Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Napak Tilas Pejuangan Jihad Pangeran Diponegoro [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Mei 2015 09:32 9:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Mei 2015 09:32
Bagikan
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Kemben dan Baju Takwa

Napak Tilas perjalanan jihad Pangeran Diponegoro menguak kisah hubungan Pangeran Diponegoro, Keraton Jogjakarta dan Islam.

Salah satunya adalah kisa baju kemben (busana penutup dada wanita) yang banyak diklaim sebagai baju resmi abdi dalem Keraton Jogjakarta.

Pada masa itu raja-raja Bali terbiasa memberikan ‘hadiah wanita’ kepada raja-raja Jawa, berupa para budak-budak. Karena para wanita  Bali kala itu tak menggunakan penutup dada, maka di Jogja mereka diberi penutup dada berupa kemben seperti sekarang.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Jadi, tradisi pakaian kemben merupakan tradisi kaum budak. Kalau pakaian wanita Keraton Jogjakarta yang asli sebagaimana ibu-ibu muslimat NU, auratnya ditutup, “ ujar Salim A Fillah.

Selain kemben, Napak Tilas ini juga menguak kisah ‘Baju Takwa’, baju resmi  Keraton Yogjakarta yang bermakna filosofis Islam dan kaya dengan nilai-nilai islami.

Kala itu, ketika bertakhta di Mataram 1613-1645, Sultan Agung memilih pakaian kerajaan. Dalam Perjanjian Palihan Nagari 1755, Sultan Hamengkubuwana I menetapkan ‘busana takwa’ sebagai busana resmi Keraton Yogyakarta dengan memiliki beberapa unsur.

Pertama, Keris yang dikenakan di belakang.

Penempatan keris di belakang dalam bahasa Jawa disebut Curiga (waspada) atau Dhuwung (sadar/hati-hati). Inilah makna takwa mengadaptasi obrolan antara Umar Bin Khatab dan Ubay Ibn Ka’ab.

Kedua, kain bawahan dikenakan sebagai bebet. Maknanya, perut dan bawah perut adalah markas syahwat yang harus dibebeti, dibebat (dikendalikan agar tak liar). Kain ini diwiru bagian ujungnya, yakni agar terjaga sifat wara’/wira’i.

Ini diambil dari Al-Quran, “Adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya & mencegah diri dari hawa nafsu, surgalah tempat tinggalnya.” (QS: An Naazi’aat 40-41).

Ketiga, pasangan ikat pinggangnya disebut Kamus & Timang. Filosofinta, takwa harus diikat dengan ilmu yang wajib dituntut dari timangan, buaian hingga liang lahat.

Keempat, pakaian atasan disebut surjan. Filosofinya, ketakwaan harus bersinar memancar sebagai “siraajan muniiraa” (mencahayai siang dan malam, memandu diri dan orang di sekitarnya). Sedang motif khasnya adalah lurik (garis-garis selang-seling berwarna) yang menuntut untuk lurus dalam hati, lurus dalam kata dan lurus dalam tindakan.

Kelima, blangkon.  Dimana dalam gagrak Yogyakarta, ada mondholan (benjolan, red) di belakang. Mondholan berasal dari Bahasa Arab ‘minzhalah’, mizalatun (payung). Artinya,  penggunanya harus menjadi pengayom bagi masyarakat.

Inilah di antara makna takwa dalam busana Kasultanan Yogyakarta sesuai keputusan Hamangkubuwono ke I.

Belajar Agama Islam

Sebagaimana diketahui, Perang Diponegoro dikenal merupakan perang besar dan heroik. Melibatkan hampir puluhan kota dan desa di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengan dan Jawa Timur. Sejak menyatakan perang terbuka dengan penjajah, Pangeran Diponegoro tidak lagi tinggal di Tegalrejo tapi di sebuah gua, bernama Gua Selarong.

Kami berkesempatan mengunjungi Gua Selarong. Gua ini ada dua, satu gua tempat Pangeran Diponegoro dan kedua adalah Gua Putri, khusus para putri-putri dan keluarga Pangeran Diponegoro.

SalimAFillah_NapakTilas2

Goa tersebut tidak terlalu besar dan dalam. Hanya cukup untuk berteduh saja. Di gua terdapat tempat istirahat Diponegoro. Di depannya ada batu berbentuk persegi yang dulu dijadikan tempat duduk Diponegoro dalam mengatur pasukannya. Saya sempat memegang batu dan duduk di tempat istirahat di gua tersebut. Masya Allah, terasa nuansa perjuangannya.

Di sebelah Barat gua terdapat air terjun (curug) yang digunakan untuk mandi dan wudhu para tentara Pangeran Diponegoro. Curug (air terjun) awalnya berasal dari satu sungai, lalu dialirkan menjadi dua air terjun yang lokasinya berbeda agar tempat wudhu pria dan wanita terpisah.

Lokasi goa cukup strategis sebagai markas pasukan. Dikelilingi bukit-bukit dan untuk mencapai ke gua, harus menaiki tangga-tangga. Kabarnya, gua ini beberapa kali diserang Belanda, namun tidak pernah berhasil. Belanda hanya mampu sampai di bawah bukit. Karena banyak pasukan Belanda tewas oleh Laskar Diponegoro.

Setelah perang usai, para tentara, kiai dan pengikut Pengeran Diponegoro menyebar ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka tetap teguh memegang ajaran Islam.

Hari ini, tepat di bawah Gua Selarong, dipasang patung Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda. Patung, menunjukkan Pangeran Diponegoro menggunakan baju kebesaran jubah putih, khas ulama Timur Tengah.

Napak Tilas ini hanya mengungkap secuil kisah sebenarnya rahasia hubungan antara Pangeran Diponegoro, Keraton Jogjakarta dengan Islam,  yang hari ini justru banyak diputar-balikkan dan selalu dikaitkan dengan kelenik dan kesyirikan. Semoga dengan Napak Tilas ini, umat Islam bisa melanjutkan perjuangan jihad dan dakwah Pengeran Diponegoro.*/A Kholili Hasib

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Majelis Intelektual dan Ulama Muda IndonesiaMIUMISalim A FillahTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Amerika Serikat dan Iran Mulai Jajaki Kerja Sama Energi
Tulisan selanjutnya Pasca Blokir, Pelajar dan Mahasiswa Muslim Semakin Melirik Jurnalistik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?