah paling sempurna… Kisah kasih di (lokasi) bencana…”, hehehe….
“Selamat dan sukses Musyawarah Besar IV SAR Nasional Hidayatullah di Bogor, Jawa Barat, 23-25 Desember 2017!”* Dikisahkan untuk hidayatullah.com oleh Ahmad Hamim, anggota SAR Hidayatullah
Baca: Kisah Tim SAR Hidayatullah Mencari Santri Terseret Ombak di Pantai Garut