Hidayatullah.com– Salah satu program Baitul Maal Hidayatullah (BMH) tahun ini adalah penyaluran hewan qurban ke masyarakat daerah pedalaman Halmahera dan mualaf Suku Togutil di daerah Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.
Di daerah ini belum ada listrik dan sinyal telepon. Transportasi utama pun harus menggunakan kapal kayu yang jadwalnya satu minggu hanya beberapa kali. Jalan darat belum bisa tembus, karena banyak gunung dan sungai yang belum ada jembatannya.
Ada empat titik pendistribusian hewan qurban di daerah ini, yaitu Desa Patlean, Desa Wasileo, Desa Dorosagu, dan SP (Siap Pemukiman) 1, tutur Nurhadi, dai BMH tersebut kepada hidayatullah.com.
Jalan menuju lokasi pendistribusian hewan qurban sangatlah menantang. Kadang harus melintasi laut yang ombaknya juga tinggi-tinggi karena sedang musim angin selatan. Kadang harus berani sendirian melewati jalan di tengah rawa yang banyak buayanya, bersepeda motor ke gunung yang terjal berkerikil tanpa aspal.
Baca: “Ekspedisi Syahadat” Suku Togutil, Ini Cerita di Balik Keberangkatan GPMP
Alhamdulillah, setelah melewati jalur-jalur tersebut, setibanya di lokasi, sambutan masyarakat pun sangat senang. Tokoh masyarakat dan imam masjid setempat sangat senang dengan program qurban kali ini.
Bahkan, di salah satu tempat pendistribusian hewan qurban, Desa Dorosagu yang minoritas Muslim, masyarakat menyatakan bahwa selama 30 tahun, baru kali ini mereka dapat qurban. Sementara di desa minoritas Muslim sekitarnya sudah 10 tahun belum ada qurban lagi.
“Alhamdulillah, kami sangat senang dan berterima kasih adanya qurban ini, karena selama 30 tahun masyarakat di sini baru bisa makan (daging) qurban tahun ini,” kata Pak Arifin, tokoh dan imam masjid masyarakat di Desa Dorosagu.
Masuk Islam
Kebahagiaan ini pun bertambah ketika ada satu keluarga mau masuk Islam di hari H lebaran Idul Adha 1438 H/2017 ini, Jumat (01/09/2017). Mereka; suami, istri, dan anak, masuk Islam dengan ikhlas tanpa paksaan.
Keluarga ini masuk Islam antara lain karena anak perempuannya yang umur 4 tahun sering pakai kerudung. Jika dilepas kerudungnya, anak itu menangis. Akhirnya ayah dan ibunya menyatakan ingin masuk Islam.
Menjelang maghrib, ada lagi salah seorang remaja Suku Togutil yang menyatakan ingin masuk Islam. Subhanallah!
Baca: Bimbing Puluhan Warga Suku Togutil Masuk Islam, Tim Ekspedisi Syahadat Berjalan Kaki
Nurhadi masuk hutan mulai tanggal 29 Agustus 2017 dan keluar hutan pada 5 September kemarin.
Semoga Allah memudahkan jalan dakwah ini kepada kejayaan Islam dengan berbondong-bondongnya orang masuk ke agama ini. Amin!*