Sambungan dari kisah keempat
PERJALANAN kali ini mengantar kami Swiss. Setelah selama 7 hari tur, saya berpuasa dari shalat di masjid, akhirnya bertemu juga dengan Islamic Center Zurich, Kota Zurich, yang letaknya tak jauh dari hotel tempat kami menginap.
Perjalanan riset lapangan ini dimulai dari Indonesia pada Rabu, 16 Agustus 2017, diagendakan hingga penghujung bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini.
Di Zurich, berdasarkan arahan dari petunjuk jalan berbasis online, saya menyusuri jalan yang diperkirakan hanya sejauh 380 meter untuk menuju Islamic Center itu.
Udara yang segar di pagi hari, dan waktu di jam tangan masih menujukkan pukul 07.25 waktu setempat, membuat suasana cukup kondusif untuk melakukan pencarian lokasi Islamic Center Zurich.
Alhamdulillah, 7 menit yang terpakai hingga penulis berdiri di hadapan gedung yang saya tuju.
Namun, waktu yang terlalu pagi membuat penulis hanya mendapati pintu kantor yang masih terkunci.
Baca juga: Membelah Benua Biru, Menuju “The Dome of The World”
Mencoba bertanya pada beberapa orang yang penulis temui di sekitar tempat tersebut, tidak membuahkan hasil yang menggembirakan.
Soalnya mereka tidak dapat berbahasa Inggris. Mungkin mereka ingin berkata bahwa mereka juga tak tahu perihal Islamic Center Zurich.
“Never mind, the show must go on.”
Bagaimana pun juga, ya sudahlah….!
Bagaikan oase di tengah gurun pasir, hati saya sudah sangat terhibur dengan keberadaan Islamic Center Zurich ini, yang saya yakin bukan perkara mudah untuk mendirikannya.
Memang, berada di tempat asing dengan populasi Muslim yang minim tentu bukan perkara mudah, terlebih urusan ibadah.
Baca juga: Di Kota Roma, Saudara dari Bangladesh itu ‘Meminjamkan’ Minimarketnya…
Hal ini telah kami rasakan pula sebelumnya saat kunjungan pertama di Kota Roma, Italia. Mencoba mencari masjid untuk melaksanakan shalat ashar, ternyata memerlukan ‘seni mencari’ yang cukup berliku. Apatah lagi Roma bukan daerah yang akrab bagi kami.
Hingga akhirnya kami mau tak mau shalat di sebuah minimarket milik warga Bangladesh. Orangnya ramah. Meminjamkan ruangannya untuk kami beribadah. Alhamdulillah!* Bersambung/Diceritakan untuk hidayatullah.com oleh Naspi Arsyad, peneliti LSIPP, salah satu penulis buku “The Dome of The World”