Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Andalusia, Permata Dunia Makin Meredup

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Desember 2011 15:04 3:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Desember 2011 15:04
Bagikan
Bagikan

PARA penulis Barat mengibaratkan Andalusia tempo dulu bak permata dunia. Dipotret dari sisi manapun kota ini menawarkan daya tarik. Tidak saja pesona dalam bidang infrastruktur, tapi juga nuansa keilmuan. Wajar, jika kota ini sempat menjadi pusat peradaban Islam.

Sebelum kedatangan Abdurrahman ad-Dakhil, Andalusia tidaklah istimewa. Ia tak jauh beda dengan wilayah lain di Eropa. Tak ada kemajuan berarti jika dibandingkan dengan Baghdad yang ketika itu menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiah. Semua itu, karena situasi politik di Andalusia waktu itu belum stabil.

Cordoba merupakan salah satu wilayah di Andalusia yang paling banyak menyimpan kenangan. Setiap kita bernostalgia dengan kejayaan Andalusia, pikiran kita pasti akan tertuju dengan kota kecil yang terletak di sebelah selatan Spanyol ini. Di sanalah Islam sempat membangun peradabannya.

Pada abad pertengahan nyaris tidak ada kota di Eropa yang mampu menyaingi kemajuan Cordoba. Letaknya yang tak jauh dari pantai menjadi kelebihannya. Tepat sekali jika Thoriq bin Ziyad—Pembuka pertama kali Andalusia—memilih kota ini sebagai ibu kota negara.

Pesona Cordoba

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Cordoba mulai berbenah saat ‘Abdurrahman ad-Dakhil memegang tampuk kekuasaan di Andalusia. Banyak proyek besar yang digulirkannya. Dari memulihkan stabilitas politik hingga membangun beberapa fasilitas publik. Dengan dukungan dana yang memadai mega proyek sang Khalifah bisa berjalan dengan lancar.

Alhasil, dalam waktu singkat Cordoba menjelma menjadi kota yang sangat maju dan indah. Di Eropa tak satu pun kota yang bisa menandingi kemajuannya. Jalan-jalan di Cordoba kala itu sudah sangat modern. Semua ruas jalan telah ditaburi batu-batu kecil yang tersusun dengan sangat rapi. Sehingga, saat hujan mengguyur, kota ini jauh dari genangan air dan lumpur.

Pada saat itu juga, jalan-jalan di kota ini telah dilengkapi dengan penerang. Keberadaan penerang itu secara otomatis juga menambah keindahan kota ini pada malam hari. Tak Tak aneh jika banyak orang yang menyejajarkan kemajuan dan keindahannya dengan Baghdad .

Keadaan itu jauh berbeda dengan kota lainnya di Eropa, seperti London dan Paris. Di kedua kota ini, masih menjadi langganan lumpur setiap kali diguyur hujan. Dan pada malam hari kota ini nyaris seperti kota mati karena tidak dilengkapi dengan penerangan.

Sektor pertanian juga menjadi perhatian utama para khalifah. Para petani diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan tanaman-tanaman impor yang masih langka di Andalusia. Secara tidak langsung, kondisi ini turut meningkatkan kesejehteraan warga. Terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai petani.

Di Cordoba ketika itu terdapat 130 ribu rumah, tiga ribu masjid, dan tiga ratus WC. Jumlah pendudukanya sendiri sekitar 500 ribu jiwa.

Masjid Cordoba

Kelebihan lain kota Cordoba adalah bangunannya nan indah. Yang paling fenomenal tentunya adalah Masjid Cordoba . Ia terbilang masjid terindah dalam dunia Islam hingga kini. Masjid ini mulai dibangun pada zaman ‘Abdurrahman ad-Dakhil tepatnya tahun 170 hijriyah. Kemudian dilanjutkan oleh putranya Hisyam bin ‘Abdurrahman.

Salah satu kelebihan dari masjid ini adalah jumlah tiangnya yang sangat banyak. Terhintung ada 1417 tiang. Lantainya terbuat dari marmer. Di halamannya terdapat menara yang menjulang. Puncaknya dihiasi dengan hiasan yang terbuat dari emas dan perak. Tapi sayang masjid indah itu kini telah dibangun di dalamnya gereja.

Az-Zahro’

Jumlah penduduk Cordoba semakin bertambah. Hal ini tak luput dari perhatian khalifah. Khalifah menyadari sepenuhnya, jika jumlah penduduk tidak seimbang dengan luas wilayahnya akan menimbulkan banyak masalah. Ia pun akhirnya berusaha membangun kota baru. Tujuannya, agar Cordoba tidak sesak sehingga tetap nyaman untuk dihuni.

Pilihan khalifah jatuh pada Az-zahra. Wilayah ini terletak lima belas kilometer sebelah barat Cordoba. Pembangunan kota ini dirancang oleh arsitektur yang paling handal. Mereka didatangkan dari dalam maupun luar Andalusia . Tercatat kurang lebih 10 ribu orang yang dipekerjakan pada proyek ini. Marmernya diimpor dari Tunisia. Di dalamnya dibangun pula istana raja. Tepat di samping istana itu dibuat kebun binatang.

Sayang keindahan kota ini tak bertahan lama. Pasalnya, kondisi politik yang tidak stabil, perawatan kota ini terbengkalai. Hinggga pada akhirnya keindahan kota ini sirna.

Gudang ilmu dan Ulama

Di bidang ilmu pengetahuan, Cordoba menjadi kiblat baru para penuntut ilmu. Di samping ilmu syari’at, mereka yang haus ilmu bisa menimba ilmu-ilmu lain. Bahasa Arab termasuk salah satu yang paling banyak peminatnya.

Masyarakat Spanyol -terutama dari kalangan pemudanya- banyak yang tertarik mempelajari bahasa Arab dan tsaqafah islamiah. Bukan saja yang beragama Islam. Bahkan banyak di antara mereka yang masih beragama Nasrani juga sangat antusias mempelajari Islam dan bahasa Arab. Salah satu penyebabnya, karena hampir semua buku-buku ilmu pengetahuan pada saat itu menggunakan bahasa Arab. Bahasa pengantar di semua sekolah juga menggunakan bahasa Arab. Termasuk di sekolah-sekolah Kristen dan Yahudi.

Para penuntut ilmu tak hanya berasal dari Andalusia. Negara-negara di Eropa bahkan mengirimkan utusannya untuk belajar di Andalusia . Italia, Inggris dan Prancis tercatat sebagai negara yang rutin mengirim utusan. Mereka tidak sekedar belajar, tapi juga menerjemahkan beberapa buku berbahasa Arab ke dalam bahasa daerahnya.

Semangat para pemuda Kristen dan Yahudi mempelajari bahasa Arab dan tsaqafah islamiah sempat membuat para pendeta kegerahan. Mereka berusaha menghalangi dengan cara-cara yang tidak elegan, seperti menghina al-Qur’an dan pribadi Rasulullah.

Perhatian setiap khalifah terhadap ilmu menjadi motivasi tersendiri bagi para penuntut ilmu. Sang khalifah semaksimal mungkin menyiapkan fasilitas yang memadai. Mereka mendirikan sekolah dan perpustakaan. Di Cordoba saja, khalifah al-Hakam membangun 27 sekolah. Pada zaman Abdurrahman an-Nashir dibangun Universitas Cordoba. Di sana bisa dipelajari ilmu tentang syariah, kedokteran, astronomi, dan lainnya.

Untuk menunjang proses belajar, penguasa waktu itu juga membangun beberapa perpustakaan. Perpustakaan di Cordoba termasuk yang terbesar. Di dalamnya terdapat enam ratus ribu buku. Di wilayah lain masih ada juga sekitar sepuluh perpustakaan.

Kerja keras para Khalifah tidak sia-sia. Banyak ulama dan pakar—hampir pada semua disiplin ilmu—yang lahir. Di bidang Hadits dan Fiqih ada Yahya bin Yahya al-Laits, Isa bin Dinar, dan Abu Muhammad Ibnu Hazm. Di bidang arsitektur ada Abbas bin Farnas. Di bidang adab dan sastra ada ibnu Abdi Rabbih. Serta,di bidang kedokteran ada az-Zahrawi dan Ibnu Zhahir.

Keseriusan membangun ilmu itu dilakukan disebabkan karena para khalifah ketika itu juga memiliki latar belakang keilmuan yag sangat kental. Seperti Hakam bion Hisyam yang ahli dalam bidang sya’ir, serta Hisyam bin ‘Abdurrahman ad-Dakhil yang gemar belajar Fiqih dan Hadits.

Kemajuan yang sangat pesat ini semakin meroketkan nama Andalusia. Tak heran jika para penulis Barat mengumpamakannya dengan Permata dunia. Pesona dan kilauannya ketika itu mampu menerangi Eropa yang saat itu masih bergelut dalam kubangan kebodohan.

Andalusia adalah salah satu potret Negara maju yang sempurna. Ia tidak hanya unggul dalam hal infrastruktur. Tapi juga indah dari segi moral dan akhlaq masyarakatnya. Ini yang membuat Andalusia ketika itu berkilau luar dalam. Berbeda dengan kemajuan yang ada sekarang. Hanya maju dari luarnya tapi kropos di dalam.

Sayang, permata itu kini tak lagi berkilau. Sejak keruntuhannya pada tahun 422 H, kilauannya semakin hari semakin meredup.*/sh

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sentimen Anti Muslim Meningkat di AS
Tulisan selanjutnya Tak Ada Pendidikan Karakter Tanpa Budaya Karakter

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?