Hidayatullah.com–Mukibat, seorang petani singkong
dari Jawa Tengah, pada tahun 1950-an, mencoba memanipulasi singkong agar ubinya
lebih banyak dari singkong biasa. Maklum, pada masa itu tak ada pohon singkong
yang mampu memproduksi ubi dalam ukuran besar.
Apa yang ada di benak
Mukibat sederhana saja. Tumbuhnya ubi pasti dipengaruhi oleh proses
fotosintesis. Sementara fotosintesis akan berlangsung sempurna jika daunnya
banyak. Jadi, perbanyak saja daunnya, pasti ubinya juga akan besar.
Pada masa itu ada dua jenis
singkong. Pertama, singkong ubi, yaitu singkong yang ditanam untuk diambil
ubinya, bukan daunnya (untuk sayur). Kedua, singkong karet, yaitu singkong yang
tidak menghasilkan ubi, namun daunnya sangat lebat.
Dua jenis singkong itu
disambung (stek) oleh Mukibat. Singkong ubi ditaruh di dalam tanah, sedang
singkong karet ditaruh di permukaan tanah. Hasilnya? Luar biasa. Dalam waktu
panen yang sama dengan singkong biasa, hasil ubinya empat sampai lima kali lipat dari
singkong biasa. Cara memanennya pun lebih sederhana. Bagian ubi digali, lalu
potong, tanpa merusak pohon. Pohonnya tetap bisa berdiri dan masih mampu
menghasilkan ubi yang baru.
“Ulah” Mukibat sesungguhnya
adalah salah satu bentuk rekayasa biologi. Sekaligus membuktikan bahwa
teknologi rekayasa ini sudah ada sejak zaman dahulu meskipun seringkali tak
disadari oleh pelakunya.
Bahkan ternyata Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyaksikan rekayasa biologi.
Diceritakan bahwa ada seorang Badui pernah membantu penyerbukan pohon kurma.
Dan Rasulullah kala itu tidak melarangnya.
Dalam istilah Biologi,
rekayasa seperti ini dinamakan nonselular. Nyaris tanpa risiko. Hanya saja,
rekayasa biologi yang dilakukan pada masa itu –juga dilakukan oleh Mukibat–
tidak menyentuh bagian terkecil dari kehidupan mahluk hidup, yaitu gen. Belum
menjadi rekayasa genetika, yang kini marak dilakukan para ilmuwan.
Pada tahun 1944, teknologi
rekayasa telah melampaui batas terkecil dari mahluk hidup. Adalah ilmuwan
Eropa, Avery, McLeod, dan MacCarthy yang pertama kali melakukannya. Namun
rekayasa genetik yang mereka lakukan tidak sampai pada transfer selular. Mereka
hanya mengutak-atik susunan kimiawi molekul DNA (Deoxyribo Nucleid Acid).
Apa yang mereka lakukan
boleh jadi adalah awal dimulainya era perubahan peradaban. Era dimana mahluk
hidup bisa dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan apa yang dikehendaki
perekayasanya.
Tahun 1971, teknologi
rekayasa genetika maju selangkah lagi. Para
ahli berhasil memasukkan gen dari luar ke dalam sel inang. Gen inilah yang
kemudian mengubah karakter mahluk hidup yang disisipinya, menjadi baru.
Hasilnya berupa produk transgenik unggul. Sebutlah misalnya, kapas dan jagung
transgenik yang sekarang sudah diujicobakan di Sulawesi Selatan.
Dari sinilah kekhawatiran
mulai timbul. Mengutip apa yang diungkap pakar lingkungan dari Universitas
Padjajaran Bandung, Prof Otto Soemarwoto, tak ada teknologi yang zero risk atau
100 persen aman.
Banyak bukti yang telah
bicara. Antara lain disaksikan oleh seorang petani kanola (nama tumbuhan untuk
bahan minyak goreng) di Kanada, Percy Schmeiser, pada tahun 2002. Ia kaget
karena tanaman kanola di kebunnya tetap segar meskipun disemprot herbisida. Ia
menduga, tanaman miliknya telah tercemar kanola transgenik milik tetangganya.
Kejadian semacam ini jelas akan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Peristiwa serupa terjadi di
Amerika Serikat. Seperti diberitakan New Scientist, pada tahun 2000, benih
kapas transgenik ditemukan “menyeberang” ke ladang kedelai transgenik. Di
Inggris, seperti dilansir BBC.News.Online, tepung jagung transgenik T-25 GM (genetically
modified) yang telah lulus uji laboratorium ternyata menewaskan dua ekor ayam
yang mengonsumsinya.
Namun risiko-risiko semacam
itu tak menyurutkan para ilmuwan untuk terus bereksperimen. Bahkan semakin
“menggila”. Betapa tidak, jika sebelumnya objek penelitian cuma sebatas
tumbuhan, berikutnya mereka melirik hewan. Masih ingat domba Dolly? Domba ini
dilahirkan kira-kira tujuh tahun lalu. Ia adalah produk dari rekayasa genetik
yang biasa disebut kloning. Bahkan ia juga memiliki keturunan yang diberi nama
Bonnie.
Keberhasilan mengkloning
hewan menumbuhkan ambisi untuk coba-coba mengkloning manusia. Niat ini secara
resmi pertama kali diungkap oleh Prof Severino Antinori, seorang dokter
kontroversial asal Italia pada Maret 2001. Metoda yang dilakukan mirip dengan
apa yang dilakukan pada domba Dolly.
Sel diambil dari calon
bapak dan dibuat tidak aktif dengan cara menempatkannya ke dalam nutrisi dengan
konsentrasi sangat rendah. Lalu diambil pula sel telur mandul dari calon ibu
yang bagian intinya dibuang. Karena inti dibuang otomatis DNA-nya juga
terbuang. Kemudian dilakukanlah pembuahan pada tabung reaksi dalam kondisi
khusus, terjadi pembelahan, hingga calon embrio terbentuk. Baru kemudian
dicangkokkan ke rahim seorang ibu. Bila semua berjalan lancar, bayi yang akan
dilahirkan sama persis dengan karakteristik sang ayah.
Berhasilkah? Belum jelas.
Yang pasti, pada 2002 lalu, sebuah perusahaan yang didirikan sekte keagamaan
Raelians, Clonaid, telah mengklaim berhasil membuat bayi manusia hasil kloning.
Namanya Eve. Seperti apa bayi ini, mereka tak mau mempublikasikannya. Manusia
betul-betul melampaui batas!* [Mahladi, dari berbagai sumber/Majalah
Hidayatullah/hidayatullah.com]